Pantau - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai klaim mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait rencana pengalihan 30–50 juta barel minyak dari Venezuela ke AS tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap pasar energi global.
Menurut Airlangga, kapasitas produksi minyak Venezuela saat ini berada di bawah 1 juta barel per hari, atau kurang dari 1 persen dari total produksi minyak dunia.
Airlangga menjelaskan bahwa karena volumenya kecil, pengalihan puluhan juta barel minyak tersebut hanya memberi pengaruh terbatas terhadap pasokan energi global.
"Enggak (berdampak). Pertama, produksi minyak Venezuela itu kan di bawah 1 juta barel oil per day, jadi di bawah 1 persen kan. Jadi secara global (dampak) tidak ada," ungkapnya.
Klaim Donald Trump dan Nilai EkonominyaDonald Trump, Presiden ke-47 AS, mengumumkan pada Selasa (6/1) bahwa pemerintahan interim Venezuela telah menyepakati pengiriman antara 30 hingga 50 juta barel minyak ke Amerika Serikat.
Trump menyatakan bahwa minyak tersebut akan dijual di pasar dengan harga pasar, dan hasil penjualannya akan dikelola di bawah otoritas pemerintahannya.
Trump berharap langkah tersebut bisa membantu memenuhi kebutuhan energi dalam negeri sekaligus memberikan keuntungan ekonomi bagi kedua negara.
Jika diasumsikan harga minyak berada pada kisaran 56 dolar AS per barel, maka total nilai dari 30–50 juta barel tersebut diperkirakan mencapai sekitar 2,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp47 triliun.
Dampak Terbatas dan Sikap Pemerintah IndonesiaAirlangga menegaskan bahwa dinamika ini lebih berdampak langsung terhadap pasar energi Amerika Serikat daripada pasar energi global secara keseluruhan.
Ia menambahkan bahwa Pemerintah Indonesia akan terus memantau perkembangan situasi politik dan ekonomi di Venezuela, termasuk transisi pemerintahan yang sedang berlangsung.
"Kita monitor saja," ia mengungkapkan saat ditanya soal perkembangan situasi di Venezuela.




