PT Lovina Beach Brewery Tbk (STRK) memfokuskan ekspansi ke pasar ekspor untuk mendorong pertumbuhan pendapatan dan laba bersih pada 2026. Strategi ini ditempuh di tengah tantangan pasar domestik yang masih dibayangi pelemahan daya beli dan perlambatan konsumsi, sehingga manajemen menilai pasar internasional menawarkan ruang pertumbuhan yang lebih besar.
Direktur Utama PT Lovina Beach Brewery Tbk Bona Budhisurya mengatakan target pertumbuhan kinerja 2026 merupakan proyeksi minimal yang ingin dicapai perseroan, dengan kontribusi utama diharapkan berasal dari ekspor.
“Fokus kami adalah memperluas kontribusi ekspor. Pasar internasional memberikan peluang yang lebih luas dibandingkan pasar lokal saat ini,” ujarnya usai peluncuran produk di Bali.
Baca Juga: STRK Gandeng Perusahaan Singapura untuk Garap Pasar Minuman Global
Untuk mendukung strategi tersebut, perseroan memperkenalkan tiga produk baru, yakni COCO BALI di segmen ready to drink (RTD), serta CLARISSA dan LIBARRON di segmen minuman beralkohol premium. Ketiga produk tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan preferensi pasar internasional, khususnya Jepang dan China, serta tengah dijajaki untuk masuk ke Eropa dan Amerika Serikat.
Menurut Bona, kondisi pasar domestik yang masih lemah menjadi salah satu pertimbangan utama perseroan untuk mempercepat ekspansi ke luar negeri. “Ketika pasar lokal melambat, perusahaan perlu mencari sumber pertumbuhan lain. Pasar ekspor menjadi salah satu opsi yang realistis,” katanya.
Sebagai langkah awal penetrasi pasar, Lovina telah menandatangani Letter of Intent dengan Naoyoshi Co., Ltd., perusahaan logistik dan distribusi di Jepang, untuk mendukung pemasaran COCO BALI RTD serta produk spirit lainnya. Jepang dinilai sebagai pasar potensial, terutama untuk kategori RTD yang pertumbuhannya relatif stabil di kawasan Asia Pasifik. Menurut Bona, pangsa pasar yang kecil sekalipun dapat berdampak signifikan terhadap kebutuhan produksi.
Saat ini, fasilitas produksi perseroan di Singaraja memiliki kapasitas sekitar 3.000 botol per jam. Ke depan, kapasitas tersebut direncanakan meningkat secara bertahap hingga mencapai 20.000 botol per jam. Dalam jangka pendek, perseroan memilih memaksimalkan pemanfaatan tenaga kerja lokal dibandingkan investasi besar pada otomatisasi.
Baca Juga: GPSO Siap Geber Transformasi, Mulai Jajaki Pendanaan untuk Ekspansi
“Pendekatan ini memungkinkan kami meningkatkan kapasitas sambil tetap melibatkan tenaga kerja lokal,” ujar Bona.
COCO BALI disiapkan sebagai produk utama di segmen RTD dengan bahan baku coconut kopyor, varian sparkling agave dan golden salak. Bahan baku utama berasal dari perkebunan agave di Nusa Penida, Bali. Bona menilai tren global menunjukkan meningkatnya minat terhadap minuman dengan kadar gula dan alkohol yang lebih rendah, terutama di kalangan konsumen muda.
Sementara itu, CLARISSA dan LIBARRON ditujukan untuk pasar premium di wilayah Amerika, Eropa, dan Meksiko yang memiliki minat terhadap produk craft dengan karakter dan asal-usul yang jelas. Pada tahap awal, perseroan memproyeksikan sekitar 60% pendapatan berasal dari ekspor dan 40% dari pasar domestik, dengan potensi perubahan komposisi seiring realisasi kontrak internasional.
Selain itu, Lovina juga tengah mengembangkan produk spirit berbasis agave dari bahan baku Bali yang masih dalam tahap penjajakan pasar. Sepanjang 2024, perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp29,8 miliar dan berharap ekspansi global dapat menjadi pendorong perbaikan kinerja pada 2026.





