EtIndonesia. Pada zaman dahulu, hiduplah seorang raja di India. Dia dikenal sebagai pemimpin yang pandai mengelola negara dan gemar turun langsung ke tengah rakyat dengan menyamar untuk memahami kehidupan masyarakat. Di bawah kepemimpinannya, negara hidup aman, rakyat sejahtera, dan pembangunan berjalan pesat.
Raja ini memiliki seorang perdana menteri yang sangat cakap. Setiap kali ada urusan besar dan penting, sang raja selalu meminta pendapatnya dan mendengarkan pandangan bijak dari bawahannya itu.
Suatu hari, hujan turun dengan sangat deras sehingga rencana raja untuk keluar istana terpaksa tertunda.
Sang raja lalu bertanya kepada perdana menterinya: “Menurutmu, hujan deras ini baik atau tidak?”
“Baik, Paduka, setelah hujan reda, jalan-jalan akan menjadi bersih, udara segar, dan Paduka dapat menikmati keindahan langit cerah sekaligus turun ke rakyat untuk melihat keadaan mereka,” jawab sang perdana menteri.
Mendengar itu, raja pun merasa senang.
Pada kesempatan lain, ketika raja hendak melakukan inspeksi, cuaca justru sangat panas. Teriknya membuat keringat raja bercucuran.
Dia kembali bertanya : “Dalam cuaca sepanas ini, apakah baik jika aku keluar?”
Tanpa ragu, sang perdana menteri menjawab: “Baik. Cuaca seperti ini jarang terjadi akhir-akhir ini. Jika Paduka turun ke lapangan, Paduka akan lebih memahami bagaimana rakyat kita bertahan dan bekerja di tengah panas yang menyengat.”
Raja merasa jawaban itu masuk akal dan dengan gembira pun berangkat.
Raja dan perdana menterinya memiliki hobi yang sama—berburu. Setiap kali berburu, raja selalu ditemani oleh sang perdana menteri.
Suatu hari, ketika raja sedang memeriksa peralatan berburu, dia tak sengaja terluka dan sebagian ibu jarinya terpotong.
Dengan panik dia bertanya: “Ibu jariku terpotong. Apakah ini baik?”
“Baik, Paduka,” jawab sang perdana menteri.
Mendengar jawaban itu, raja sangat marah. Dia mengira perdana menterinya sedang mengejek dan menertawakannya di saat sulit. Dalam amarahnya, raja memerintahkan agar perdana menteri dipenjarakan.
Sebelum pergi, raja bertanya dengan nada sinis : “Sekarang kamu dikurung di penjara. Apakah itu baik?”
“Baik. Sangat baik,” jawab sang perdana menteri dengan tenang.
Raja semakin murka.
“Kalau begitu, tinggallah di sini beberapa hari!” katanya sambil pergi dengan kesal.
Dua hari kemudian, hasrat berburu sang raja kembali muncul. Namun karena gengsi, dia tidak ingin membebaskan perdana menterinya. Akhirnya, raja pergi berburu seorang diri dengan menunggang kuda.
Biasanya, karena perdana menteri sangat mengenal medan dan lingkungan, perburuan mereka selalu berakhir dengan hasil yang baik. Namun kali itu, raja sendirian mengejar hewan di hutan selama berjam-jam tanpa mendapatkan seekor pun. Dia menjadi sangat kecewa dan terus berkeliling mencari mangsa.
Tak lama kemudian, matahari mulai terbenam dan burung-burung kembali ke sarang. Raja pun kelelahan dan turun dari kudanya, menuntunnya sambil berjalan. Tiba-tiba, dia menyadari bahwa lingkungan sekitarnya terasa sangat asing.
“Sepertinya aku tersesat,” pikirnya.
Saat sedang berjalan, raja tiba-tiba terperosok ke dalam sebuah lubang jebakan binatang. Lubang itu sangat dalam. Berkali-kali dia mencoba memanjat keluar, namun selalu gagal.
Tak lama kemudian, dia mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Hatinya pun diliputi harapan.
“Tolong! Tolong!” teriaknya keras-keras.
Orang-orang itu akhirnya menolongnya keluar. Namun ternyata mereka adalah penduduk dari suku kanibal di negeri tetangga. Raja pun dibawa ke perkampungan mereka.
Malam itu, seluruh suku berpesta. Mereka menari mengelilingi raja yang diikat pada sebuah tiang berbentuk salib. Di bawah kakinya, kayu bakar telah ditumpuk untuk menyalakan api—mereka bersiap membakarnya dan memakan dagingnya. Karena tidak bisa berkomunikasi, raja hanya bisa terdiam dan berharap akan terjadi keajaiban.
Upacara pun dimulai. Kepala suku memberi aba-aba, lalu seorang dukun maju dan memercikkan air ke tubuh raja sambil memeriksa setiap bagian tubuhnya. Ketika sampai pada tangan raja, sang dukun terdiam, menghela napas, dan menggelengkan kepala berulang kali. Orang-orang di sekitarnya pun kebingungan.
Dukun itu kemudian berkata kepada kepala suku: “Kami hanya memakan hewan yang tubuhnya sempurna. Orang ini tidak utuh—ibu jarinya terpotong. Dia membawa pertanda buruk. Kita tidak boleh memakannya.”
Kepala suku pun memeriksa sendiri dan mendapati bahwa ibu jari raja memang tidak lengkap. Dia segera memerintahkan agar raja dibebaskan.
Raja yang selamat dari maut merasa sangat terharu. Dia segera kembali ke ibu kota dan langsung menuju penjara untuk menemui perdana menterinya. Begitu bertemu, dia memeluk sang perdana menteri sambil menangis.
“Sekarang aku mengerti mengapa kamu berkata bahwa kehilangan jariku adalah hal yang baik. Jari itu telah menyelamatkan nyawaku. Aku telah salah menilaimu.”
Kemudian raja bertanya lagi: “Aku telah memenjarakanmu selama lebih dari sepuluh hari. Apakah itu baik?”
“Baik. Sangat baik,” jawab sang perdana menteri.
“Kenapa?” tanya raja heran.
“Jika Paduka tidak memenjarakan saya, saya pasti akan ikut berburu bersama Paduka. Kita berdua akan ditangkap oleh suku kanibal itu. Paduka bisa selamat karena ibu jari Paduka terpotong, tetapi saya pasti mati—karena tubuh saya utuh.”
Saat itu juga, raja tersadar sepenuhnya. Dia memahami sebuah kebenaran besar: segala sesuatu memiliki dua sisi. Apakah itu baik atau buruk, semuanya bergantung pada cara kita memandangnya.
Renungan / Hikmah Cerita
Kisah ini merupakan versi luar negeri dari cerita klasik “Sai Weng kehilangan kuda”—di mana musibah bisa berubah menjadi berkah.
Banyak orang sering mengeluh: “Musim hujan datang lagi, penjualan pasti menurun.”
Mereka berpikir hujan membuat sulit bertemu pelanggan dan serba tidak nyaman—sebuah sudut pandang yang negatif.
Namun orang yang berpikir positif akan berkata: “Wah, hujan! Banyak orang tinggal di rumah. Inilah kesempatan terbaik untuk menawarkan produk.”
Ketika lingkungan tidak bisa diubah, pilihan terbaik adalah menyesuaikan diri dan belajar mengambil manfaat darinya. Ingatlah selalu: Tidak ada salahnya kita bersikap optimis dan positif dalam memandang segala sesuatu.(jhn/yn)




