Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Penerimaan pajak tahun 2025 tercatat sebesar Rp 1.917,6 triliun, mengalami defisit Rp 271,7 triliun akibat tekanan ekonomi pada awal tahun.
Kementerian Keuangan melaporkan bahwa realisasi penerimaan pajak sepanjang tahun 2025 gagal mencapai target yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Tekanan ekonomi yang signifikan pada paruh pertama tahun ini menjadi pemicu utama timbulnya celah fiskal (shortfall) yang cukup lebar.
Berdasarkan data resmi pemerintah, total setoran pajak hingga akhir Desember 2025 terkumpul sebanyak Rp 1.917,6 triliun. Angka tersebut hanya memenuhi 87,6% dari target yang dipatok sebesar Rp 2.189,3 triliun.
Baca Juga: Menkeu Purbaya: Defisit APBN 2025 Tercatat Rp 695,1 Triliun atau 2,92% PDB
Perbandingan dengan Tahun Sebelumnya
Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, mengungkapkan bahwa pencapaian tahun ini menunjukkan tren penurunan jika dibandingkan dengan performa tahun 2024 yang berhasil membukukan angka Rp 1.931,6 triliun.
"Minus 0,7% jadi di bawah 2024," ujar Suahasil dalam konferensi pers mengenai realisasi APBN 2025 di Jakarta, Kamis 8 januari 2026.
Penurunan performa ini berakar pada kontraksi tajam yang terjadi di berbagai sektor pada semester pertama.
Namun, pemerintah mencatat adanya momentum pemulihan yang cukup progresif memasuki paruh kedua tahun ini. Berikut adalah rincian kinerja berdasarkan kategori pajak:
• PPh Badan: Terpuruk 10,4% pada semester I, namun bangkit dengan pertumbuhan 2,3% di semester II, hingga mencapai total Rp 321,4 triliun.
• PPh Orang Pribadi & PPh 21: Mengalami tekanan hebat sebesar minus 19,4% di awal tahun, sebelum akhirnya melonjak 17,5% pada semester II dengan realisasi Rp 248,2 triliun.
• PPN & PPnBM: Sempat terkoreksi 14,7%, kategori ini berbalik tumbuh 2,1% pada paruh kedua dengan total setoran Rp 790,2 triliun.
• Pajak Lainnya (PPh Final, 22, & 26): Mencatat total Rp 345,7 triliun setelah sempat terkontraksi di angka 4% pada awal periode.
Tantangan di Paruh Pertama
Meskipun terjadi perbaikan di akhir tahun, beratnya beban ekonomi pada enam bulan pertama tidak cukup terkompensasi oleh pertumbuhan di semester kedua.
Suahasil menegaskan bahwa fluktuasi ini merata di hampir seluruh lini perpajakan.
"Semuanya begitu, di semester satu tekanannya cukup tinggi," tambahnya.
Kegagalan mencapai target ini menjadi perhatian serius bagi otoritas fiskal dalam menentukan arah kebijakan pajak di tahun mendatang, terutama dalam memperkuat basis penerimaan guna menjaga stabilitas keuangan negara.
Editor: Redaktur TVRINews



