Oleh: Imran Juna
Dalam dunia manajemen modern, ada sebuah adagium klasik: “Culture eats strategy for breakfast”. Sehebat apa pun strategi pembangunan yang disusun di atas kertas, ia akan layu jika dijalankan oleh organisasi yang kaku, terkotak-kotak oleh ego sektoral, dan minim kolaborasi.
Menyadari hal ini, Bupati Takalar, Daeng Manye, mengambil langkah progresif dengan menggelar Kemah Team Building bagi Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama dan Camat di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Takalar pada awal tahun 2026.
Kegiatan ini bukan sekadar relaksasi di alam terbuka, melainkan sebuah “Masterstroke” kepemimpinan untuk membangun fondasi birokrasi yang lebih cerdas dan tangguh.
Meruntuhkan Tembok Silo Birokrasi
Penyakit kronis dalam pemerintahan sering kali adalah “siloisasi” kondisi di mana antar-Dinas dan pihak Kecamatan bekerja sendiri-sendiri tanpa sinkronisasi. Masalah kemiskinan, stunting, hingga optimalisasi sektor pertanian tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu instansi.
Melalui kemah ini, Daeng Manye melakukan sinkronisasi antara “Hulu” (Kepala Dinas sebagai perumus kebijakan) dan “Hilir” (Camat sebagai eksekutor wilayah). Di bawah naungan tenda dan api unggun, protokol kaku birokrasi mencair, memungkinkan terjadinya komunikasi yang jujur dan setara. Inilah langkah awal menciptakan ekosistem pemerintahan yang kohesif, di mana setiap denyut nadi kebijakan di kabupaten terasa hingga ke pelosok desa.
Laboratorium Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah
Daya tarik utama dari kegiatan ini adalah pergeseran peran peserta dari sekadar “pendengar instruksi” menjadi “arsitek solusi”. Daeng Manye mendesain retret ini sebagai laboratorium inovasi yang berbasis pada realita lapangan.
Para pimpinan ditantang untuk berpikir kritis melalui metode paparan masalah yang transparan. Ketika seorang Camat memaparkan kendala layanan administrasi atau masalah infrastruktur di wilayahnya, para Kepala Dinas tidak lagi melihatnya sebagai keluhan, melainkan sebagai data mentah untuk dibedah. Di sinilah “Critical Thinking” bekerja:
Memahami Masalah: Peserta diajak menggali akar masalah, bukan sekadar melihat gejala.
Sinergi Ide: Terjadi dialektika antara regulasi yang dimiliki Dinas dengan fakta lapangan yang dihadapi Camat.
Solusi Inovatif: Lahirlah terobosan yang aplikatif karena disusun bersama oleh mereka yang memiliki otoritas kebijakan dan mereka yang menguasai teritorial.
Mengawal Target Ambisius dengan Resiliensi
Menetapkan target pertumbuhan pendapatan sebesar 20% adalah tantangan yang sangat ambisius. Namun, Daeng Manye memahami bahwa target besar memerlukan energi besar. Tanpa tim yang solid, angka tersebut hanyalah beban. Melalui team building ini, target fiskal dikonversi menjadi misi kolektif.
Kegiatan ini adalah investasi jangka panjang. Biaya yang dikeluarkan untuk membangun tim yang harmonis jauh lebih kecil dibandingkan kerugian akibat koordinasi yang buruk di masa depan. Takalar sedang membangun Organizational Resilience (ketangguhan organisasi), di mana setiap pimpinannya memiliki mentalitas “pembelajar” yang siap beradaptasi dengan segala dinamika zaman.
Penutup: Sebuah Warisan Tata Kelola
Melalui Kemah Inovasi ini, Daeng Manye sedang mengirimkan pesan kuat: bahwa kejayaan Takalar tidak hanya dibangun dengan aspal dan beton, tetapi juga dengan rasa saling percaya, komunikasi yang lancar, dan keberanian untuk berpikir di luar kotak.
Ini bukan hanya tentang berkemah; ini tentang menyatukan hati dan pikiran para pemimpin Takalar agar bergerak dalam satu irama. Di bawah kepemimpinan Daeng Manye, kita sedang menyaksikan lahirnya birokrasi yang tidak hanya bekerja keras, tetapi bekerja dengan cerdas untuk rakyat.




