Perhatian pelaku pasar kembali tertuju pada potensi perubahan komposisi indeks MSCI Indonesia.
IDXChannel - Perhatian pelaku pasar kembali tertuju pada potensi perubahan komposisi indeks MSCI Indonesia saat memasuki 2026.
Peninjauan indeks global ini kerap menjadi katalis penting di pasar saham, mengingat pergerakan dana asing biasanya mengikuti hasil rebalancing yang diumumkan MSCI.
Berdasarkan riset Samuel Sekuritas Jumat (9/1/2025), MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil peninjauan indeks pada 10 Februari 2026, dengan tanggal efektif rebalancing pada 1 Maret 2026.
Seiring mendekatnya agenda tersebut, sejumlah emiten mulai mencuat sebagai kandidat kuat untuk masuk ke dalam indeks MSCI, baik pada kategori Global Standard maupun Small Cap.
Samuel Sekuritas menilai, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebagai salah satu kandidat terkuat untuk masuk ke MSCI Indonesia Global Standard.
Saat ini, BUMI memiliki kapitalisasi pasar sekitar USD10,3 miliar dengan tingkat free float mencapai 28,3 persen. Dari sisi likuiditas, saham ini juga tergolong solid dengan rata-rata nilai transaksi harian satu tahun terakhir mencapai USD36,7 juta.
Dengan kombinasi kapitalisasi pasar, free float, dan likuiditas tersebut, Samuel Sekuritas memperkirakan potensi aliran dana asing yang dapat masuk ke BUMI berada di kisaran USD180-USD300 juta apabila resmi masuk ke dalam indeks MSCI.
Selain BUMI, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) juga dinilai memiliki peluang signifikan untuk masuk ke MSCI Indonesia Global Standard.
PANI saat ini mencatatkan kapitalisasi pasar sekitar USD13,3 miliar dengan free float sebesar 15,9 persen. Meski likuiditas perdagangannya relatif lebih rendah dibandingkan BUMI, skala kapitalisasi pasar dan struktur kepemilikan saham PANI tetap menjadikannya kandidat kuat, dengan estimasi potensi foreign inflow yang serupa, yakni di kisaran USD180-USD300 juta.
Deretan Kandidat MSCI Small CapDi luar kategori Global Standard, Samuel Sekuritas juga mengidentifikasi sejumlah saham yang berpotensi masuk ke MSCI Indonesia Small Cap. Emiten-emiten seperti DEWA, ISAT, ADMR, COIN, BIPI, BUVA, TINS, BULL, dan SSIA dinilai telah memenuhi kriteria MSCI dari sisi kapitalisasi pasar, free float, serta likuiditas perdagangan.
Masuknya saham-saham tersebut ke dalam indeks MSCI Small Cap berpotensi meningkatkan visibilitas di mata investor global dan memperluas basis investor institusi asing, meskipun estimasi aliran dana asing yang masuk diperkirakan lebih terbatas dibandingkan kategori Global Standard.
Di sisi lain, rebalancing MSCI tidak hanya membuka peluang masuk, tetapi juga membawa risiko keluarnya sejumlah saham dari indeks. Samuel Sekuritas menyebutkan, INDF sebagai salah satu emiten yang berpotensi terdampak di kategori MSCI Indonesia Global Standard.
Sementara itu, pada kategori MSCI Indonesia Small Cap, saham-saham seperti AALI, MIDI, ACES, dan CLEO juga berpeluang keluar dari indeks. Potensi arus keluar dana asing dari saham-saham tersebut perlu menjadi perhatian investor, terutama menjelang periode pengumuman hasil peninjauan dan implementasi rebalancing MSCI.
Dengan dinamika tersebut, pelaku pasar disarankan untuk mencermati perkembangan menjelang Februari 2026, mengingat perubahan komposisi indeks MSCI kerap memicu volatilitas sekaligus peluang trading dan investasi jangka menengah di pasar saham Indonesia.
(DESI ANGRIANI)




