Perekonomian Tiongkok terus mengalami kelesuan, tingkat pengangguran tetap tinggi. Banyak orang tidak dapat menemukan pekerjaan dan terpaksa bermalam di jalanan. Data menunjukkan bahwa kelompok tunawisma di Tiongkok semakin muda, dan di banyak kota besar, taman-taman serta kolong jembatan secara diam-diam sudah “dipenuhi orang”.
EtIndonesia. Sejak 2025, dua pilar utama ekonomi Tiongkok—sektor properti dan perdagangan luar negeri—mengalami kejatuhan. Permintaan domestik tidak mampu menggerakkan ekonomi, dan berbagai sektor usaha mengalami kemerosotan.
Gelombang PHK dan pengangguran menyapu hampir semua industri. Karena pendapatan kerja tidak stabil, banyak orang tidak berani membelanjakan uang, para pedagang pun kesulitan bertahan, sehingga pasar tenaga kerja semakin menyempit. Tiongkok kini terjebak dalam lingkaran setan penurunan ekonomi yang semakin cepat, dan jumlah tunawisma pun melonjak tajam.
Dua pemuda tidur di paviliun di taman. (Tangkapan layar dari video) Dua pemuda tidur di taman. (Tangkapan layar dari video)Banyak video yang beredar di media sosial Tiongkok memperlihatkan para tunawisma meringkuk di paviliun taman atau bermalam di bawah jembatan. Saat ini sudah musim dingin, banyak orang tidur langsung di tanah, hanya ditutupi selimut tua, meringkuk kedinginan di tengah hembusan angin dingin.
深圳有很多打工人為了節約開支,睡橋洞,睡帳篷,不租房。 pic.twitter.com/WeXlVSncn4
— ying tang (@yingtan04410735) January 9, 2026Karena sulit mendapatkan pekerjaan dan tidak mampu membayar sewa, banyak pekerja terpaksa hidup di jalanan demi bertahan hidup. Kolong jembatan, taman, jalur hijau, dan pintu belakang pusat perbelanjaan kini menjadi “tempat tinggal sementara” bagi semakin banyak pekerja. Di antara mereka ada kurir pengantar makanan, karyawan perusahaan besar yang terkena PHK, hingga lulusan baru perguruan tinggi yang belum mendapatkan pekerjaan.
Sebuah taman di provinsi Guangdong menjadi tempat berkumpulnya sejumlah besar tunawisma. (Tangkapan layar dari video) Sebuah taman di provinsi Guangdong menjadi tempat berkumpulnya sejumlah besar tunawisma. (Tangkapan layar dari video) Sebuah taman di provinsi Guangdong menjadi tempat berkumpulnya sejumlah besar tunawisma. (Tangkapan layar dari video)Seorang vlogger pada 5 Januari mengunggah video yang menyebutkan bahwa di Shenzhen, banyak pekerja migran memilih tidur di bawah jembatan atau di tenda demi menghemat biaya, tanpa menyewa tempat tinggal.
Vlogger lain mengatakan: “Sekarang kamu tahu betapa sulitnya keadaan di luar sana? Tahun ini semakin banyak pekerja yang memilih tidur di taman.” Dalam video terlihat di Taman Yingling, Kecamatan Dongkeng, Dongguan, banyak pekerja menggelar alas tidur di tanah untuk bermalam.
Seorang warganet Guangdong bernama “Bingbing Xiaoshimei” mengunggah video pada 6 November, mengatakan bahwa dirinya datang ke Guangdong untuk mencari pekerjaan namun gagal, sehingga terpaksa tidur di taman.
中國女孩:找不到工作,走投无路,只好在公园过夜了。 pic.twitter.com/PRWfDBPwkb
— ying tang (@yingtan04410735) January 9, 2026Dalam video tersebut, seorang perempuan menggelar tikar di bangku taman dan berbaring untuk tidur. Karena merasa takut tidur sendirian di taman, ia berpindah ke tempat yang lebih ramai dan tidur di tanah. Di dekatnya, sekelompok ibu-ibu sedang menari dansa persegi (tarian publik) dengan musik yang sangat keras. Perempuan itu mengeluh bahwa sekarang ia tidak takut lagi, tetapi justru tidak bisa tidur karena terlalu berisik.
Warganet “Langzi Minghui” dalam videonya mengatakan bahwa ia sudah tinggal di dalam tenda di bawah jembatan selama dua bulan dan berencana menetap di sana untuk jangka panjang.
Sejak 2025, semakin banyak anak muda yang tidak dapat menemukan pekerjaan dan terpaksa memilih untuk “rebahan total” (pasrah), menjalani hidup dengan keinginan rendah dan konsumsi rendah, serta menyebut diri mereka sebagai “manusia tikus”.
Pada 26 September 2025, media Caixin di Tiongkok daratan memuat sebuah artikel yang menyebutkan bahwa Biro Data Nasional, dipimpin oleh Chen Ronghui, bersama 34 lembaga survei provinsi, telah melaksanakan pendataan populasi tunawisma.
Data laporan internal menunjukkan bahwa hingga akhir Agustus, jumlah tunawisma di Tiongkok mencapai sekitar 47,5 juta orang, meningkat 5,3 kali lipat dibandingkan tahun 2020.
Di antaranya, kelompok usia di bawah 33 tahun mencapai 61%, usia di atas 60 tahun sekitar 25%. Sementara pada tahun 2020, kelompok usia di atas 65 tahun hanya sekitar 6,95%. Data ini menunjukkan bahwa populasi tunawisma di Tiongkok jelas semakin muda. Namun, artikel tersebut segera diblokir dan disensor.
Sejumlah warganet berkomentar bahwa jumlah populasi ini lebih besar dibandingkan total penduduk sebagian besar negara di dunia. Mereka menilai bahwa pada akhir sebuah dinasti, gelandangan akan tersebar luas, kerusuhan dan pemberontakan akan muncul. Jika situasi ini terus berlanjut, kerentanan rezim akan meningkat dan pada akhirnya dapat menyebabkan runtuhnya kekuasaan.
Laporan komprehensif oleh reporter Luo Tingting / Editor Wen Hui





