EtIndonesia. Diktator Venezuela, Nicolás Maduro, ditangkap hidup-hidup oleh militer Amerika Serikat dalam sebuah serangan mendadak, hanya beberapa jam setelah ia bertemu dengan utusan khusus Partai Komunis Tiongkok (PKT). Peristiwa ini mengguncang dunia.
Para pakar keamanan nasional Taiwan menilai bahwa PKT tidak hanya salah menilai secara serius operasi militer AS ini, tetapi juga hampir tidak memberikan dukungan nyata setelah kejadian, selain pernyataan diplomatik semata. Hal ini sangat kontras dengan ketegasan dan kecepatan tindakan pemerintahan Trump. Insiden ini menjadi pukulan berat bagi PKT.
“Bisa dikatakan Amerika telah menampar PKT dengan keras. Ini sekali lagi menegaskan bahwa, seperti yang mereka katakan, ‘halaman belakang’ Amerika sama sekali tidak akan dibiarkan dimasuki kekuatan anti-Amerika. Ini akan menjadi efek penjeraan yang sangat besar terhadap kekuatan-kekuatan tersebut,” ujar Peneliti Asisten Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Zhong Zhidong.
Pada 3 Januari, Presiden AS Donald Trump memerintahkan peluncuran operasi militer dengan sandi “Operation Absolute Resolve” (Operasi Tekad Mutlak). Dalam waktu kurang dari tiga jam, pasukan AS berhasil menangkap Maduro hidup-hidup dari istana kepresidenan yang dijaga ketat, lalu membawanya ke Amerika Serikat untuk diadili.
Beberapa jam sebelum penangkapannya, Maduro baru saja bertemu dengan utusan diplomatik PKT, Qiu Xiaoqi, dan rombongannya. Kedua pihak bahkan sempat mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan kembali apa yang mereka sebut sebagai hubungan kemitraan strategis.
“Saya pikir hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa PKT telah salah menilai operasi militer Amerika kali ini. Amerika kembali menunjukkan kredibilitas antara ucapan dan tindakan mereka. Mereka tidak terlalu peduli pada opini publik internasional, yang mereka perhatikan adalah hasil nyata. Apa yang diucapkan pasti dilakukan, dan sejauh ini tampaknya memang demikian,” tambah Zhong Zhidong.
Yang lebih menarik perhatian, setelah Maduro ditangkap, PKT selain menyampaikan protes secara lisan, tidak mengambil langkah dukungan substansial apa pun. Hingga kini, keberadaan Qiu Xiaoqi dan rombongannya juga tidak diketahui. Opini publik menilai peristiwa ini memperlihatkan bahwa klaim PKT tentang menjamin keamanan dan stabilitas sekutunya hanyalah omong kosong dan bahan tertawaan.
Pada 5 Januari, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, ditanya mengenai keberadaan Qiu Xiaoqi dalam konferensi pers. Ia terdiam hampir 50 detik, lalu menghindari pertanyaan substansial dan hanya memberikan jawaban diplomatik yang tidak relevan.
Penangkapan hidup-hidup Maduro oleh militer AS ini mengguncang dunia dan menjadi topik hangat di internet. Sejumlah warganet menyebutnya sebagai “kecelakaan tingkat buku teks” dalam sejarah diplomasi PKT. Insiden ini bukan sekadar kesalahan biasa, melainkan menyingkap kegagalan total sistem intelijen, analisis, dan pengambilan keputusan PKT.
Laporan oleh reporter New Tang Dynasty Television Zhao Fenghua dan reporter khusus Luo Ya.





