SEOUL, KOMPAS.TV - Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diyakini berdampak kepada Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.
Para pengamat menilai Kim Jong-un yang ogah ditangkap Trump mengkhawatirkan terjadi perubahan rezim, sehingga akan melakukan tindakan drastis.
Para ahli meyakini Kim Jong-un akan semakin ketergantungan dengan senjata nuklir sebagai jaminan untuk keselamatannya.
Baca Juga: Demonstrasi Anti-Pemerintah Iran Meluas, Pemadaman Internet Dilakukan di Seluruh Negeri
Korea Utara telah mengecam tindakan AS yang menangkap Maduro dengan menyebutnya sebagai “penginvasian” Venezuela.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara pada Minggu (4/1/2026) menegaskan penangkapan Maduro menegaskan sifat AS yang seperti gangster dan biadab.
Sang jubir menambahkan, Korea Utara menyebut tindakan Washington terhadap Venezuela sebagai bentuk pelanggaran kedaulatan paling serius dan pelanggaran keras terhadap Piagam PBB dan hukum internasional.
Sementara itu, Koh Yu-hwan, profesor emeritus studi Korea Utara di Universitas Dongguk, mengungkapkan kekhawatiran AS akan menyerang negaranya dengan cara yang sama.
“Bagi Kim Jong-un ini menjadi momen untuk sekali lagi mengakui kekuatan dan ancaman Amerika Serikat, yang bisa melakukan apa saja jika mereka bertekad melakukannya,” ujarnya dikutip dari The Korea Times.
Sebelumnya, saat Pemimpin Libya Muammar Gaddafi terbunuh pada 2011, Korea Utara ketika itu melarang pejabat dan warganya yang ada di luar negeri kembali ke Tanah Air. Korea Utara ketika itu juga memperketat kontrol ideologis.
Penulis : Haryo Jati Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : The Korea Times
- kim jong-un
- senjata nuklir
- jaminan keselamatan
- korea utara
- donald trump
- nicolas maduro




