Henti Jantung Bisa Terjadi di Sekitar Kita, Apakah Kita Siap Menolong?

kumparan.com
19 jam lalu
Cover Berita

Henti jantung sering kita bayangkan sebagai sesuatu yang terjadi di rumah sakit, di ruang ICU, atau pada pasien dengan penyakit berat. Kenyataannya jauh lebih dekat dari itu. Henti jantung bisa terjadi di rumah, di kampus, di tempat kerja, di jalan, bahkan di ruang publik yang kita kunjungi setiap hari. Dan sering kali, ia terjadi tanpa peringatan.

Henti jantung mendadak adalah kondisi ketika jantung berhenti memompa darah secara efektif yang menyebabkan aliran oksigen ke otak terhenti. Dalam waktu 4–6 menit saja, kerusakan otak dapat mulai terjadi. Setiap menit tanpa pertolongan akan menurunkan peluang hidup korban secara drastis.

Menunggu ambulans tanpa melakukan tindakan apa pun sering kali berarti kehilangan kesempatan emas untuk menyelamatkan nyawa.

Masalahnya, banyak orang masih berpikir bahwa menolong korban henti jantung adalah tugas tenaga kesehatan. Padahal, orang pertama yang berada di dekat korban justru adalah penentu utama hidup dan mati seseorang.

Kabar baiknya, menolong korban henti jantung tidak selalu membutuhkan keterampilan medis yang rumit. American Heart Association (AHA) telah merekomendasikan metode Hand-Only CPR, yaitu CPR dengan kompresi dada saja, khusus untuk masyarakat awam. Metode ini dirancang agar mudah dipelajari, mudah diingat, dan berani dilakukan.

Hand-Only CPR dilakukan dengan langkah sederhana dengan memastikan korban tidak responsif dan tidak bernapas normal, segera menghubungi layanan darurat, lalu melakukan kompresi dada yang kuat dan cepat di tengah dada korban dengan kecepatan sekitar 100–120 kali per menit. Tidak ada napas buatan, tidak perlu alat, yang terpenting adalah bertindak cepat.

Banyak orang ragu menolong karena takut salah, takut disalahkan, atau takut memperburuk kondisi korban. Padahal, pada korban henti jantung, tidak melakukan apa-apa justru merupakan risiko terbesar. CPR yang dilakukan meski tidak sempurna jauh lebih baik dibandingkan membiarkan korban tanpa aliran darah ke otak.

AHA menegaskan bahwa Hand-Only CPR terbukti meningkatkan angka kelangsungan hidup korban henti jantung di luar rumah sakit. Ini berarti, pengetahuan sederhana yang dimiliki masyarakat dapat menjadi pembeda antara hidup dan mati.

Dalam konteks Indonesia, tantangan kita bukan hanya keterbatasan akses layanan gawat darurat, melainkan juga rendahnya literasi kegawatdaruratan dasar. Edukasi Hand-Only CPR seharusnya tidak berhenti di ruang kelas keperawatan atau pelatihan profesional, tetapi menjadi pengetahuan publik dan harus dikenalkan di sekolah, kampus, tempat kerja, dan ruang-ruang publik.

Kita tidak pernah tahu kapan akan berada di posisi sebagai saksi pertama sebuah kondisi darurat. Namun satu hal pasti: ketika henti jantung terjadi, waktu tidak akan menunggu siapa pun.

Belajar Hand-Only CPR bukan tentang menjadi tenaga kesehatan. Ini tentang menjadi manusia yang siap bertindak ketika nyawa seseorang bergantung pada keberanian orang di sekitarnya. Karena pada akhirnya, orang yang menyelamatkan nyawa itu bisa saja adalah kita sendiri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Trump dukung RUU Senat soal sanksi untuk negara pengimpor minyak Rusia
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
BMKG Deteksi Sirkulasi Siklonik, Hujan Lebat Ancam Sejumlah Provinsi Ini Sabtu 10 Januari 2026
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Roda Pemerintahan di Sumatera Ditargetkan Normal Sebelum Puasa
• 16 jam laludetik.com
thumb
Mauricio Souza Ultimatum Wasit dan VAR Jelang Laga Persib Vs Persija, Sebut Jangan Jadi Sumber Masalah Baru
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Jasad ABK KM Prima Hasil Samudra Ditemukan Mengambang di Dermaga Muara Baru Setelah Pencarian Intensif
• 7 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.