Seorang demonstran mengibarkan bendera Jolly Roger Bajak Laut Topi Jerami dari serial One Piece ketika massa berkumpul di luar fasilitas ICE Portland, menyusul penembakan terhadap dua orang oleh agen federal AS, di Portland, Oregon, Kamis (8/1/2026). Ratusan orang kemudian turun ke jalan di pusat kota pada malam hari, memprotes insiden tersebut yang memicu meningkatnya ketegangan terkait kebijakan penegakan imigrasi federal. (REUTERS/John Rudoff)
2/5Insiden bermula sekitar pukul 14.15 waktu setempat di bagian timur Portland ketika agen U.S. Customs and Border Protection menghentikan sebuah kendaraan dalam operasi terarah. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) mengatakan agen melepaskan tembakan defensif setelah pengemudi, yang digambarkan sebagai tersangka anggota geng Venezuela, berusaha menabrakkan mobilnya ke arah petugas. Pengemudi dan penumpang kemudian kabur dari lokasi, tetapi keduanya kemudian ditemukan dalam keadaan terluka dan dibawa ke rumah sakit. Kondisi kesehatan mereka belum dipublikasikan. (REUTERS/John Rudoff)
Ratusan warga berkumpul di sekitar markas besar Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) dan Balai Kota Portland pada Kamis malam, meneriakkan tuntutan untuk menghentikan operasi penegakan imigrasi federal dan mendesak otoritas memberikan pertanggungjawaban penuh atas tindakan tersebut. Sejumlah demonstran menghadapi barikade polisi; aparat kemudian melakukan penahanan terhadap beberapa peserta protes. (REUTERS/John Rudoff)
4/5Kemarahan publik di Portland datang hanya sehari setelah insiden serupa di Minneapolis, di mana seorang agen ICE menembak mati seorang wanita, yang memicu protes dan kecaman di berbagai kota di Amerika Serikat. Peristiwa beruntun ini semakin memperkuat perdebatan nasional mengenai taktik kekerasan dalam penegakan imigrasi serta peran lembaga federal di komunitas lokal. (REUTERS/John Rudoff)
Pejabat lokal, termasuk wali kota Portland dan gubernur Oregon, telah menyerukan penyelidikan menyeluruh dan menuntut penghentian sementara operasi ICE di wilayah tersebut, sambil mengimbau warga untuk tetap tenang meskipun ketegangan tetap tinggi. (REUTERS/John Rudoff)

