Relawan tim medis dari Emergency Medical Team (EMT) ke-12 MER-C Indonesia telah resmi memulai tugas kemanusiaan mereka di Jalur Gaza, Palestina. Dua dokter relawan, yakni dr. Ni Nyoman Indirawati Kusuma, SpPD, KPMK., dan dr. Mohamad Reynaldi, tiba di Gaza pada 6 Januari 2026 dan dijadwalkan bertugas selama satu bulan ke depan.
Pada hari pertama bertugas, Rabu 7 Januari 2026, tim langsung meninjau Klinik Giving Without Borders yang lebih populer dikenal oleh warga lokal sebagai Klinik Indonesia.
Klinik yang terletak di daerah Al-Mawasi ini mengalami perkembangan luar biasa sejak pertama kali didirikan. Dr. Indirawati mengungkapkan kekagumannya atas fasilitas yang kini semakin lengkap untuk melayani masyarakat Gaza yang sedang dilanda krisis.
"Masyarakat di sini mengenalnya bukan sebagai Klinik Giving Without Borders, tapi Klinik Indonesia (Indonesian Clinic). Begitu masyhur dan terkenalnya sampai pasien yang datang mencapai 1.000 hingga 2.000 orang per harinya," ujar dr. Indirawati
Baca juga: UNRWA Nilai Bantuan ke Gaza Masih Jauh dari Cukup
Beberapa fasilitas baru yang kini tersedia di Klinik Indonesia meliputi:
- Departemen Gawat Darurat (UGD): Dilengkapi dengan oksigen, troli medis, mesin EKG (rekam jantung), dan kasur perawatan.
- Klinik Vaksinasi: Melayani vaksinasi wajib bagi anak-anak di Gaza yang telah beroperasi selama tiga bulan terakhir.
- Layanan Spesialis: Tersedia klinik pediatri (anak), bedah, penyakit dalam, psikiatri, hingga klinik gigi yang seluruh pelayanannya diberikan secara gratis.
- Fasilitas Pendukung: Tersedia unit ambulans yang siap mengevakuasi pasien ke rumah sakit jika membutuhkan perawatan lebih lanjut.
Selain pelayanan medis, Klinik Indonesia kini memegang peran strategis di Gaza Selatan. Klinik ini telah dipercaya oleh Kementerian Kesehatan (Ministry of Health) setempat sebagai Pusat Penyimpanan Obat-obatan untuk layanan kesehatan primer di wilayah Gaza Selatan.
Klinik ini juga berfungsi sebagai pusat pendidikan bagi tenaga medis lokal. Saat ini, banyak dokter residen, dokter gigi yang sedang menjalani residensi, hingga mahasiswa farmasi dan IT yang melakukan magang (internship) di fasilitas tersebut.
"Bantuan doa dan donasi dari teman-teman di Indonesia tidak hanya bermanfaat untuk pelayanan kesehatan, tetapi juga untuk mendukung pendidikan calon tenaga medis di Gaza," tambah dr. Indirawati.

