UNIVERSITAS Diponegoro (UNDIP) kembali menunjukkan perannya sebagai perguruan tinggi riset melalui pengembangan teknologi tepat guna yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Kali ini, tim peneliti UNDIP menghadirkan inovasi teknologi pengering gabah hybrid berbasis udara berkelembapan rendah dengan pemanas surya–biomassa, yang mampu menjaga kualitas gabah secara lebih cepat, efisien, dan stabil di berbagai kondisi cuaca.
Teknologi ini dikembangkan oleh Prof. Moh. Djeni. (Ketua Konsorsium Tim 1-UNDIP) bersama Dr. Laeli Kurniasari, (Ketua Konsorsium Tim 2-Unwahas), Prof. Andri Cahyo Kumoro, ASEAN Eng. (Ketua Konsorsium Tim 3-UNDIP), serta Anang Yudi Riswanto, dari PT Mutiara Global Industry sebagai mitra dunia usaha dan industri.
Pengering gabah hybrid ini dirancang dalam model portable yang dilengkapi sasis beroda dan sistem penarik, sehingga mudah dipindahkan ke berbagai lokasi lahan pertanian, khususnya daerah yang belum memiliki akses listrik atau fasilitas pengeringan permanen. Sumber panas diperoleh dari pembakaran biomassa dengan aliran udara yang terkontrol, menjadikannya ramah lingkungan sekaligus hemat energi.
Keunggulan utama teknologi ini terletak pada penggunaan kolom zeolit yang berfungsi menurunkan kelembapan udara sebelum masuk ke sistem pemanas. Udara kering yang dihasilkan menjadi lebih efektif dalam menyerap kadar air gabah, sehingga proses pengeringan berlangsung lebih cepat dan merata.
Selain versi portable, tim peneliti juga mengembangkan unit bed dryer berkapasitas besar hingga 2.000 kg per batch yang dilengkapi sistem dehumidifikasi menggunakan silika gel atau zeolit. Untuk meningkatkan efisiensi operasional, alat ini dilengkapi mekanisme hidrolik yang memudahkan proses pengeluaran gabah kering, sehingga lebih aman, cepat, dan hemat tenaga kerja.
Inovasi ini merupakan hasil dukungan Hibah Program RIKUB (Riset Konsorsium Unggulan Berdampak) 2025 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan.
Ke depan, teknologi pengering gabah hybrid ini diharapkan dapat menjadi solusi strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, terutama di tengah tantangan anomali cuaca yang kerap mengganggu proses pascapanen. Dengan kualitas gabah yang lebih kering dan stabil, nilai jual di tingkat petani diharapkan meningkat serta susut hasil dapat ditekan secara signifikan.
Pengembangan teknologi ini sekaligus menegaskan komitmen UNDIP dalam mendukung hilirisasi riset dan penguatan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan hasil penelitian. Melalui inovasi ini, UNDIP terus mendorong terwujudnya ekosistem pertanian modern yang mandiri, efisien, dan berdaya saing global. (H-2)



