Pedagang Pasar Induk Kramat Jati mengeluh sepi pembeli akibat bau busuk dari tumpukan sampah yang sudah menggunung. Sepinya pembeli ini pun membuat omzet pedagang merosot.
"Mengganggu. Dari aroma dari tumpukan sampah. Jadi yang belanja sepi, kan (pembeli) enggak mau parkir di sini. Jadi milih parkir di depan. Kan aromanya kan berasa. Pengurangan (pendapatan) bisa 40 persenan lah," kata Hanif salah satu pedagang Pasar Induk Kramat Jati saat ditemui di lokasi, Jumat (9/1/2026).
Hanif menjelaskan, tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati ini sudah berlangsung lama. Dia menyebut, tumpukan sampah yang tak kunjung diangkut hingga menggunung ini sudah berlangsung sejak lima bulan ke belakang.
"Dari sebelum, ada lah empat bulan, lima bulanan. Numpuk ini enggak diambil lagi. Sudah berapa hari ini, berapa bulan ini masih numpuk," ujar Hanif.
Menurutnya, sampah-sampah ini semestinya diangkut minimal dalam satu seminggu ada tiga kali pengangkutan. Namun belakangan ini, tidak ada armada yang mengangkut.
Selain penurunan omzet, Hanif mengaku para pedagang juga mengalami gangguan kesehatan akibat tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati ini. Sejumlah pedagang, kata dia, memilih untuk menggunakan masker.
"Kita aja di sini juga dari kesehatan pasti ganggu. Iya lah (jadi sakit), batuk-batuk susah napas gitu. Kerasa tiap hari di sini, tiap hari, dagangnya kerasa. Kemarin kita pakai masker, begitu dikeruk kan dia aromanya ngangkat lagi gini. Jadi di, apa ya, aroma juga ngaruh," tuturnya.
Dia pun menyampaikan harapannya agar tumpukan sampah tersebut bisa segera diangkut. Dia juga berharap pembeli bisa kembali ramai.
"Ya mudah-mudahan cepat dibersihin lah. Biar cepat pembeli juga kan ke kami lagi gitu," pungkasnya.
(kuf/zap)



