Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit sebesar Rp695,1 triliun hingga akhir 2025, atau setara 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka tersebut melebar dibandingkan outlook semester sebelumnya yang memproyeksikan defisit berada pada level 2,78 persen PDB, atau sekitar Rp662 triliun. Purbaya menjelaskan, pelebaran defisit ini merupakan langkah kebijakan yang ditempuh pemerintah untuk menjaga perekonomian nasional tetap berekspansi di tengah tekanan global yang masih tinggi, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian fiskal.
Hingga 31 Desember 2025, pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun atau setara 91,7 persen dari outlook APBN 2025. Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari target outlook tahun berjalan.
Baca Juga :
Target APBN Tercapai, Mensesneg: ESDM Fokus Lelang 75 Blok Minyak BaruPurbaya menegaskan, belanja negara terus diarahkan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, serta mendukung pelaksanaan program-program prioritas pemerintah. Ia menilai, peran belanja pemerintah masih krusial dalam menopang aktivitas ekonomi, terutama saat ketidakpastian global masih membayangi.
Menatap tahun 2026, Purbaya optimistis defisit APBN dapat ditekan ke level yang lebih rendah seiring membaiknya fondasi perekonomian nasional dan menguatnya momentum pertumbuhan.
Pemerintah menargetkan dampak pertumbuhan ekonomi ke masyarakat dapat lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 5,4 persen, dan diupayakan meningkat lebih tinggi.
Pemerintah memastikan pengelolaan fiskal ke depan tetap diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan APBN.
(Farouq Faza Bagjawan Alnanto)



