Retaknya Benteng Terakhir Rezim Iran: Ketika Militer Tak Lagi Solid

erabaru.net
18 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Iran kini berada di ambang sebuah perubahan besar yang bersifat fundamental dan menentukan. Situasi yang berkembang di negara tersebut tidak lagi dapat dipandang sebagai aksi protes biasa atau bentrokan jalanan sporadis. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Iran, Putra Mahkota Iran secara terbuka dan langsung menyerukan sikap kepada militer, kepolisian, dan seluruh aparat keamanan negara.

Pada 7 Januari 2026, Putra Mahkota Iran yang hidup dalam pengasingan di Amerika Serikat, Reza Pahlavi, merilis sebuah pernyataan video yang segera menyita perhatian dunia. Pernyataan tersebut tidak ditujukan kepada komunitas internasional, melainkan secara eksplisit diarahkan kepada tentara Iran, kepolisian, dan pasukan keamanan.

Dalam pesannya, Reza Pahlavi menegaskan bahwa seragam militer dikenakan untuk melindungi Iran dan rakyatnya—bukan untuk mempertahankan sebuah rezim. Dia menyatakan bahwa para aparat kini berdiri di sebuah persimpangan sejarah yang tidak dapat dihindari, di mana pilihan yang diambil akan menentukan nasib pribadi sekaligus masa depan bangsa.

“Bukan Lagi Soal Apakah, Melainkan Kapan”

Putra Mahkota Iran menyampaikan peringatan yang sangat tegas: runtuhnya rezim, menurutnya, bukan lagi persoalan “apakah”, melainkan “kapan”. Dia menekankan bahwa waktu tersebut kini jauh lebih dekat dibandingkan sebelumnya.

Dalam pernyataannya, dia memperingatkan bahwa setiap aparat yang terus menembaki rakyat akan dikenali dan dimintai pertanggungjawaban di masa depan. Sebaliknya, mereka yang memilih berpihak kepada rakyat dan negara akan dilindungi serta dikenang oleh sejarah Iran.

Retaknya Soliditas Aparat Keamanan

Selama sepuluh hari terakhir, jutaan warga Iran dilaporkan turun ke jalan di lebih dari seratus kota. Namun, terdapat satu perubahan signifikan yang menjadi sorotan para analis: penindasan brutal yang biasanya menyertai demonstrasi besar tidak lagi terjadi secara merata.

Di berbagai wilayah, warga menyaksikan aparat militer dan polisi bersikap pasif, bahkan tidak bergerak sama sekali. Dalam sistem kekuasaan Iran yang sangat bergantung pada loyalitas militer, fenomena ini dipandang sebagai sinyal berbahaya yang menunjukkan mulai terjadinya retakan serius dalam soliditas internal aparat keamanan.

“Platform Kerja Sama Nasional” dan Jalur Aman Pembelotan

Reza Pahlavi menegaskan bahwa seruannya bukan sekadar pernyataan moral. Dia mengungkapkan bahwa sejak enam bulan lalu telah dibangun sebuah sistem yang disebut “Platform Kerja Sama Nasional”—sebuah jalur aman bagi tentara, pejabat pemerintah, dan anggota parlemen untuk menyatakan kesetiaan kepada negara, bukan kepada rezim.

Menurutnya, hingga kini puluhan ribu orang telah mendaftarkan diri melalui platform tersebut, mencerminkan besarnya keresahan internal di tubuh pemerintahan Iran.

Dalam wawancara lanjutan dengan Fox News, Reza Pahlavi menegaskan bahwa tanpa kerja sama diam-diam dari militer, transisi kekuasaan yang stabil pasca runtuhnya rezim tidak mungkin terwujud. Dia juga memastikan bahwa jaringan ini tidak hanya melibatkan tentara, tetapi juga pejabat pemerintahan dan anggota parlemen aktif.

Selebaran Protes dan Simbol Internasional

Di sejumlah kota Iran, selebaran protes juga dilaporkan beredar luas dengan pesan berbunyi:

“Terima kasih Presiden Trump. Terima kasih Raja Pahlavi. Hidup Israel.”

Kemunculan pesan-pesan ini menandai perubahan signifikan dalam narasi perlawanan, yang kini semakin berani dan terbuka dalam mengekspresikan dukungan politik lintas negara.

Starlink Lumpuhkan Senjata Pemutusan Internet

Perkembangan penting lainnya turut mempersempit ruang gerak rezim Iran. Sejumlah saluran oposisi mengonfirmasi bahwa sistem komunikasi satelit Starlink telah dikerahkan secara luas di dalam Iran.

Dengan keberadaan jaringan satelit ini, apabila pemerintah memutus internet nasional—salah satu alat penindasan paling efektif selama ini—komunikasi dan koordinasi massa tetap dapat berjalan. Artinya, kemampuan rezim untuk mengisolasi dan memadamkan perlawanan rakyat kini mengalami pelemahan signifikan.

Protes Meluas, Bojnurd Bergabung

Gelombang protes terus meluas. Pada 7 Januari 2026, kota penting di timur laut Iran, Bojnurd, dilaporkan dilanda demonstrasi besar-besaran. Bergabungnya Bojnurd menandai bertambahnya kota-kota utama yang kini berada dalam pusaran perlawanan nasional.

Hingga saat ini, aksi protes telah memasuki hari ke-11, mencakup puluhan kota besar dan kecil, dengan skala yang terus meningkat.

Dimensi Regional: Serangan Israel di Lebanon Selatan

Pada hari yang sama, situasi semakin kompleks ketika Israel melancarkan serangan militer ke wilayah selatan Lebanon. Perkembangan ini membuat krisis Iran tidak lagi dipandang sebagai persoalan domestik semata, melainkan bagian dari dinamika geopolitik kawasan yang lebih luas.

“Saya Akan Kembali ke Iran”

Di akhir pernyataannya, Reza Pahlavi menyampaikan satu kalimat yang mengguncang: “Ketika waktunya tiba, saya akan kembali ke Iran, bersama para patriot, untuk ikut dalam pertempuran terakhir.”

Analisis: Militer Menjadi Penentu Segalanya

Sejumlah analis internasional menilai bahwa nasib Iran kini sepenuhnya bergantung pada pilihan militer. Ketika aparat mulai ragu, penindasan kehilangan efektivitas, dan pemutusan internet tak lagi ampuh, Iran dinilai telah memasuki sebuah fase baru yang tidak dapat diputar balik.

Dengan kombinasi perlawanan rakyat yang meluas, retaknya loyalitas aparat, serta melemahnya alat kontrol rezim, Iran kini berdiri di titik balik sejarah yang paling menentukan dalam beberapa dekade terakhir.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Randy Pangalila dan Arya Saloka Sudah Siapkan Proyek Action Baru, Randy: Mudah-mudahan Ada yang Ambil
• 13 jam lalugrid.id
thumb
Olahraga Padel Naik Daun di Malang, Ini 3 Lapangan yang Bisa Jadi Pilihan
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Valverde minta Real Madrid fokus tatap laga hadapi Barcelona
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Bentrokan di Aleppo Picu Gelombang Pengungsian Warga Kurdi dari Sheikh Maqsoud dan Ashrafieh
• 16 jam lalupantau.com
thumb
Luis Enrique Pilih Tinggalkan PSG demi Manchester United
• 13 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.