EtIndonesia. Aksi unjuk rasa besar-besaran di Iran pada Selasa, 7 Januari, terus berlangsung dengan intensitas tinggi dan skala yang kian meluas. Memasuki hari ke-11 gelombang protes nasional, demonstrasi tidak hanya terjadi di ibu kota Teheran, tetapi telah menyebar ke lebih dari 100 kota di seluruh negeri, mencerminkan krisis legitimasi serius yang tengah dihadapi rezim Islam Iran.
Teheran: Lautan Manusia dan Teriakan “Hidup Raja!”
Rekaman udara dari pusat Teheran memperlihatkan pemandangan mencolok: lautan manusia memenuhi jalan-jalan sempit, bergerak seperti gelombang tanpa henti. Taksi-taksi kuning khas kota itu terjebak di tengah kerumunan, tak mampu bergerak sama sekali.
Para demonstran mengibarkan bendera dan meneriakkan slogan “Hidup Raja!”, seruan yang menggema di udara kota dan secara simbolis diarahkan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, sebagai bentuk pelampiasan kemarahan rakyat.
Bojnurd: Polisi Mundur, Aparat Beri Isyarat Dukungan
Situasi serupa terlihat di Bojnurd, di mana pada siang hari massa dalam jumlah sangat besar bergerak menyusuri jalanan kota. Barisan demonstran begitu panjang hingga ujung depan dan belakang tidak terlihat.
Yang paling mencolok, dalam beberapa rekaman, polisi terlihat berjalan seiring dengan massa, bahkan dalam satu momen tampak melambaikan tangan kepada demonstran sebelum mundur secara teratur. Pemandangan ini menjadi indikasi awal bahwa sebagian aparat keamanan mulai kehilangan kemauan atau kemampuan untuk menindak massa.
Mogok Nasional: Pedagang dan Pekerja Gas Ikut Bergerak
Pada 7 Januari, aksi protes memasuki fase baru dengan mogok kerja nasional. Para pedagang pasar di 28 kota menghentikan aktivitas mereka. Yang paling signifikan, Tabriz, kota terbesar kedua Iran, untuk pertama kalinya bergabung dalam mogok besar, menandai eskalasi serius tekanan ekonomi terhadap pemerintah.
Selain itu, para pekerja di kilang gas South Pars di selatan Iran juga melakukan mogok kerja. Para pengamat menilai, bila aksi ini meluas ke sektor minyak—urat nadi ekonomi Iran—maka dampaknya terhadap stabilitas rezim akan jauh lebih besar.
Korban Jiwa dan Seruan dari Pengasingan
Hingga saat ini, tindakan represif pemerintah dilaporkan telah menyebabkan sedikitnya 35 demonstran tewas, meski angka sebenarnya diyakini lebih tinggi.
Sementara itu, Putra Mahkota Iran yang berada di pengasingan, Reza Pahlavi, terus menyerukan perlawanan nasional melalui media sosial. Akun Instagram-nya dilaporkan telah menjangkau hampir 70 juta orang, memperkuat narasi bahwa gerakan ini memiliki figur simbolik pemersatu.
Mashhad: Milisi Basij Dipukul Mundur Massa
Di Mashhad, kota berpenduduk lebih dari 3,3 juta jiwa, rekaman menunjukkan milisi Basij yang bersenjata lengkap dan mengendarai sepeda motor dipukul mundur oleh gelombang demonstran.
Sebagian massa melempari aparat dengan batu. Dalam kekacauan tersebut, sejumlah perlengkapan aparat ditinggalkan dan dirusak oleh warga yang meluapkan kemarahan mereka. Aparat akhirnya terpaksa melarikan diri secara tidak teratur.
Teheran, Shiraz, Bandar Abbas: Api, Barikade, dan Tembakan
Di distrik Sar, Teheran, kelompok pemuda pendukung monarki turun ke jalan sambil meneriakkan slogan “Mati bagi diktator!” dan “Khamenei mati!” Api terlihat menyala di berbagai sudut kota, menandakan situasi yang semakin panas.
Rekaman dari 6 Januari memperlihatkan warga di pusat Teheran memblokir jalan utama menggunakan barang-barang bekas untuk menghambat pergerakan aparat.
Di Shiraz, demonstran membangun barikade dengan batu-batu besar pada siang hari 7 Januari. Namun pada malam harinya, militer dikerahkan untuk membersihkan barikade, disertai tembakan sporadis, sebelum akhirnya aparat bermotor kembali menguasai lokasi.
Sementara itu, di Bandar Abbas, pelabuhan minyak strategis Iran, demonstrasi besar terjadi sepanjang hari. Pasukan keamanan bermotor tampak tidak mampu melawan massa dan mundur secara teratur. Massa meneriakkan slogan “Tahun ini adalah tahun pertumpahan darah” dan “Kediktatoran pasti tumbang.”
Karaj, Abhar, hingga Kota-Kota Kecil: Rezim Kehilangan Kendali
Pada malam 7 Januari, beredar luas rekaman yang menunjukkan demonstran telah menguasai Kota Karaj. Patung Khamenei diruntuhkan dan dibakar hingga habis.
Di Abhar (Provinsi Zanjan), kota berpenduduk sekitar 200 ribu jiwa, warga menyerukan penggulingan rezim Islam. Di kota-kota kecil seperti Chenaran dan Sabzevar, massa menghancurkan simbol ideologi rezim dan meneriakkan slogan “Ini adalah pertempuran terakhir” serta “Pahlavi pasti kembali.”
Di Borujerd, pemuda-pemuda dilaporkan menyerang fasilitas milik Garda Revolusi Iran.
Provinsi Ilam: Kota-Kota Dikuasai, Milisi Membelot
Di Provinsi Ilam, wilayah barat Iran yang mayoritas penduduknya etnis Kurdi dan berbatasan langsung dengan Irak, dilaporkan dua kota telah sepenuhnya dikuasai demonstran, termasuk Abadan.
Beberapa milisi Basij dilaporkan meletakkan senjata dan membelot. Video malam hari menunjukkan massa yang begitu besar hingga ujung barisan tak terlihat, seolah seluruh kota turun ke jalan.
Situasi Kritis: Tekanan Internal dan Ancaman Eksternal
Gelombang demonstrasi ini dinilai telah melampaui kendali rezim Islam. Meski aparat keamanan dikerahkan sejak awal dan bahkan menggunakan senjata api, penindasan terbukti tidak efektif.
Di saat yang sama, Iran juga menghadapi tekanan eksternal. Aktivitas kendaraan radar di sejumlah wilayah menambah spekulasi akan ancaman militer Israel. Rezim kini berada di bawah tekanan ganda: pemberontakan domestik dan potensi eskalasi eksternal.
Sejumlah analis menilai, bila terjadi serangan terhadap fasilitas militer strategis Garda Revolusi, pembelotan aparat secara massal bukanlah skenario yang mustahil.
Akhir Sebuah Era?
Lebih dari empat dekade setelah Revolusi Islam, kemarahan rakyat Iran kini terlihat meledak secara serentak di seluruh negeri—dari kota besar hingga kota kecil. Dengan aparat yang terus mundur dan rakyat yang tak lagi gentar, banyak pihak menilai bahwa waktu bagi rezim Khamenei semakin menipis.
Gelombang protes ini bukan lagi sekadar demonstrasi, melainkan pertarungan penentuan arah masa depan Iran.





