Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan sepanjang 2025 kapasitas terpasang pembangkit di Indonesia bertambah 7 GigaWatt (GW) atau 7.000 MegaWatt. Total kapasitas pembangkit saat ini mencapai 107,51 GW, tumbuh 6,8 persen dibandingkan dengan tahun 2024.
Dari total tersebut, menurut Bahlil, porsi kenaikan energi baru terbarukan (EBT) dari penambahan kapasitas terpasang 7 GW tersebut hanya 1,1 persen.
“EBT kita di 2024 itu 14,65 persen, 2025 itu 15,75 persen. Penambahan EBT sebesar 1,1 persen,” kata Bahlil di Kantor ESDM, Jakarta, Kamis (8/1).
“Sebenarnya kita penambahan EBT ini cukup besar di tahun 2025. Tapi kalau dikonversi menjadi persentase karena ada penambahan 7 gigawatt dari gas dan batu bara maka persentasenya menjadi turun,” sambungnya.
Dalam paparan Bahlil, dijelaskan kapasitas terpasang pembangkit EBT pada tahun 2025, yang total kapasitasnya mencapai 15.630 MW. Kapasitas terbesar berasal dari pembangkit listrik tenaga air (7.587 MW), diikuti oleh panas bumi (2.744 MW), bioenergi (3.148 MW), dan surya (1.494 MW).
Sementara pembangkit dari sumber gasifikasi sampah dan batu bara masing-masing memiliki kapasitas sebesar 36 MW dan 450 MW.




