Becak yang ditumpangi Romanda Capriati Siregar (33) bersama anaknya, Asmi Anggraini (4), terpaksa berhenti karena tawuran antarkampung di Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara, Senin (5/1/2026). Asmi tiba-tiba menangis karena matanya tertembak. Tembakan diduga berasal dari senapan angin pelaku tawuran.
Kisah balita tertembak di mata dan tawuran yang berulang menjadi gambaran kerasnya hidup di kawasan Pelabuhan Belawan, sebagaimana sejumlah kota pelabuhan lain di Indonesia. Warga hidup di kawasan yang diwarnai kemiskinan, kekerasan, daerah kumuh, tanpa hukum yang jelas, anarkistis, dan banyaknya anak putus sekolah.
"Kota-kota pelabuhan di Indonesia selalu menjadi potret ketimpangan pembangunan. Kawasan pelabuhan mempunyai aset ekonomi yang besar, tetapi masyarakatnya menghadapi kehidupan yang keras," kata Kepala Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) Universitas Negeri Medan Majda El Muhtadj, Kamis (8/1/2026).
Kehidupan Romanda adalah gambaran hidup sebagian besar warga di kawasan Pelabuhan Belawan yang berada di pesisir utara Kota Medan itu. Dia hidup di daerah padat penduduk di Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan.
Suami Romanda bekerja sebagai anak buah kapal nelayan dengan upah Rp 75.000 per hari. Suaminya pulang ke darat dua pekan sekali. Romanda dulu pernah bekerja sebagai buruh harian lepas di pabrik-pabrik. Setelah berkeluarga dan usianya semakin tua, pabrik tidak menerimanya bekerja lagi.
Sebagai warga Belawan, Romanda tidak terkejut lagi saat berhadapan dengan tawuran. Becak yang ia tumpangi berhenti sesaat ketika berhadapan dengan tawuran di Jalan Stasiun, jalan menuju Pelabuhan Belawan, Senin (5/1/2026).
Puluhan pelaku tawuran berhadap-hadapan membawa kelewang, balok kayu, dan batang besi yang diseret di atas aspal. Mereka juga saling melempar batu. Romanda awalnya tidak panik karena tawuran sudah seperti "makanan sehari-hari" bagi warga kawasan Belawan.
Namun, anaknya tiba-tiba menangis. Darah mengucur tanpa henti dari mata anak itu. Peluru diduga dari senapan angin yang menyasar ke mata Asmi.
Menurut Majda, kisah anak tertembak peluru dan tawuran berulang adalah puncak gunung es dari persoalan sosial yang dihadapi Belawan sebagai kota pelabuhan. Kelompok rentan, yakni mereka yang miskin, perempuan, anak, warga lanjut usia, dan penyandang disabilitas menjadi korban dari ketimpangan pembangunan.
Belawan merupakan salah satu motor penggerak ekonomi tidak hanya untuk Medan. Pelabuan Belawan adalah pelabuhan ekspor dan impor untuk kawasan Sumatera bagian utara. Kawasan itu juga ditopang oleh kawasan industri dan pergudangan di sekitarnya.
Majda menyebut, pemerintah harus membuat peta jalan pembangunan Belawan sebagai sebuah kota pelabuhan yang lebih beradab. Ekonomi di pelabuhan jangan hanya menyejahterakan segelintir orang. "Pelabuhan dan aset lainnya harus menjadi kekayaan ekonomi sebuah daerah, bukan menjadi sumber bencana yang melahirkan persoalan sosial," katanya.
Majda menambahkan, jika dilihat kasat mata, anak-anak putus sekolah sangat tinggi di kawasan Belawan. Sekolah formal gagal menjadi fondasi pendidikan di kawasan pelabuhan itu. Jika pendidikan formal menghadapi kendala, pendidikan informal harusnya bisa dikedepankan.
Pendekatan pembangunan di kawasan pelabuhan, menurut Majda, tidak bisa disamakan dengan pembangunan di daerah lainnya. Kawasan pelabuhan memiliki karakteristik unik dibanding kawasan lainnya.
Pemerintah juga harus membuka ruang partisipasi seluas-luasnya bagi masyarakat. Namun, yang terjadi, pembangunan kawasan Belawan hanya mengemuka saat kampanye pemilihan kepala daerah dan pemilihan umum, tetapi lalu warga seolah dilupakan setelah pemilihan usai.
Majda menyebut, Indonesia bisa belajar pada Afrika Selatan yang berhasil mengubah kota pelabuhan yang keras menjadi kota yang meletakkan hak asasi manusia sebagai prinsip pembangunan.
"Di Afrika Selatan, ada kota pelabuhan bernama Durban. Ini pelabuhan tersibuk di Afrika, tetapi suasana kotanya egaliter, besih, menghormati hak perempuan, dan anak," kata Majda.
Saat berkunjung, kata Majda, dirinya merasakan Kota Durban dibangun sebagai kota yang menghormati kelompok rentan. Kota itu juga dikenal sebagai tempat rekreasi di akhir pekan dengan taman rekreasi yang memadai.
Hal itu berbeda jauh dengan sejumlah kota pelabuhan di Indonesia yang sangat keras tanpa ruang terbuka hijau, taman, dan tempat rekreasi. Kawasan permukimannya juga langganan rob. Lingkungan di permukimannya kumuh, tidak sehat, serta akses pendidikan sulit.
Wali Kota Medan Rico Waas menjenguk Asmi di RS Universitas Sumatera Utara (USU). Rico menyebut, dirinya berkomitmen untuk memastikan Asmi mendapatkan penanganan medis yang maksimal.
"Atensi saya jelas. Pastikan (Asmi) dilayani sebaik mungkin, dirawat dengan layak, dan mendapatkan pelayanan terbaik," kata Rico dalam unggahannya di media sosial.
Komitmen Rico membangun kawasan Medan Belawan pun dinanti oleh publik. Jika tidak, Belawan akan terus menghadapi persoalan sosial yang sama, yakni tingginya angka putus sekolah, tawuran berulang, maraknya kriminalitas, dan kekerasan.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Belawan Ajun Komisaris Agus Purnomo mengatakan, pihaknya telah mengantongi identitas pelaku penembakan itu. Polisi akan menindak pelaku dan berupaya mencegah tawuran terjadi lagi.
Kasus tawuran di Medan masih terus berulang dan sering memakan korban. Pada 25 November 2022, misalnya, saat Hari Guru, tawuran menewaskan siswa SMK Negeri 9 setelah dibacok siswa sekolah lain. Pada 4 Mei 2025, seorang remaja bernama Muhammad Suhada (15) tewas ditembak Kepala Polres Belawan Ajun Komisari Besar Oloan Siahaan saat pengamanan tawuran di Jalan Tol Belawan-Medan-Tanjung Morawa.
Tawuran menjadi puncak gunung es dari permasalahan sosial di kawasan Medan Belawan dan akan selalu berulang jika akar persoalan tidak diselesaikan.
Asmi masih terbaring di instalasi gawat darurat RS USU. Ia menunggu operasi penangkatan peluru yang masih bersarang di mata kanannya. Asmi, anak nelayan yang terimpit kemiskinan, ketimpangan ekonomi, dan kekerasan itu menjadi gambaran kerasnya kehidupan di kawasan Belawan.

