JAKARTA, KOMPAS.com — Upaya masif membangun tanggul pantai, sistem polder, hingga pompa raksasa untuk menahan banjir di Jakarta dinilai tidak akan efektif apabila persoalan mendasar berupa penurunan muka tanah terus dibiarkan.
Penurunan tanah yang berlangsung secara perlahan namun konsisten membuat daratan Jakarta semakin rendah, sementara infrastruktur pengendali banjir yang dibangun berisiko kalah cepat dibandingkan laju amblesnya tanah.
Kondisi ini dinilai menjadi ancaman jangka panjang bagi keselamatan wilayah pesisir dan pusat aktivitas Ibu Kota.
Baca juga: BRIN: Penurunan Muka Tanah Naikkan Risiko Banjir Jakarta Lebih dari 40 Persen
Peneliti Ahli Madya pada Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air–Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yus Budiyono, menegaskan penghentian penurunan muka tanah harus menjadi prasyarat utama sebelum pemerintah berbicara lebih jauh mengenai efektivitas infrastruktur pengendali banjir.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=Penurunan muka tanah, indepth, penurunan muka tanah jakarta, penyebab penurunan muka tanah, in depth, penyebab penurunan muka tanah di jakarta&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wOC8xNTM5MTI1MS9hbmNhbWFuLWFtYmxlc2FuLXRhbmFoLWpha2FydGEtcGFrYXItbmlsYWktaW5mcmFzdHJ1a3R1ci1iYW5qaXItYmlzYQ==&q=Ancaman Amblesan Tanah Jakarta, Pakar Nilai Infrastruktur Banjir Bisa Kalah Cepat§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `“Kalau land subsidence-nya tidak dihentikan, ya percuma kita bikin infrastruktur apapun mau tanggul, mungkin rumah-rumah juga akan terdampak karena rumahnya nanti akan miring, akan retak, dan lain-lain,” kata Yus saat dihubungi Kompas.com, Selasa (6/1/2026).
Menurut Yus, strategi pengendalian banjir Jakarta harus dimulai dari penghentian penurunan muka tanah secara menyeluruh.
“Jadi saya kira menghentikan land subsidence atau menyediakan air baku 100 persen termasuk untuk perkantoran, perhotelan, dan lain-lain, itu sebuah syarat kalau pemerintah ingin mengatasi banjir,” tutur dia.
Ia menambahkan, persoalan tersebut tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah daerah.
“Dan itu kalau untuk Jakarta ya bukan pekerjaan pemerintah lokal, bahkan di pantura kota lain juga ternyata tidak bisa dihandal oleh pemerintah lokal sendiri karena pemerintah lokal itu kan uangnya kecil," kata dia.
Baca juga: Tanah Jakarta Terus Turun, Kerugian Ditaksir Rp 2,9 Triliun per Tahun
Laju penurunan tanah Jakarta UtaraYus memaparkan gambaran umum kondisi penurunan muka tanah di wilayah pesisir utara Jakarta yang hingga kini masih terus berlangsung dengan kecepatan yang bervariasi.
“Yang pertama, gambaran land subsidence di Jakarta itu kalau melihat kecepatannya kalau saya rata-rata di seluruh Jakarta bagian utara itu rata-ratanya 3,5 cm per tahun,” kata Yus.
“Tapi mungkin kalau nilai yang paling sering muncul itu kira-kira ya 15 cm per tahun sedangkan di tempat yang paling parah itu penurunannya sampai 28 cm per tahun,” lanjutnya.
Menurut Yus, penurunan muka tanah menjadi faktor paling dominan dalam meningkatkan risiko banjir di Jakarta jika dibandingkan dengan faktor lainnya.
“Yang kedua, ini menarik. Kalau kami membandingkan beberapa entitas yang mempengaruhi risiko banjir di Jakarta dari 4 entitas yang kami perhatikan yang penurunan muka tanah (land subsidence) itu pengaruhnya paling besar. Dia menaikkan risiko sampai 40%, di atas 40%,” jelas dia.
Ia menekankan bahwa dampak penurunan tanah tidak hanya berkaitan dengan banjir rob.
“Kemudian, penurunan muka tanah ini tidak hanya mempengaruhi banjir rob atau banjir yang datangnya dari laut, tapi juga banjir yang berasal dari luapan air sungai atau banjir yang langsung berasal dari hujan langsung,” ujar Yus.
Baca juga: Data BKAT Ungkap Jakarta Terus Ambles, Penurunan Tanah Capai 5,7 Cm per Tahun
Banjir rob, hujan lokal, dan banjir kirimanYus merinci tiga jenis banjir utama yang kerap melanda Jakarta dalam beberapa tahun terakhir.
“Istilahnya, kalau banjir dari laut itu banjir rob (coastal flooding), kalau banjir karena presipitasi langsung seperti 1 Januari 2020 atau beberapa event di sepanjang 2025 kemarin, ada 3 event besar,” kata Yus.
“Yang pertama, Maret. Yang kedua, Juli. Yang ketiga, Oktober 2025 Itu dominasi dari hujan lokal itu besar,” tambahnya.
Selain itu, terdapat pula banjir kiriman yang selama ini menjadi fokus kesiapsiagaan pemerintah daerah.
“Yang ketiga adalah banjir yang lebih sering diantisipasi oleh pemerintah daerah dengan siaga 1234, yaitu banjir kiriman yang berasal dari Bogor atau dari Apleng,” ucap dia.




