BUMI Reborn, BRMS Jadi Mesin Cuan: Bakal Makin Moncer di 2026?

cnbcindonesia.com
1 hari lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Duo saham "ibu-anak" milik duet Grup Bakrie dan Salim, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), mencatatkan pergerakan yang solid sepanjang 2025. Kinerja saham yang ciamik ini ditopang oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap prospek bisnis keduanya yang kian ekspansif memasuki 2026.

Sepanjang 2025, BUMI mulai menunjukkan transformasi yang lebih terarah, tidak lagi semata bergantung pada bisnis batu bara. Strategi diversifikasi, perbaikan struktur keuangan, serta narasi ekspansi ke komoditas lain menjadi katalis yang perlahan mengubah persepsi pasar terhadap saham ini.

Di luar bisnisnya, saham BUMI juga digadang bakal masuk indeks MSCI pada rebalancing Februari mendatang, menyusul anak-nya BRMS yang sudah lebih dulu masuk jadi konstituen salah satu indeks populer global tersebut.

//FMG_Tag - IMPULSE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement('script'); _ContextAdsPublisher.type = 'text/javascript'; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = "cads-generic"; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + '//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=impl'; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName('script')[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag - VIBE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement('script'); _ContextAdsPublisher.type = 'text/javascript'; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = "cads-generic"; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + '//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=vibe'; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName('script')[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag - RC var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement('script'); _ContextAdsPublisher.type = 'text/javascript'; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = "cads-generic"; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + '//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=rc'; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName('script')[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag - expandedFloor var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement('script'); _ContextAdsPublisher.type = 'text/javascript'; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = "cads-generic"; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + '//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=sf'; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName('script')[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter);

Sementara itu, BRMS menjadi sorotan berkat fokus agresif di sektor mineral, khususnya emas. Progres pengembangan proyek, peningkatan kapasitas produksi, hingga prospek kenaikan kontribusi pendapatan membuat BRMS dipandang sebagai mesin pertumbuhan baru dalam grup.

Mari kita ulas satu per satu bagaimana jejak BUMI dan BRMS, serta bagaimana pandangan ke depan, setidaknya pada tahun ini :

BUMI: Reposisi Bisnis dan Perbaikan Fundamental

BUMI sejak tahun lalu semakin menegaskan posisi-nya sebagai perusahaan yang makin terdiversifikasi, kini BUMI bukan pure play batu bara, tetapi sudah merambah ke mineral seperti emas, bauksit, sampai energi terbarukan (EBT).

Salah satu langkah paling strategis adalah akuisisi 100% saham Wolfram Limited di Australia, perusahaan tambang emas dan tembaga, yang resmi rampung pada November 2025. Akuisisi ini menjadi pintu masuk BUMI ke bisnis logam bernilai tambah di luar batu bara.

Baca: Siapa Bilang Saham Danantara Gak Bisa Bagger?

 

Selain itu, BUMI juga memperluas eksposur mineral melalui akuisisi 45% saham PT Laman Mining, perusahaan tambang bauksit. Langkah ini memperkuat narasi transformasi BUMI menjadi perusahaan sumber daya alam yang lebih seimbang, tidak lagi sepenuhnya bergantung pada siklus harga batu bara.

Dari sisi korporasi, proses reorganisasi dan penataan struktur grup terus berjalan, memberikan sinyal perbaikan tata kelola dan arah bisnis yang lebih jelas. Reorganisasi ini turut memperkuat persepsi pasar terhadap keberlanjutan bisnis BUMI dalam jangka menengah hingga panjang.

Pengakuan pasar juga tercermin dari peningkatan status indeks. Sepanjang 2025, BUMI berhasil masuk ke LQ45 dan IDX80, serta menjadi anggota MSCI Small Cap Index.

Tak berhenti sampai disitu, saham BUMI juga digadang bakal naik kelas masuk indeks MSCI Global Standar Indexes pada Februari mendatang. Seiring dengan harga saham-nya yang sudah terbang dan masih bertahan di atas Rp450 per saham.

Sebenarnya syarat untuk masuk MSCI Global Standar Indexes sudah dipenuhi BUMI dengan harga yang bertahan di atas Rp300 per saham. Namun, dengan optimisme pasar yang masih kuat, ditambah transformasi bisnis dan penguatan neraca yang terus berlanjut membuat saham BUMI potensi terbang menuju level Rp500 per saham.

//

Perlu diketahui, saham BUMI itu pernah terbang lebih dari Rp500 per saham pada pertengahan 2017 silam. Namun, pada 2020 terhantam pandemi Covid-19 yang membuat saham-nya ambyar sampai ke level gocap.

Namun, kondisi sekarang sudah beda dengan 2017 lalu, saham BUMI waktu itu naik tanpa kekuatan fundamental, ekuitasnya bahkan minus lebih dari Rp40 triliun, tetapi saat ini neraca sudah semakin kuat, bahkan nilai-nya sudah berbalik lebih banyak daripada minus delapan tahun silam.

Prospek BRMS Setelah Masuk GDX-MSCI

Berikutnya story dari BRMS yang merupakan anak-nya BUMI juga tak kalah menarik. Sejauh ini, BRMS juga merupakan salah satu penyumbang utama dalam pertumbuhan grup.

Salah satu yang disorot dari tahun lalu adalah Proyek Gorontalo Minerals yang diproyeksikan menjadi penggerak pertumbuhan BRMS berikutnya, dengan fokus pada produksi emas dan tembaga. Proyek ini memiliki cadangan tembaga sekitar 1,2 miliar pound dan sumber daya mencapai 2,6 miliar pound, yang secara valuasi setara potensi nilai sekitar US$19 miliar.

Baca: Darma Henwa (DEWA) Buyback Saham Rp429,99 Miliar di Harga Segini

 

Harga emas dan tembaga sepanjang tahun lalu juga bergerak sangat kuat. Emas bahkan sudah beberapa kali menembus All Time High (ATH), pada pertengahan Desember 2025 sempat ke US$ 4.500 per troy ons. Harga tembaga juga tidak kalah dalam hal penguatan, selama setahun terakhir sudah naik lebih dari 34%.

Kenaikan harga emas dan tembaga menjadi double benefit untuk BRMS. Sebagai catatan, pada tahun ini BRMS juga tidak terlalu kena efek pengenaan bea ekspor, karena mayoritas penjualan emas untuk domestik.

Untuk informasi juga, BRMS salah satunya diketahui menjual emas-nya ke PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang merupakan supplier dari bullion bank Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Yang membuat cerita BRMS semakin menarik adalah masuknya saham ini sebagai konstituen salah satu indeks emas paling populer di dunia. BRMS resmi masuk ke indeks VanEck Gold Miners ETF (GDX), sekaligus versi junior-nya, GDXJ.

GDX dan GDXJ merupakan indeks rujukan utama di kalangan pelaku pasar emas global. GDX berisi sekitar 55 emiten tambang emas terbesar dunia, sementara GDXJ dihuni oleh perusahaan tambang emas junior dan mid-tier yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi.

Baca: Free Float Naik 15,91%, Saham PANI Berpeluang Masuk MSCI?

Selain indeks emas, BRMS juga masuk sebagai konstituen MSCI Global Standar Index. Masuknya BRMS ke ETF emas populer dunia dan MSCI menjadi validasi atas transformasi BRMS sebagai emiten emas yang mulai diakui secara global, sekaligus membuka peluang aliran dana institusi asing yang lebih besar ke saham ini.

Harga saham BRMS sampai penutupan Rabu kemarin (7/1/2026) bertengger di Rp1.230 per saham, dalam sehari terkoreksi sekitar 4%, tetapi kalau ditarik lebih panjang, dalam setahun BRMS sudah terbang lebih dari 188%.

//

Melansir data Stockbit, 15 dari 17 analis masih merekomendasikan beli dengan target harga paling optimis mencapai Rp1.400 per saham. Namun, rata-rata target dari berbagai analis sudah tercapai di posisi Rp1.160 per saham.

Meski begitu, secara teknikal saham BRMS masih dalam tren naik, selama tidak patah tren dari MA20 daily atau level sekitar 1.100, saham BRMS masih berpotensi melanjutkan kenaikan.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(mae/mae)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Angel Karamoy Liburan Akhir Tahun ke AS, Destinasi Paling Hits di Negeri Paman Sam
• 13 jam lalugenpi.co
thumb
Presiden Serahkan Bonus Peraih Medali SEA Games 2025, Totalnya Rp 465,25 Miliar
• 19 jam lalumerahputih.com
thumb
Lepas Hijab di Penunggu Rumah Buto Ijo, Celine Evangelista : Mengajarkan Kita Konsekuensi dan Janji
• 2 jam lalugrid.id
thumb
Ikut Panen Raya di Bekasi, Kapolri dan Ketua Komisi IV Komitmen Dukung Ketahanan Pangan
• 21 jam laluokezone.com
thumb
Prospek Positif Industri Semikonduktor 2026, Kebangkitan Analog
• 14 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.