Derita Warga Tambora 2 Bulan Tanpa Air PAM, Mandi-Cuci Susah

kompas.com
20 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Warga di permukiman padat penduduk RT 03 RW 03 Kelurahan Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat, mengeluhkan krisis air bersih yang berkepanjangan akibat layanan air PAM Jaya yang dilaporkan mati selama hampir dua bulan.

Kondisi ini membuat aktivitas warga terganggu, mulai dari mandi, mencuci, hingga memasak dan memaksa para warga harus merogoh kocek lebih dalam demi memenuhi kebutuhan air bersih.

Baca juga: Air PAM Mati Hampir Dua Bulan, Warga Jembatan Besi Terpaksa Beli Air Jeriken

Minta air mushala

Harjani (64), warga yang sudah tinggal lebih dari 20 tahun di lokasi tersebut, menceritakan betapa sulitnya memenuhi kebutuhan sanitasi harian selama layanan air bersih mati.

Untuk sekadar mandi dan mencuci piring, ia terpaksa mengandalkan kebaikan pengurus mushala di depan rumahnya untuk menggunakan air tanah dari sana.

Harjani pun membentangkan selang panjang dari kran tempat wudhu mushala menuju kamar mandi pribadinya setiap hari.

var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=air pam mati, air pam mati jakarta, air pam mati tambora&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wOS8wNjI3NTMzMS9kZXJpdGEtd2FyZ2EtdGFtYm9yYS0yLWJ1bGFuLXRhbnBhLWFpci1wYW0tbWFuZGktY3VjaS1zdXNhaA==&q=Derita Warga Tambora 2 Bulan Tanpa Air PAM, Mandi-Cuci Susah§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `
${response.judul}
Artikel Kompas.id
`; document.querySelector('.kompasidRec').innerHTML = htmlString; } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } }); xhr.open("GET", endpoint); xhr.send();

"Sudah satu bulan lebih (air mati), hampir dua bulan. Untung saya ada air mushala di depan rumah, nyelang (pakai selang) gitu ya," ujar Harjani saat ditemui Kompas.com di lokasi, Kamis (8/1/2025)

Harjani menambahkan biaya listrik di mushala sebagai imbalan atas air bersih tersebut.

Namun, untuk kebutuhan memasak, Harjani tidak berani menggunakan air tanah mushala dan harus mengeluarkan biaya ekstra setiap harinya untuk membeli air bersih dari pedagang keliling.

"Tiap hari beli air saja. Sehari dua pikul, dua pikul. Itu untuk masak. Kalau mandi dan cuci piring kan nyelang dari mushala," tuturnya.

Baca juga: PAM Jaya Bakal Telusuri Ulang Penyebab Air di Jembatan Besi Mati 2 Bulan

Air berbau tak sedap

Warga menduga gangguan pasokan air ini berkaitan dengan adanya proyek galian jalan di sekitar permukiman mereka dalam dua bulan terakhir.

Sebelum mati total, Harjani menyebut air sempat mengalir dengan volume yang sangat kecil.

"Sempat mati total sebulan. Terus keluar lagi paling dua ember, habis itu enggak keluar lagi," kata Harjani.

Tak hanya itu, Harjani juga menyebut air yang keluar dari saluran PAM Jaya pernah kotor dan berbau.

"Kecil jalannya (air), entar mati nyala, mati nyala. Keluar airnya itu butek, terus bau got. Padahal air PAM," tambah dia.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-for-outstream'); });
.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
LazyLoadSlot("div-gpt-ad-Zone_OSM", "/31800665/KOMPAS.COM/news", [[300,250], [1,1], [384, 100]], "zone_osm", "zone_osm"); /** Init div-gpt-ad-Zone_OSM **/ function LazyLoadSlot(divGptSlot, adUnitName, sizeSlot, posName, posName_kg){ var observerAds = new IntersectionObserver(function(entires){ entires.forEach(function(entry) { if(entry.intersectionRatio > 0){ showAds(entry.target) } }); }, { threshold: 0 }); observerAds.observe(document.getElementById('wrap_lazy_'+divGptSlot)); function showAds(element){ console.log('show_ads lazy : '+divGptSlot); observerAds.unobserve(element); observerAds.disconnect(); googletag.cmd.push(function() { var slotOsm = googletag.defineSlot(adUnitName, sizeSlot, divGptSlot) .setTargeting('Pos',[posName]) .setTargeting('kg_pos',[posName_kg]) .addService(googletag.pubads()); googletag.display(divGptSlot); googletag.pubads().refresh([slotOsm]); }); } }

Hal senada diungkapkan Irwan (40), tetangga Harjani yang bahkan pernah mencium bau menyengat menyerupai bahan bakar pada air PAM beberapa bulan silam.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Saat Ringkasan AI Google Keliru soal Tahun 2026
• 12 jam lalukompas.id
thumb
Wamendagri Wiyagus Datangi Sekolah Rakyat Minahasa, Tekankan Semangat Belajar
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Terekam CCTV! Emak-Emak Pemilik Toko Gagalkan Aksi Pencurian Gas Elpiji 3 Kg | BERUT
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Kasus Kematian Arya Daru Dihentikan, Polda Metro Jaya tak Temukan Bukti Pidana
• 16 jam lalumerahputih.com
thumb
Roster Kesatria Bengawan Solo untuk IBL 2026
• 6 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.