Mengenal Commitment Issues, Tak Siap Jalani Hubungan Serius karena Takut Terluka

kumparan.com
16 jam lalu
Cover Berita

Bagi sebagian orang, takut berkomitmen bukan berarti tak mau mencintai, namun justru karena takut kehilangan diri, terluka, atau mengulang kegagalan yang sama. Perasaan tersebut kemudian membuat seseorang memilih pergi ketika hubungan mulai mengarah ke jenjang yang lebih serius. Kondisi inilah yang memunculkan istilah commitment issue.

Commitment issues adalah ketakutan atau keengganan untuk terikat dalam jangka panjang ketika sedang menjalin hubungan romantis. Seseorang bisa menikmati kedekatan, tapi merasa gelisah saat hubungan mulai bicara arah, kepastian, dan masa depan. Komitmen terasa seperti risiko emosional yang terlalu besar, bukan karena tidak sayang, tapi karena takut terluka.

“Tanda-tanda orang yang takut akan komitmen di antaranya meliputi ketidakmampuan untuk menjalin hubungan yang serius, kesulitan membaca emosi dan melakukan penyesuaian dengan pasangan, sulit berkompromi, hingga ketidakmampuan untuk melihat diri sendiri dalam sebuah hubungan,” ujar Reshawan Chapple, PhD, LCSW, Psikolog klinis asal Amerika Serikat.

Tanda-tanda commitment issue

Salah satu tanda paling umum adalah kecenderungan menjaga hubungan tetap kasual meski ada rasa sayang. Hubungan terasa menyenangkan selama tak ada tuntutan masa depan dan mulai terasa berat ketika ekspektasi muncul. Tanda lain adalah kebiasaan mengakhiri hubungan ketika hubungan tersebut sudah mulai serius, meski tidak ada konflik yang besar.

Pada pasangan, commitment issues kerap terlihat dari sikap yang tampak setengah-setengah. Mereka mungkin hadir secara fisik, tetapi sulit terhubung secara emosional. Obrolan juga cenderung ringan dan menghindari topik tentang masa depan atau perasaan yang lebih dalam. Ketika hubungan dibahas lebih serius, responsnya sering mengambang atau mengalihkan pembicaraan.

Pasangan dengan ketakutan akan komitmen juga kerap sulit konsisten dalam komunikasi. Lama membalas pesan, sering mengubah rencana, dan jarang melibatkanmu dalam rencana masa depan mereka juga bisa jadi tanda-tanda commitment issue. Dengan begitu, mereka bisa menjaga jarak agar tidak terlalu terikat.

Dari mana commitment issue itu berasal?

Akar commitment issues sering tertanam dari pengalaman masa lalu. Hubungan yang berakhir menyakitkan, pengkhianatan, atau kehilangan emosional dapat membuat seseorang membangun pertahanan diri. Selain itu, pola asuh dan dinamika keluarga juga berperan membentuk gaya keterikatan seseorang.

Individu dengan avoidant attachment style, misalnya, cenderung menjaga jarak emosional ketika merasa terlalu dekat. Komitmen terasa seperti ancaman terhadap kebebasan atau kendali diri. Ketakutan ini sering kali bekerja di bawah sadar, membuat seseorang menjauh bahkan sebelum benar-benar menyadari alasannya.

Cara mengatasi commitment issue

Mengatasi ketakutan akan komitmen bukan berarti memaksa diri untuk berubah secara drastis. Langkah pertama adalah mengenali dan menerima ketakutan tersebut tanpa menghakimi diri sendiri. Konsultasi ke profesional juga bisa menjadi ruang aman untuk memahami akar emosi dan pola hubungan yang berulang.

Komunikasi yang jujur dengan pasangan juga penting. Selain itu, membangun komitmen kecil, seperti membuat rencana sederhana dan menepatinya, dapat membantu melatih rasa aman secara bertahap.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gelar Demo, Mahasiswa Buang Sampah di Halaman Pemkot Tangsel Sebagai Bentuk Protes
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Pencarian Dinyatakan Berakhir, 1 Anak Pelatih Valencia Tak Ditemukan
• 5 jam laludetik.com
thumb
Berantas Judi Online, OJK Minta Bank Blokir 31.382 Rekening
• 15 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Solusi Pemerintah Atasi Kerugian Serius Industri Kain Tenunan dari Kapas RI Akibat Impor
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
AS Buka Keran Energi Venezuela, Chevron Cs Siap Ekspor Minyak Besar-besaran
• 15 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.