Harga Emas Naik Lagi, Tapi Ada Dua "Badai" di Depan yang Bikin Ngeri

cnbcindonesia.com
21 jam lalu
Cover Berita
Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas bangkit dengan menguat pada perdagangan Kamis, Namun, pasar emas menghadapi dua ancaman ke depan yakni rilis data nonfarm payrolls dan pengangguran Amerika Serikat (AS) serta "badai" rebalancing.

Data ini sangat penting dan dinilai krusial untuk membaca arah kebijakan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed). Di sisi lain, tekanan jangka pendek dari proses penyesuaian indeks komoditas global masih menahan laju penguatan logam mulia.

Harga emas ditutup di posisi US$ 4478,27 per troy ons atau menguat 0,58% pada perdagangan Kamis (8/1/2025). Penguatan ini menjadi kabar baik setelah harga emas ambruk 1% pada Rabu.

Emas masih melemah pada hari ini. Pada Jumat (9/1/2025) pukul 06.31 WIB, harga emas melemah 0,07% ke US$ 4475,04 per troy ons.

Pasar komoditas tengah menghadapi rebalancing tahunan di mana ada penyesuaian bobot komoditas agar tetap selaras dengan kondisi pasar terkini. Proses ini kerap memicu volatilitas jangka pendek, terutama pada emas dan perak.

"Untuk beberapa sesi ke depan akan ada tekanan pada emas dan perak selama penyesuaian indeks komoditas berlangsung," kata Bob Haberkorn, senior market strategist di RJO Futures, kepada Reuters.

"Setelah situasi mereda hingga pertengahan pekan depan, itu akan menjadi peluang bagus bagi posisi long untuk kembali masuk ke pasar ini."imbuhnya.

Fokus investor kini tertuju pada data nonfarm payrolls AS yang akan dirilis hari ini, Jumat. Jajak pendapat Reuters memperkirakan penambahan 60.000 lapangan kerja pada Desember, lebih rendah dibanding 64.000 pada November. Tingkat pengangguran diproyeksikan turun tipis ke 4,5% dari 4,6%.

Baca: Harga Nikel Terbang, Deretan Perusahaan "Sultan" RI Ini Panen Cuan

 

Ekspektasi tersebut memperkuat pandangan bahwa tekanan di pasar tenaga kerja AS mulai mereda. Saat ini, pasar memperkirakan adanya dua kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed sepanjang tahun ini. Ini sejalan dengan sentimen yang secara historisnya mendukung kinerja emas sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding).

Data terbaru juga menunjukkan klaim pengangguran AS meningkat moderat pekan lalu. Sebelumnya, laporan JOLTS mencatat jumlah lowongan kerja turun lebih besar dari perkiraan pada November, sementara pertumbuhan payroll sektor swasta Desember berada di bawah proyeksi analis.

Dari sisi geopolitik, ketegangan global tetap menjadi faktor penopang harga emas dalam jangka menengah. Amerika Serikat dilaporkan menyita dua kapal tanker minyak yang terkait Venezuela di Samudra Atlantik, sementara dinamika geopolitik lainnya terus menambah ketidakpastian global.

Sejalan dengan itu, HSBC memperkirakan harga emas berpotensi menembus US$5.000 per ons pada paruh pertama 2026, didorong oleh risiko geopolitik yang berkelanjutan serta meningkatnya beban utang fiskal global.


(mae/mae)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Wali Kota Makassar Resmikan Pabrik Pengolahan Aspal PT Tuju Wali Wali
• 15 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Climate Rights Kritik Sikap Abai Pemerintahan Trump terhadap Krisis Iklim
• 12 jam lalukatadata.co.id
thumb
Lima Wakil Indonesia Siap Berlaga di Perempat Final Malaysia Open 2026, Jonatan dan Fajar/Fikri Jadi Andalan
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Video: IHSG Tembus 10.000 ukan Hal Sulit, Ini Katalis Pendukungnya!
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Eks Menag Yaqut Jadi Tersangka Kasus Kuota Haji, Ini Kata KPK soal Penahanannya
• 11 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.