jpnn.com, JAKARTA - Aliansi Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (DEMA PTKIN) menggelar aksi solidaritas untuk Venezuela pada Kamis, 8 Januari 2025.
Massa aksi membawa sejumlah perangkat dan akomodasi, di antaranya mobil komando, bus, sepeda motor, serta berbagai banner dan poster bernada protes.
BACA JUGA: China Keberatan Rencana AS Ambil 50 Juta Barel Minyak Venezuela
Beberapa narasi yang ditampilkan antara lain 'Ganyang Trump' dan 'Hari Ini Venezuela, Ke Depan Mungkin Indonesia'.
Seperti diketahui, Presiden Venezuela ditangkap oleh Amerika Serikat (AS).
BACA JUGA: Dukung Amerika, Bank Swiss Bekukan Aset Pribadi Presiden Venezuela
Korpus PTKIN, Miftahul Rizqi menyatakan lewat aksi itu pihaknya itu menyuarakan penolakan terhadap apa yang mereka sebut sebagai bentuk premanisme global dan intimidasi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela.
Tak hanya itu, DEMA PTKIN mengutuk keras segala bentuk tindakan sepihak, intimidasi militer, dan upaya provokasi yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Venezuela.
Mereka juga menuntut Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia mengambil sikap tegas terkait dugaan penyulikan yang dinilai sewenang-wenang.
Dia menyampaikan tindakan unilateral Amerika Serikat berpotensi melemahkan tatanan hukum internasional.
"Jika tindakan unilateral ini dibiarkan tanpa perlawanan intelektual dan diplomatik, maka hukum internasional secara de facto telah kehilangan taringnya. Ia berubah menjadi sekadar instrumen bagi yang kuat untuk menindas yang lemah, sebuah ‘hukum rimba’ versi modern yang dibalut dengan dasi dan diplomasi," tegasnya.
Rizqi juga menyoroti tindakan Amerika Serikat melalui pendekatan teori Neorealisme Ofensif yang dikemukakan John Mearsheimer, di mana negara adidaya dinilai selalu berupaya memaksimalkan kekuatannya demi mempertahankan dominasi global.
"AS bertindak bukan atas dasar moralitas atau hak asasi manusia, melainkan murni kalkulasi kekuasaan untuk mencegah munculnya kekuatan lain yang mengancam kepentingannya," kata dia.
Selain faktor geopolitik, kata dia, terdapat kepentingan ekonomi besar di balik tekanan terhadap Venezuela, khususnya terkait cadangan minyak negara tersebut yang mencapai sekitar 300 miliar barel.
Dominasi energi global disebut menjadi salah satu motif utama intervensi Amerika Serikat.
Menurutnya, instabilitas di Venezuela juga berdampak sistemik terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia, melalui kenaikan harga energi, beban subsidi, dan inflasi yang menekan daya beli masyarakat.
"Kami dari aliansi DEMA PTKIN mengutuk keras segala bentuk tindakan premanisme global, intimidasi militer, dan upaya provokasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Venezuela," tegas dia.
Sebagai simbol perlawanan, massa aksi juga melakukan pembakaran foto Presiden Amerika Serikat dan bendera Amerika Serikat saat orasi berlangsung. Aksi unjuk rasa tersebut berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif hingga selesai.(mcr10/jpnn)
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul




