JAKARTA, DISWAY.ID-- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata tidak hanya soal mengisi piring siswa di sekolah.
Di balik distribusi jutaan porsi makanan setiap harinya, program yang baru saja genap berusia satu tahun pada 6 Januari 2026 ini telah menjelma menjadi mesin penggerak ekonomi yang masif dengan menyerap sekitar 2,5 juta tenaga kerja.
BACA JUGA:8 Film Horor Indonesia Tayang Januari 2026 di Bioskop Lengkap Sinopsis, Buto Ijo dan Kuyank Siap Teror Penonton!
BACA JUGA:Tips Pakai Skincare Anti Aging untuk Usia 30 Tahun ke Atas, Jangan Skip Serum!
Angka fantastis ini muncul seiring dengan meledaknya jumlah penerima manfaat yang melampaui target awal. Jika semula pemerintah hanya membidik 6 juta orang di tahun 2025, per hari ini jumlahnya melesat hingga 55,1 juta jiwa.
Dari Dapur hingga Rantai Pasok
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S. Deyang mengungkapkan bahwa "ledakan" penyerapan tenaga kerja ini bersumber dari operasional 19.800 Satuan Pelayanan (SP) atau dapur umum yang tersebar di berbagai wilayah.
Setiap unit dapur menjadi pusat lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal.
BACA JUGA:Intip Tren Skincare 2026: Gak Cuma Glowing, Kulit Awet Muda Jadi Impian
BACA JUGA:6 Contoh Proposal Isra Miraj 2026 Lengkap Biaya Anggaran untuk Masjid dan Sekolah
"Per hari ini, per jam ini, orang yang langsung bekerja di tiap SPPG (Satuan Pelayanan Gizi) berjumlah sekitar 902.000 orang," ucap Nanik dalam keterangannya di SMA 1 Jakarta, Kamis 8 Januari 2026.
Namun, dampak ekonomi tidak berhenti di dalam dapur saja. Ada efek domino yang menyentuh sektor hulu melalui para pemasok bahan baku.
Satu dapur pelayanan diperkirakan membutuhkan 10 hingga 15 supplier untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan segar.
"Artinya, ada sekitar 1,5 juta pekerja tidak langsung yang ikut bergerak mulai hari ini. Jadi totalnya sekitar 2,5 juta orang kembali bekerja setelah libur dua minggu kemarin," ujar Nanik.
Investasi Mitra Capai Rp40 Triliun
- 1
- 2
- »





