Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat produksi batu bara mencapai 790 juta ton sepanjang 2025.
Angka tersebut jauh melampaui target produksi 2025 yang sebelumnya ditetapkan sebesar 739,6 juta ton.
Baca Juga
- RI Pangkas Produksi Batu Bara jadi Sekitar 600 Juta Ton pada 2026
- Wacana Bea Keluar Batu Bara, Pengamat: Biaya Produksi Perlu Diperhitungkan
- APBI Minta Tarif Bea Keluar Batu Bara Pertimbangkan Sensitivitas Harga
Namun, realisasi produksi batu bara pada 2025 tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan realisasi pada 2024 yang mencapai 836 juta ton.
"Total produksi batu bara kita pada 2025 sebesar 790 juta ton," ucap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Dia memerinci, pemanfaatan batu bara itu mayoritas untuk ekspor, yakni 65,1% atau 514 juta ton. Sementara itu, 32% atau 254 juta ton untuk kebutuhan domestik.
Adapun, sebesar 2,8% atau 22 juta ton sisanya masih menjadi stok. Bahlil juga mengklaim semua kebutuhan kewajiban pasar domestik atau domestic market obligation (DMO) pada 2025 terpenuhi.
"Ekspor kita 65,1% dan domestik 32%. Untuk DMO semua tercapai," kata Bahlil.
Lebih lanjut, Bahlil menuturkan, pemerintah bakal memangkas produksi batu bara menjadi di level sekitar 600 juta ton pada tahun ini.
Menurutnya, pemangkasan produksi itu dilakukan demi menjaga harga di level global. Dia menuturkan, batu bara yang diperdagangkan secara global mencapai 1,3 miliar ton per tahun.
Menurutnya, dari jumlah tersebut Indonesia berkontribusi sekitar 514 juta ton. Indonesia, kata Bahlil, memiliki peran penting dalam industri emas hitam dunia. Oleh karena itu, pemangkasan produksi batu bara dari Indonesia diharapkan bisa mengerek harga.
"Supaya harga bagus dan tambang ini juga kita harus wariskan kepada anak cucu kita. Jadi jangan cara berpikir kita mengelola sumber daya alam itu seolah-olah harus selesai semua sekarang," ucap Bahlil.




