Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Jakarta
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mencatat rata-rata lifting minyak bumi sepanjang tahun 2025 berhasil melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Realisasi lifting mencapai 605,3 ribu barel minyak per hari (MBOPD) atau sebesar 100,5 persen dari target awal 605 MBOPD.
Pencapaian ini diungkapkan Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis 8 Januari 2026. Menurutnya, keberhasilan ini menjadi catatan penting karena Indonesia hampir selama 10 tahun terakhir tidak pernah mencapai target lifting yang ditetapkan dalam APBN.
“Target kita di APBN, lifting itu 605 MBOPD. Alhamdulillah mencapai target, bahkan melampaui sekalipun sedikit,” ucap Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis.
Bahlil menyebutkan bahwa terakhir kali pemerintah mencatat peningkatan produksi minyak dan gas bumi yang memenuhi target adalah pada tahun 2016. Setelah periode tersebut, realisasi lifting selalu berada di bawah target hingga akhirnya kembali membaik pada tahun 2025.
Baca Juga: Pemerintah Akan Pangkas Produksi Batu Bara di Tahun 2026
Adapun angka realisasi tersebut sudah mencakup Natural Gas Liquid (NGL) dan kondensat dari PT Donggi Senoro LNG. Bahlil menyampaikan rasa syukurnya atas pencapaian yang dinilai tipis namun sangat berarti bagi ketahanan energi nasional ini.
Berbeda dengan minyak bumi, rata-rata lifting gas bumi pada tahun 2025 dilaporkan belum memenuhi target APBN. Realisasi lifting gas bumi berada di angka 951,8 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD), sementara target yang ditetapkan sebesar 1.005 MBOEPD. Rendahnya angka ini juga dipengaruhi oleh penghitungan NGL yang sudah dimasukkan ke dalam porsi lifting minyak bumi.
Meski lifting gas berada di bawah target, Bahlil menekankan bahwa Indonesia berhasil menghindari impor LNG (Liquefied Natural Gas) sepanjang tahun 2025. Hal ini menjadi prestasi tersendiri mengingat pada awal tahun sempat muncul rencana impor sebanyak 40 hingga 50 kargo akibat eskalasi permintaan domestik yang melonjak tajam.
Pemerintah mengambil langkah tegas untuk mengatasi defisit LNG dengan menunda sejumlah kargo ekspor ke tahun 2026 demi mengutamakan kebutuhan dalam negeri. Langkah diplomasi dan pengaturan ulang kontrak ekspor ini dilakukan karena pasar domestik kini sudah mampu menyerap produksi yang sebelumnya dialokasikan untuk pasar luar negeri.
Berkat kerja keras jajaran Kementerian ESDM dan pemangku kepentingan terkait, Indonesia dipastikan tetap mandiri tanpa melakukan impor gas selama tahun 2025. Pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga keseimbangan antara produksi dan konsumsi energi nasional di tahun-tahun mendatang.
Editor: Redaktur TVRINews





