Dari Ceramah ke Klik: Apa yang Hilang di Antaranya?

kumparan.com
19 jam lalu
Cover Berita

Beberapa tahun terakhir, ruang kelas berubah wajah. Papan tulis tetap ada; kapur tak sepenuhnya pergi, ia kini berbagi ruang dengan spidol, lalu disusul layar, aplikasi, dan tombol “klik”. Guru diminta adaptif, inovatif, dan—ini yang jarang tertulis—tidak terlalu banyak bicara.

Ceramah kini seperti kebiasaan lama yang sebaiknya disimpan rapi di lemari sejarah pendidikan. Konon, semakin sedikit guru berbicara, semakin modern lah kelas itu. Entah sejak kapan diam dianggap lebih mendidik daripada bertutur.

Narasi pendidikan mutakhir gemar menyederhanakan masalah. Jika murid bosan, metodenya yang salah. Jika hasil belajar rendah, gurunya kurang kreatif. Maka solusinya pun seragam: ganti metode, tambah aplikasi, perbanyak klik. Seolah persoalan pendidikan bisa diselesaikan seperti memperbarui perangkat lunak.

Padahal, data PISA 2022 menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik Indonesia masih tertinggal dari rata-rata OECD, justru di tengah gegap gempita digitalisasi sekolah. Teknologi sudah hadir, tetapi mutu belum ikut melonjak. Mungkin yang kurang bukan sinyal internet, melainkan sinyal makna.

Ceramah—dalam banyak diskusi—kerap diposisikan sebagai biang kebosanan. Ia disamakan dengan monolog, kekuasaan, bahkan kemalasan pedagogik. Padahal, ceramah bukan sekadar guru berbicara dan murid mendengarkan dengan wajah kosong. Ceramah yang hidup adalah seni bertutur—kemampuan merangkai pengetahuan dengan pengalaman, menyelipkan nilai di sela konsep, dan memberi arah di tengah kegamangan remaja.

Namun, seni semacam ini sulit diukur, tidak punya indikator klik, dan tentu saja tidak bisa diunggah sebagai laporan inovasi. Dalam sistem yang gemar mengukur segala sesuatu, yang tak terukur sering kali dianggap tak penting, bahkan dicurigai tidak produktif.

Kita hidup di era banjir informasi. Murid bisa menemukan penjelasan apa pun dalam hitungan detik. Video singkat menjanjikan pemahaman instan, ringkas, dan menyenangkan. Namun di tengah limpahan itu, pertanyaan “mengapa” sering tercecer. Banyak murid tahu jawabannya, tetapi tak yakin apa artinya. Mereka terbiasa memilih jawaban, bukan memaknai persoalan. Di sinilah suara guru seharusnya hadir.

Bukan sebagai mesin informasi—karena peran itu sudah kalah cepat—melainkan sebagai penunjuk makna. Sayangnya, suara ini kerap dianggap gangguan dalam kelas yang terlalu sibuk mengejar target metode dan laporan administratif.

Di banyak ruang kelas, keberhasilan belajar kini lebih sering diukur dari keterisian formulir, unggahan tugas, dan kelengkapan instrumen penilaian. Proses menjadi sekunder, refleksi dianggap memperlambat, dan percakapan bermakna dipangkas demi efisiensi. Pendidikan tampak rapi di atas kertas, tetapi sering terasa kosong di pengalaman.

Dalam situasi seperti ini, ceramah yang hidup justru terasa asing karena ia menuntut waktu, perhatian, dan keberanian untuk tidak selalu serba instan.

Kritik terhadap ceramah tentu tidak sepenuhnya keliru. Ceramah yang kaku, panjang, dan menutup dialog memang layak ditinggalkan. Namun menjadikan ceramah sebagai musuh bersama adalah bentuk kemalasan berpikir yang lain. Kita terlalu sibuk memilih antara ceramah atau klik, seolah pendidikan adalah pertandingan metode.

Padahal yang seharusnya dipertanyakan: Apa yang ditinggalkan guru pada murid setelah kelas usai? Apakah hanya jejak tugas yang dikumpulkan, atau nilai yang diam-diam membentuk cara mereka melihat dunia?

Berbagai survei pendidikan menunjukkan satu hal yang jarang disorot: murid lebih mudah mengingat sikap guru daripada isi pelajaran. Nada bicara, cara menegur, dan keberanian bersikap adil sering melekat lebih lama daripada rumus atau definisi. Ini bukan nostalgia, melainkan fakta psikologis tentang belajar.

Nilai tidak tumbuh dari menu pilihan ganda, melainkan dari contoh yang diulang. Dan contoh paling dekat di sekolah adalah guru itu sendiri—bukan aplikasi, bukan modul, apalagi template pembelajaran yang seragam.

Di titik inilah wajah pendidikan kita terasa pahit. Kita berharap sekolah membentuk karakter, tetapi alergi pada proses yang memungkinkan karakter itu ditanamkan. Kita ingin murid beretika, kritis, dan empatik, tetapi mencurigai guru yang berbicara dengan hati. Kita memuja istilah “student-centered learning”, tetapi gelisah jika guru terlalu tampak sebagai manusia yang punya suara, pendirian, dan nilai.

Menatap 2026, pengharapan pendidikan seharusnya lebih dewasa. Tidak kembali ke romantisme masa lalu, tetapi juga tidak mabuk teknologi. Guru perlu diberi ruang untuk berbicara, bukan sekadar mengklik. Teknologi perlu ditempatkan sebagai alat, bukan sebagai tujuan moral baru. Dan kelas perlu kembali menjadi ruang perjumpaan, bukan sekadar ruang transaksi informasi.

Dari ceramah ke klik seharusnya bukan soal perpindahan ekstrem, melainkan keseimbangan. Karena pada akhirnya, murid mungkin lupa aplikasi apa yang dipakai, tetapi mereka akan selalu ingat siapa guru yang pernah berbicara kepada mereka—bukan hanya dengan suara, melainkan juga dengan hati.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kolaborasi Lintas Generasi, JKT48 dan Rhoma Irama Meriahkan HUT ke-31 Indosiar
• 4 jam laluliputan6.com
thumb
Mentan Amran Sidak 133,5 ton Bawang Bombay Selundupan Berpenyakit : “Tidak Ada Ampun, Usut Sampai Akar”
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Pesona Getah dari Hutan Toba, Semerbak di Altar Sakral-Incaran Dunia
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pelatih Persija Berikan Penilaian kepada Persib: Klub dengan Investasi Terbesar, Punya Banyak Pemain Timnas Indonesia
• 5 jam lalubola.com
thumb
Ramai Isu Air Sinkhole Berkhasiat di Limapuluh Kota, Badan Geologi Beri Peringatan
• 5 jam lalumerahputih.com
Berhasil disimpan.