Demonstrasi Meluas di Iran Akibat Krisis Ekonomi, Akses Internet Padam

katadata.co.id
14 jam lalu
Cover Berita

Aksi protes nasional warga Iran kian memanas pada awal tahun ini. Peristiwa tersebut merupakan lanjutan dari gelombang demonstrasi sejak akhir Desember 2025 setelah Pemerintahan Iran melancarkan penindakan mematikan terhadap para demonstran sejak 28 Desember 2025.

Terbaru, terjadi pemadaman jaringan internet negara tersebut mulai Kamis (8/1). Hal tersebut dikatakan pemantau internet NetBlocks, seiring dengan berlanjutnya protes atas kesulitan ekonomi.

Dikutip dari Reuters, saksi mata di ibu kota Teheran dan kota-kota besar seperti Mashhad serta Isfahan mengatakan bahwa para pengunjuk rasa kembali berkumpul di jalanan pada hari Kamis, meneriakkan slogan-slogan menentang penguasa ulama Republik Islam.

Amnesty International dan Human Rights Watch mencatat penindakan aparat keamanan menewaskan sedikitnya 28 demonstran dan warga sipil di sekitar lokasi aksi. Korban yang tercatat termasuk anak-anak di 13 kota yang tersebar di delapan provinsi pada periode 31 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026.

Temuan Amnesty International dan Human Rights Watch, aparat, termasuk Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC serta kepolisian Iran menggunakan senapan laras panjang, senapan dengan peluru logam, meriam air, gas air mata, dan mengintimidasi, serta menghukum para demonstran.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (3/1) mengatakan bahwa para perusuh harus diberi tindakan tegas setelah gelombang protes selama sepekan mengguncang Iran.

Khamenei mengakui keresahan masyarakat atas anjloknya nilai tukar rial. Ia menyatakan pemerintah perlu membuka ruang dialog dengan para demonstran. Namun, ia menegaskan tidak ada manfaat berbicara dengan kelompok yang dianggapnya sebagai perusuh.

“Kami berbicara dengan para demonstran, para pejabat harus berbicara dengan mereka. Tetapi tidak ada gunanya berbicara dengan perusuh. Perusuh harus ditempatkan pada posisinya,” kata Khamenei, sebagaimana diberitakan oleh Al Jazeera pada Sabtu (3/1).

Aksi protes berskala nasional di Iran yang dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi domestik terus meningkat. Situasi di Teheran masih terguncang oleh dampak perang selama 12 hari yang dilancarkan Israel pada Juni lalu.

Tekanan ekonomi kian berat sejak September setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran terkait program nuklirnya. Kondisi tersebut mendorong nilai tukar rial Iran anjlok tajam dan kini diperdagangkan di atas 1,4 juta rial per dolar Amerika Serikat (AS).

Khamenei kembali mengulang tuduhan yang kerap disampaikan para pejabat Iran bahwa kekuatan asing seperti Israel dan AS berada di balik aksi protes. Ia menyampaikan klaim tersebut tanpa menyertakan bukti serta menyalahkan apa yang disebutnya sebagai musuh atas anjloknya nilai tukar rial.

Khamenei juga menuding adanya sekelompok orang yang disebutnya dihasut atau dibayar oleh pihak asing untuk menunggangi keresahan para pedagang dan pemilik toko. Menurut dia, kelompok tersebut meneriakkan slogan-slogan yang menyerang Islam, Iran, dan sistem Republik Islam.

“Sekelompok orang yang dihasut atau disewa oleh musuh berdiri di belakang para pedagang dan pemilik toko lalu meneriakkan slogan-slogan melawan Islam, Iran, dan Republik Islam,” kata Khamenei.

Faktor Penyebab Demonstrasi

Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS mencatat lebih dari 390 aksi protes tercatat berlangsung di seluruh 31 provinsi di Iran hingga Jumat, 2 Januari. 

Aksi protes bermula pada akhir Desember 2025 melalui demonstrasi para pedagang di Teheran sebelum kemudian meluas ke sejumlah wilayah lain. Awalnya demonstrasi cenderung berfokus pada isu ekonomi, tetapi dengan cepat berkembang menjadi aksi dengan slogan-slogan anti-pemerintah.

The Associated Press (AP) mengabarkan runtuhnya nilai tukar rial memicu krisis ekonomi yang semakin dalam di Iran. Harga daging, beras, dan berbagai kebutuhan pokok melonjak tajam sementara negara itu terus bergulat dengan inflasi tahunan sekitar 40%.

Pada Desember 2025, pemerintah Iran memberlakukan skema harga baru untuk bahan bakar bensin bersubsidi nasional. Kebijakan tersebut menaikkan harga salah satu bensin termurah di dunia dan semakin menekan masyarakat. Teheran berpeluang kembali menaikkan harga bensin karena pemerintah kini meninjau kebijakan harga setiap tiga bulan.

IRAN-KHAMENEI (ANTARA FOTO/REUTERS/Official Khamenei website)

Harga pangan diperkirakan kembali melonjak setelah Bank Sentral Iran dalam beberapa hari terakhir menghentikan nilai tukar preferensial dolar terhadap rial bersubsidi untuk seluruh produk kecuali obat-obatan dan gandum. Kebijakan tersebut berpotensi memperbesar tekanan terhadap daya beli masyarakat.

Bank Sentral Iran sebelumnya menyediakan kurs khusus yang lebih murah bagi importir untuk menukar rial ke dolar AS. Kurs bersubsidi ini membuat harga barang impor, terutama bahan pangan, bisa ditekan agar tetap terjangkau di dalam negeri.

Ketika Bank Sentral menghentikan kurs preferensial tersebut untuk hampir semua produk, importir kini harus membeli dolar dengan kurs pasar yang jauh lebih mahal. Akibatnya, biaya impor naik dan selisih harga itu biasanya dibebankan kepada konsumen.

Karena sebagian besar bahan pangan Iran masih bergantung pada impor atau bahan baku impor, kebijakan ini membuat harga pangan hampir pasti naik, kecuali untuk obat-obatan dan gandum yang masih mendapatkan perlakuan khusus.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
APBN 2025 Defisit 2,92 Persen dari PDB, Pemerintah Klaim Masih Aman
• 8 jam lalukatadata.co.id
thumb
Penguatan Baht Tekan Ekonomi Thailand, Pedagang Dorong Beli Emas Pakai Dolar
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
KPK Periksa Eks Kajari Bekasi Kasus Suap Ijon Proyek Bupati Ade Kuswara
• 23 jam lalusuara.com
thumb
Sayyed Ali Khamenei Tegaskan Tidak akan Toleransi Agen Musuh
• 15 jam lalufajar.co.id
thumb
Charity Event PERSIB-APPI dengan Dompet Dhuafa, ‘Dari Sepakbola untuk Sumatra’
• 1 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.