BANDUNG, KOMPAS - Banjir bandang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro atau Sitaro, Sulawesi Utara, dipengaruhi berbagai faktor. Bukan sekadar curah hujan tinggi, minimnya dukungan mitigasi hingga sistem drainase yang tidak ideal diduga ikut memicu bencana berdampak fatal.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Lana Saria, mengatakan, bencana di Sitaro diperkirakan terjadi karena kondisi tanah dan curah hujan yang tinggi.
Namun, kuatnya erosi sungai yang tidak didukung upaya mitigasi dan sistem drainase permukaan yang kurang baik ikut berpengaruh pada terjadinya bencana tersebut.
“Hal itu membuat seluruh air terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor,” katanya, Kamis (8/1/2026), di Bandung.
Banjir bandang di Sitaro terjadi pada Senin (5/1/2026) sekitar pukul 03.00 Wita. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, banjir bandang terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut dalam waktu cukup lama.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, akibat kejadian ini, sebanyak 16 warga meninggal. Enam korban meninggal sudah berhasil teridentifikasi. Adapun proses identifikasi 10 korban lainnya belum rampung.
Banjir bandang juga menimbulkan kerusakan infrastruktur, seperti tujuh rumah hanyut, 29 rumah rusak berat, dan 112 rumah rusak ringan. Sejumlah akses jalan juga dilaporkan terputus.
Lana mengatakan, karena curah hujan masih tinggi, ke depan perlu dilakukan pemantauan jalur sungai dari hulu hingga lokasi terdampak. Hasil pemantauan itu bisa digunakan sebagai rekomendasi lanjutan bagi warga agar tidak berada di daerah rawan.
Selain itu, menurut Lana, sebaiknya dilakukan juga normalisasi sungai hingga peningkatan mitigasi struktural pengaturan keairan dan penahan material di dinding sungai.
“Sebaiknya tidak membangun rumah atau permukiman di bantaran sungai karena melanggar sempadan sungai dan berakibat pada tingginya risiko saat hujan intensitas tinggi,” kata Lana.
Hal itu membuat seluruh air terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor



