Bencana alam yang melanda Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara meninggalkan duka yang mendalam. Dalam sekejap, kehidupan berubah dan banyak nyawa tidak dapat diselamatkan.
Rumah-rumah hancur, fasilitas umum rusak, dan ribuan warga terdampak. Hari-hari dijalani dalam keterbatasan. Sementara proses evakuasi dan pencarian masih terus berlangsung, petugas dan relawan hadir bekerja dalam diam menjaga asa di tengah kepiluan.
Namun di tengah duka yang menyelimuti, kepedulian dan solidaritas tumbuh menjadi kekuatan. Bantuan berdatangan dari berbagai penjuru negeri menguatkan mereka yang bertahan. Hal ini karena meski bencana datang tanpa peringatan, harapan untuk bangkit selalu menemukan jalannya.
Semua partai politik memiliki narasi dan klaim keberpihakan pada rakyat, tapi tidak semuanya mampu menerjemahkannya menjadi kerja nyata. Di usia yang ke-19, Partai Hanura memilih untuk tidak merayakan dan juga menselebrasi begitu mewah, tapi hadir ketika negara dibutuhkan.



