Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengajak mahasiswa untuk aktif berkontribusi untuk membangun politik dan demokrasi yang lebih sehat, jangan malah bersikap apatis.
Ia mengatakan di DPR ruang partisipasi publik selalu terbuka dan terdapat Badan Aspirasi Masyarakat, yang bertugas menerima dan menindaklanjuti aspirasi rakyat.
"Mahasiswa dapat memanfaatkan ruang ini untuk menyampaikan gagasan, termasuk terkait revisi undang-undang pemilu dan pilkada. Saya berharap mahasiswa tetap berada di jalur idealisme, membersamai Perjuangan Politik yang tetap ingin berada di jalur idealisme atau keberpihakan lebih kepada kemaslahatan rakyat, menjadi kekuatan moral, dan terus mencerahkan rakyat dan opini publik, menguatkan politik nilai yang berdaulat politik yang berpihak pada rakyat, berkeadilan, dan berkeadaban, dan kemajuan umat bangsa dan negara," kata HNW dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Hal itu disampaikan HNW saat menerima kunjungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA) Zona III. Pertemuan itu membahas sejumlah isu politik isu, sekaligus menyampaikan undangan untuk HNW dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) BEM PTMA Zona III pada bulan depan.
HNW menyambut hangat kehadiran delapan orang mahasiswa, di antaranya Presidium Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah–’Aisyiyah (PTMA) Zona III, Wildan Mutaqin, Presma Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta (UTMJ) Sauqi, dan Presma Uhamka, Agus, di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jakarta.
Para mahasiswa kemudian mengundang HNW untuk hadir sebagai pembicara utama dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) BEM PTMA Zona III, yang rencananya akan dilaksanakan di Bandung pada 12-14 Februari mendatang.
Dalam kesempatan itu, HNW mengatakan politik dan demokrasi memang penuh paradoks. Tidak selalu ada hubungan lurus antara kebenaran gagasan, konsistensi sikap, dan hasil elektoral. Itu adalah realitas yang harus kita hadapi bersama.
"Prinsipnya sederhana, nilai yang kami perjuangkan tetap harus diperjuangkan, baik dipilih maupun tidak dipilih. Ketika kami membela rakyat, kami tidak pernah bertanya apakah rakyat tersebut memilih kami atau tidak. Karena partai politik sejatinya adalah alat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan sekadar alat elektoral," ujarnya.
Menurutnya demokrasi Indonesia memang masih menghadapi tantangan besar. Biaya politik yang mahal, praktik politik uang, lemahnya penegakan netralitas aparat, hingga rendahnya literasi politik masyarakat menjadi persoalan serius. Namun, menyalahkan rakyat semata juga tidak adil.
"Karenanya jika ingin membenahi demokrasi, maka pembenahan harus dimulai dari hulunya, yakni sistem kepartaian, rekrutmen politik, penegakan hukum, dan komitmen elite politik itu sendiri. Ketiga, mahasiswa tidak boleh terjebak dalam apatisme," kata HNW.
Ia mengatakan mahasiswa harus menjadi sumber optimisme dan pencerahan. HNW sangat percaya bahwa daripada mengutuk gelapnya malam, lebih baik kita menyalakan obor.
"Satu obor memang kecil, tetapi ketika obor-obor itu dinyalakan bersama, cahaya akan semakin terang. Alternatif dari demokrasi bukanlah sesuatu yang lebih baik. Tanpa demokrasi, kita berisiko jatuh pada otoritarianisme, tirani, atau ekstremisme," tuturnya.
Para mahasiswa yang hadir menilai HNW merupakan salah satu politisi nasional yang sangat terbuka dan mudah ditemui oleh mahasiswa, organisasi kepemudaan, serta aliansi masyarakat sipil. Bahkan dalam forum-forum kecil sekalipun, tetap bersedia hadir dan berdialog.
"Hal ini menjadi catatan penting dan apresiasi bagi kami, karena tidak semua pejabat publik memiliki keterbukaan yang sama," ujar Presidium Nasional BEM PTMA Zona III, Wildan Mutaqin.
Selain itu, mereka juga memberikan pandangan kritis terkait dari tingginya biaya politik, lemahnya kaderisasi, hingga fenomena perpindahan kader antarpartai yang sangat cair dan pragmatis.
Baca juga: HNW: Pendidikan, keislaman, dan keindonesiaan kesatuan yang menguatkan
Baca juga: MPR ajak generasi muda jadikan sejarah sebagai inspirasi bangun bangsa
Ia mengatakan di DPR ruang partisipasi publik selalu terbuka dan terdapat Badan Aspirasi Masyarakat, yang bertugas menerima dan menindaklanjuti aspirasi rakyat.
"Mahasiswa dapat memanfaatkan ruang ini untuk menyampaikan gagasan, termasuk terkait revisi undang-undang pemilu dan pilkada. Saya berharap mahasiswa tetap berada di jalur idealisme, membersamai Perjuangan Politik yang tetap ingin berada di jalur idealisme atau keberpihakan lebih kepada kemaslahatan rakyat, menjadi kekuatan moral, dan terus mencerahkan rakyat dan opini publik, menguatkan politik nilai yang berdaulat politik yang berpihak pada rakyat, berkeadilan, dan berkeadaban, dan kemajuan umat bangsa dan negara," kata HNW dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Hal itu disampaikan HNW saat menerima kunjungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA) Zona III. Pertemuan itu membahas sejumlah isu politik isu, sekaligus menyampaikan undangan untuk HNW dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) BEM PTMA Zona III pada bulan depan.
HNW menyambut hangat kehadiran delapan orang mahasiswa, di antaranya Presidium Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah–’Aisyiyah (PTMA) Zona III, Wildan Mutaqin, Presma Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta (UTMJ) Sauqi, dan Presma Uhamka, Agus, di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jakarta.
Para mahasiswa kemudian mengundang HNW untuk hadir sebagai pembicara utama dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) BEM PTMA Zona III, yang rencananya akan dilaksanakan di Bandung pada 12-14 Februari mendatang.
Dalam kesempatan itu, HNW mengatakan politik dan demokrasi memang penuh paradoks. Tidak selalu ada hubungan lurus antara kebenaran gagasan, konsistensi sikap, dan hasil elektoral. Itu adalah realitas yang harus kita hadapi bersama.
"Prinsipnya sederhana, nilai yang kami perjuangkan tetap harus diperjuangkan, baik dipilih maupun tidak dipilih. Ketika kami membela rakyat, kami tidak pernah bertanya apakah rakyat tersebut memilih kami atau tidak. Karena partai politik sejatinya adalah alat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan sekadar alat elektoral," ujarnya.
Menurutnya demokrasi Indonesia memang masih menghadapi tantangan besar. Biaya politik yang mahal, praktik politik uang, lemahnya penegakan netralitas aparat, hingga rendahnya literasi politik masyarakat menjadi persoalan serius. Namun, menyalahkan rakyat semata juga tidak adil.
"Karenanya jika ingin membenahi demokrasi, maka pembenahan harus dimulai dari hulunya, yakni sistem kepartaian, rekrutmen politik, penegakan hukum, dan komitmen elite politik itu sendiri. Ketiga, mahasiswa tidak boleh terjebak dalam apatisme," kata HNW.
Ia mengatakan mahasiswa harus menjadi sumber optimisme dan pencerahan. HNW sangat percaya bahwa daripada mengutuk gelapnya malam, lebih baik kita menyalakan obor.
"Satu obor memang kecil, tetapi ketika obor-obor itu dinyalakan bersama, cahaya akan semakin terang. Alternatif dari demokrasi bukanlah sesuatu yang lebih baik. Tanpa demokrasi, kita berisiko jatuh pada otoritarianisme, tirani, atau ekstremisme," tuturnya.
Para mahasiswa yang hadir menilai HNW merupakan salah satu politisi nasional yang sangat terbuka dan mudah ditemui oleh mahasiswa, organisasi kepemudaan, serta aliansi masyarakat sipil. Bahkan dalam forum-forum kecil sekalipun, tetap bersedia hadir dan berdialog.
"Hal ini menjadi catatan penting dan apresiasi bagi kami, karena tidak semua pejabat publik memiliki keterbukaan yang sama," ujar Presidium Nasional BEM PTMA Zona III, Wildan Mutaqin.
Selain itu, mereka juga memberikan pandangan kritis terkait dari tingginya biaya politik, lemahnya kaderisasi, hingga fenomena perpindahan kader antarpartai yang sangat cair dan pragmatis.
Baca juga: HNW: Pendidikan, keislaman, dan keindonesiaan kesatuan yang menguatkan
Baca juga: MPR ajak generasi muda jadikan sejarah sebagai inspirasi bangun bangsa




