Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memangkas jumlah produksi batu bara tahun ini menjadi sekitar 600 juta ton. Hal ini dilakukan melalui revisi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perusahaan batu bara.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan hal ini bertujuan untuk menjaga harga komoditas bagus. Indonesia pada 2025 telah memproduksi 790 juta ton batu bara dengan komposisi 65% untuk ekspor dan 32% dialokasikan kebutuhan domestik.
Jumlah batu bara yang diperdagangkan di seluruh dunia berjumlah 1,3 miliar ton. Dari jumlah tersebut Indonesia menyuplai 43% atau 514 juta ton. Hal ini berakibat pada ketidakseimbangan permintaan dan penawaran sehingga harga batu bara turun.
“Produksi kami turunkan agar harga bagus dan tambang bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya. Mengelola sumber daya alam tidak harus semuanya habis saat ini,” kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (8/1).
Pengurangan produksi tidak hanya terjadi di batu bara tapi juga dilakukan untuk komoditas nikel. Jumlah produksi nikel perlu penyesuaian antara kebutuhan industri dan tingkat pasokan dari tambang.
Dia menyontohkan jika kapasitas industri nikel berjumlah 200 juta ton, maka jumlah RKAB yang disetujui juga sama, sebesar 200 juta ton. “Kalau kami naikkan jumlah produksi maka harga nikel akan jatuh. Begitu kami mengumumkan evaluasi dan penataan ulang RKAB, harganya langsung naik,” ujarnya.
Penyesuaian di komoditas nikel ini bertujuan agar memberikan keuntungan baik kepada masyarakat, pengusaha, dan juga negara.
Tren Produksi Batu Bara periode 2015-2025Dalam 10 tahun terakhir, tren produksi batu bara tergolong fluktuatif dengan kecenderungan meningkat usai pandemi Covid-19. Pada periode 2016-2017 jumlah produksi batu bara Indonesia masih berkisar 400 juta ton. Mayoritas dari jumlah tersebut dialokasikan untuk ekspor dibandingkan pemenuhan dalam negeri atau DMO.
Sebelum pandemi berlangsung, pada 2019 produksi batu bara Indonesia telah mencapai 616 juta ton, namun menurun saat pandemi menjadi 564 juta ton. Setelah itu, jumlah produksi batu bara Indonesia terus terkerek. Bahkan pernah mencapai 836 juta ton pada 2024, namun 2025 angka turun menjadi 790 juta ton.
Berikut rincian produksi batu bara Indonesia:
- 2015: 461 juta ton
- 2016: 456 juta ton
- 2017: 461,25 juta
- 2018: 557,98 juta ton
- 2019: 616,15 juta ton
- 2020: 564 juta ton
- 2021: 641 juta ton
- 2022: 687 juta ton
- 2023: 775 juta ton
- 2024: 836 juta ton
- 2025: 790 juta ton


