Moskow (ANTARA) - Uni Eropa tengah memantau perkembangan situasi di Iran, di mana aksi protes massal yang disertai kekerasan terus berlangsung sejak bulan lalu, kata Juru Bicara Komisi Eropa Anouar El Anouni, Jumat.
“Kami memantau secara saksama situasi di Iran, termasuk perkembangan terbaru di wilayah barat daya negara itu. Kami menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya jumlah korban tewas dan luka-luka, serta menolak segala bentuk kekerasan terhadap demonstran damai,” kata El Anouni dalam sebuah pengarahan pers.
Aksi protes di Iran mulai merebak pada akhir Desember seiring melemahnya nilai tukar mata uang nasional, rial Iran. Para demonstran memprotes volatilitas tajam nilai tukar yang berdampak langsung pada kenaikan harga di tingkat grosir maupun ritel/eceran.
Sebelumnya pada Jumat, media Iran melaporkan terjadi kerusakan pada properti milik swasta dan negara di Teheran akibat aksi para pengunjuk rasa.
Wali Kota Teheran Alireza Zakani juga menyebut adanya serangan terhadap fasilitas aparat keamanan pada 8 Januari, pembakaran bus dan mobil pemadam kebakaran, serta penyerangan terhadap bank.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran melaporkan adanya korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun tidak merinci pihak mana yang menjadi korban.
Iran saat ini tengah menghadapi tekanan ekonomi yang berat dengan tingkat inflasi tinggi. Bank Sentral Iran mencatat laju inflasi tahunan mencapai 38,9 persen.
Nilai tukar dolar AS di pasar nonresmi yang sebelum penarikan Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir pada Mei 2018 berada di kisaran 50.000 rial, kini melonjak hingga sekitar 1,4 juta rial per dolar AS di pasar terbuka.
Sumber: Sputnik/RIA-Novosti -OANA
Baca juga: Iran kecilkan risiko eskalasi, tuding AS dan Israel picu protes
Baca juga: Pemimpin tertinggi Iran ingatkan demonstran soal campur tangan asing
“Kami memantau secara saksama situasi di Iran, termasuk perkembangan terbaru di wilayah barat daya negara itu. Kami menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya jumlah korban tewas dan luka-luka, serta menolak segala bentuk kekerasan terhadap demonstran damai,” kata El Anouni dalam sebuah pengarahan pers.
Aksi protes di Iran mulai merebak pada akhir Desember seiring melemahnya nilai tukar mata uang nasional, rial Iran. Para demonstran memprotes volatilitas tajam nilai tukar yang berdampak langsung pada kenaikan harga di tingkat grosir maupun ritel/eceran.
Sebelumnya pada Jumat, media Iran melaporkan terjadi kerusakan pada properti milik swasta dan negara di Teheran akibat aksi para pengunjuk rasa.
Wali Kota Teheran Alireza Zakani juga menyebut adanya serangan terhadap fasilitas aparat keamanan pada 8 Januari, pembakaran bus dan mobil pemadam kebakaran, serta penyerangan terhadap bank.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran melaporkan adanya korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun tidak merinci pihak mana yang menjadi korban.
Iran saat ini tengah menghadapi tekanan ekonomi yang berat dengan tingkat inflasi tinggi. Bank Sentral Iran mencatat laju inflasi tahunan mencapai 38,9 persen.
Nilai tukar dolar AS di pasar nonresmi yang sebelum penarikan Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir pada Mei 2018 berada di kisaran 50.000 rial, kini melonjak hingga sekitar 1,4 juta rial per dolar AS di pasar terbuka.
Sumber: Sputnik/RIA-Novosti -OANA
Baca juga: Iran kecilkan risiko eskalasi, tuding AS dan Israel picu protes
Baca juga: Pemimpin tertinggi Iran ingatkan demonstran soal campur tangan asing



