Bisnis.com, SURABAYA – Upaya untuk menjaga pesisir Surabaya, Jawa Timur (Jatim), dari berbagai ancaman, seperti abrasi dan perubahan iklim yang drastis.
Kisah untuk menjaga lingkungan agar tetap lestari, bersemi lewat akar-akar mangrove yang ditanam oleh para petani yang menggantungkan hidupnya pada kawasan itu.
Terminal Petikemas Surabaya (TPS), anak usaha Pelindo Terminal Petikemas, mengupayakan restorasi wilayah pesisir Surabaya serta melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat pesisir lewat "Menanam Harapan Menjaga Keberlanjutan".
Program ini bukan hanya memulihkan ekosistem pesisir, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi petani mangrove yang menggantungkan hidupnya pada alam.
Bekerja sama dengan Kelompok Petani Mangrove Kompak Mandiri Lestari, TPS mendukung pembibitan sebanyak 10.000 bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata.
Program tersebut menjadi sumber penghasilan tambahan bagi para petani, apalagi di tengah ketidakpastian pendapatan akibat perubahan musim dan tekanan lingkungan pesisir.
Baca Juga
- 100 Selesai, Walkot Eri Cahyadi Ungkap Masih Ada 250 Titik Banjir di Surabaya
- 18 Warga Jatim Terjangkit Superflu, Mayoritas Usia Anak dan Remaja
- Sukses Swasembada Pangan, Gubernur Khofifah Raih Satyalancana Wira Karya
Bagi kelompok petani, pembibitan mangrove tidak hanya aktivitas lingkungan semata, tetapi juga ruang untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Setiap rangkaian yang dilalui, mulai dari pengumpulan propagul, proses pembibitan, perawatan harian, hingga pemantauan pertumbuhan, memberikan nilai ekonomis sekaligus membuka lapangan kerja berbasis kearifan lokal.
Salah satu anggota kelompok tani, Moch. Toha, mengaku bahwa dirinya merasakan langsung dampak dari program ini.
Sebagai nelayan pesisir, penghasilannya sangat bergantung pada cuaca. Saat gelombang tinggi dan angin kencang melanda, melaut bukan pilihan yang mutlak.
"Kalau melaut tidak selalu bisa setiap hari. Dengan pembibitan mangrove, kami tetap punya penghasilan. Hasilnya bisa membantu biaya sekolah anak dan kebutuhan sehari-hari. Kami merasa lebih tenang karena ada pekerjaan yang berkelanjutan," tutur Toha sambil merawat bibit mangrove di persemaian, Jumat (9/1/2026).
Sementara itu, Ketua Kelompok Kompak Mandiri Lestari, Shodiq Machfudz, menyebut bahwa program tersebut tidak hanya semata-mata dapat mengerek pendapatan mereka. Namun, juga menumbuhkan rasa percaya diri dan kebanggaan di antara kalangan petani pesisir
"Kami merasa dipercaya dan dilibatkan sebagai mitra. Mangrove yang kami rawat bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari masa depan keluarga kami," ucapnya.
TPS memastikan rangkaian proses penanaman, mulai dari proses pembibitan dilakukan secara profesional dengan standar yang jelas, disertai pendampingan teknis yang meningkatkan keterampilan petani.
Pendekatan tersebut tidak hanya menjamin kualitas bibit sendiri, tetapi juga memperkuat kapasitas dan kemandirian ekonomi dari masyarakat pesisir.
Sekretaris Perusahaan TPS, Erika A. Palupi, menegaskan bahwa keberhasilan program mangrove diukur tidak hanya dari jumlah bibit yang ditanam, melainkan juga bersumber dari perubahan nyata yang hadir pada kehidupan masing-masing petani.
"Bagi TPS, keberlanjutan sejati adalah ketika lingkungan pulih dan masyarakatnya sejahtera. Kami ingin petani mangrove merasakan manfaat langsung dari program ini, memiliki pendapatan yang lebih baik, keterampilan yang meningkat, dan masa depan yang lebih pasti," ucap Erika.
Selain berfungsi sebagai benteng alami terhadap abrasi dan penyerap karbon biru, mangrove juga dapat dijadikan sumber nilai ekonomi jangka panjang apabila dikelola secara berkelanjutan.
Menurutnya, program pembibitan tersebut membuka peluang bagi petani untuk terlibat dalam rantai nilai restorasi pesisir, sekaligus memperkuat peran mereka sebagai penjaga ekosistem dan pelaku ekonomi hijau.
Ditargetkan siap tanam pada April 2026, bibit mangrove hasil pembibitan tersebut selanjutnya akan didistribusikan untuk mendukung rehabilitasi di sepanjang kawasan pesisir Surabaya serta wilayah lain di Tanah Air yang membutuhkan.
TPS juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak yang menempatkan petani mangrove sebagai mitra utama dalam pelaksanaan program.
"Keberlanjutan bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi tentang membangun kehidupan yang lebih baik. Melalui pembibitan mangrove ini, TPS ingin menumbuhkan ekosistem yang sehat sekaligus ekonomi masyarakat pesisir yang lebih tangguh dan bermartabat," pungkas Erika.

