Aktor Angga Yunanda kembali ke layar lebar dengan proyek terbarunya yang bertajuk Sebelum Nenek Dijemput. Berbeda dari film Angga sebelumnya yang bergenre drama dan horor, kali ini Angga menjajal genre horor komedi.
Angga mengungkap bahwa ini merupakan pengalaman perdananya bermain dalam film yang memadukan unsur tawa dan horor.
"Alasan pertama aku ambil film ini karena dari premis yang diceritakan oleh Mas Fajar Martha, dia adalah sutradara dan juga penulis di film ini, sangat menarik gitu ya," ujar Angga Yunanda saat berkunjung ke kumparan, Selasa (6/1).
Selain karena cerita, Angga merasa proyek ini adalah wujud dari impian pribadinya.
"Aku jujur punya mimpi yang besar untuk merasakan gimana rasanya punya saudara kembar dan itu bisa ya terjadi di sini gitu meskipun hanya dalam bentuk film," tambah Angga.
Bekerja sama dengan para komika ternama juga menjadi daya tarik tersendiri bagi suami Shenina Cinnamon ini.
"Bisa bermain bersama Mas Dodit, terus ada Bintang Emon, ada Boris Bokir juga gitu, sosok komika yang menurut aku enggak hanya lucu gitu ya tapi intelek gitu. Jadi menurut aku ini kesempatan untuk bisa belajar banyak juga tentang gimana mekanisme berkomedi di sebuah film," jelas Angga.
Angga juga tersentuh dengan latar belakang pembuatan film ini yang ternyata sangat personal bagi sang sutradara, Fajar Martha.
"Ini cerita yang sangat dalam juga bagi Mas Fajar gitu ya karena bisa dibilang ini cerita personal beliau gitu, yang dia tuangkan dalam bentuk film. Bagaimana Mas Fajar mencoba untuk bisa berdamai dengan dirinya dan juga neneknya," ungkap Angga.
Film Sebelum Nenek Dijemput berkisah tentang saudara kembar tak identik, Hesto (Angga Yunanda) dan Akbar (Dodit Mulyanto), yang harus berjuang melawan kematian yang mengincar mereka.
Ketegangan dimulai saat nenek mereka meninggal pada hari dan jam keramat, yakni tanggal 6, bulan 6, jam 6 lewat 6 menit. Mitos film ini menyebut bahwa orang terkasih dari sang nenek akan ikut dibawa ke alam lain.
Hestu (Angga) dan Akbar (Dodit Mulyanto) hanya memiliki waktu tujuh hari untuk menyelamatkan nyawa mereka sembari merefleksikan hubungan keluarga yang sempat retak.
"Menurut aku filmnya jadi bukan hanya horor komedi yang menghibur, tapi aku merasa jauh lebih dalam dari itu," tutup Angga.





