Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diprediksi rawan terkoreksi pada perdagangan saham pada Jumat (9/1). Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memprediksi IHSG melanjutkan tren negatif usai mencetak rekor pada perdagangan saham Kamis (8/1).
Ia memperkirakan saat ini posisi IHSG berada pada bagian dari wave (v) dari wave [iii], sehingga berpeluang menguat ke rentang 9.030–9.077.
“Waspadai akan adanya koreksi yang diperkirakan menguji 8.843-8.904,” tulis Herditya dalam risetnya, Jumat (9/1).
MNC Sekuritas menetapkan support IHSG berada di 8.916 dan 8.776. Sementara resistance terdekat berada di 8.996 dan 9.030.
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness sejumlah saham. Misalnya PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) akumulasi beli di rentang Rp 1.530–Rp 1.600 dengan target harga di Rp 1.745–Rp 1.880, sementara level stoploss di bawah Rp 1.480.
Mereka merekomendasikan saham PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) buy on weakness pada area Rp 474–Rp 505 dengan target harga di Rp 560–Rp 605, serta stoploss di bawah Rp 444.
Sementara itu PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) disarankan buy on weakness di level Rp 1.425–Rp 1.455 dengan target harga Rp 1.495 dan Rp 1.520 stoploss jika di bawah Rp 1.415.
Sedangkan Phintraco Sekuritas mencatat IHSG membentuk pola shooting star, yang mengindikasikan potensi pembalikan arah setelah reli dalam beberapa hari terakhir mencetak level tertinggi baru. Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan berpeluang melanjutkan koreksi teknikal dengan menguji area 8.850–8.900.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), PT Sentul City Tbk (BKSL), dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).




