Sejumlah Pengawet Makanan Terbukti Berkaitan dengan Diabetes Tipe 2 dan Kanker

erabaru.net
16 jam lalu
Cover Berita
Anda mungkin perlu berpikir dua kali sebelum meraih makanan olahan dan camilan kemasan

Amy Denney

Orang yang mengonsumsi lebih banyak makanan yang mengandung pengawet—baik bahan kimia maupun berbasis tanaman yang digunakan untuk mencegah makanan cepat busuk dan menghindarkan kita dari keracunan—memiliki risiko 40 hingga 49 persen lebih tinggi terkena diabetes tipe 2, menurut studi terbaru.

Temuan tentang diabetes ini, bersama studi terpisah mengenai risiko kanker yang dilakukan oleh para peneliti di Paris, menambah bukti kuat bahwa semakin tinggi konsumsi makanan berpengawet, semakin besar kecenderungan tubuh memasuki kondisi metabolik dan peradangan yang merusak dan berujung pada penyakit kronis.

Meluasnya penggunaan pengawet dan bahan kimia lain oleh industri makanan—sering kali tanpa pengujian risiko penyakit kronis jangka panjang—menjadi latar belakang penelitian ini, ujar Mathilde Touvier, Direktur Riset Institut Nasional Kesehatan dan Riset Medis Prancis.

Temuan Diabetes Tipe 2

Peneliti Universitas Sorbonne Paris Nord mengikuti 108.723 peserta selama periode 2009–2023. Dari jumlah itu, 1.131 orang didiagnosis menderita diabetes tipe 2, sebagaimana dipublikasikan dalam Nature Communications.

Kelompok berisiko tinggi mengonsumsi makanan dengan kadar pengawet non-antioksidan yang tinggi—zat yang bekerja mencegah pertumbuhan mikroba atau memperlambat reaksi kimia yang memengaruhi warna dan tekstur makanan.

Sementara itu, kelompok dengan risiko 40 persen lebih tinggi mengonsumsi makanan dengan kadar pengawet antioksidan tinggi—zat yang mencegah radikal bebas menyebabkan oksidasi yang membuat makanan cepat rusak, berubah warna, dan kehilangan nutrisi.

Sebanyak 17 jenis pengawet dianalisis, dan 12 di antaranya terbukti berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2, termasuk:

Para peneliti mengemukakan sejumlah mekanisme yang mungkin terjadi: gangguan sinyal insulin dan regulasi glukosa, peradangan kronis tingkat rendah, perubahan ekspresi gen metabolisme, hingga perubahan mikrobioma usus yang memengaruhi kontrol gula darah dan sensitivitas insulin.

Studi Risiko Kanker

Dalam studi lain yang dipublikasikan di BMJ, para peneliti menemukan bahwa kelompok yang paling banyak mengonsumsi pengawet juga lebih sering terdiagnosis kanker.

Ditemukan hubungan antara pengawet non-antioksidan (kalium sorbat, kalium metabisulfit, natrium nitrit, kalium nitrat, asam asetat, natrium eritrobat) dan pengawet antioksidan (total eritrobat dan natrium eritrobat) dengan peningkatan kejadian kanker secara keseluruhan, kanker payudara, dan kanker prostat.

Dari 105.260 peserta, 4.226 orang terserang kanker dalam 14 tahun—sekitar 4 persen.
Enam dari 17 pengawet yang diteliti berkaitan dengan peningkatan risiko kanker, mulai dari kenaikan 12 persen risiko kanker secara umum akibat total sulfit, hingga kenaikan 32 persen risiko kanker prostat akibat natrium nitrit.

Pengawet yang sama banyak ditemukan dalam produk pasar Amerika seperti saus, makanan acar, anggur, bir, buah kering, saus salad, keju, yogurt, serta daging olahan seperti bacon, hot dog, daging deli, dan sosis.

Mengapa Pengawet Bisa Berbahaya

Menurut ahli gastroenterologi dan pakar mikrobioma usus Will Bulsiewicz, pengaruh pengawet terhadap makanan bisa berbanding lurus dengan dampaknya pada tubuh manusia—terutama bila dikonsumsi dalam jumlah besar.

Sifat antimikroba sebagian pengawet bisa bertindak layaknya antibiotik, membunuh bakteri baik di saluran cerna.
Diabetes tipe 2 sendiri sudah lama diketahui sangat terkait dengan gangguan mikrobioma usus.

Lebih dari setengah total kalori dalam pola makan rata-rata orang Amerika berasal dari makanan ultra-olahan.

Tantangan Menghindari Pengawet

Berbeda dari pewarna atau pemanis buatan, pengawet tidak diklasifikasikan sebagai penanda makanan ultra-olahan, meski nyaris ada di semua kategori pangan. Hal ini menyulitkan konsumen yang ingin membatasi paparan, terutama penderita penyakit kronis.

Menambah larangan diet tanpa kebijakan publik dianggap tidak realistis. Para peneliti menilai regulasi pemerintah jauh lebih efektif untuk menekan paparan pengawet.

Apa yang Bisa Anda Lakukan Sekarang

Para peneliti menyarankan:

Mereka menegaskan bahwa jika temuan ini terkonfirmasi lebih lanjut, pengawet makanan berpotensi menjadi faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk sejumlah penyakit kronis utama.

“Jika temuan ini terbukti, ini menunjukkan adanya faktor risiko yang sebenarnya bisa kita kendalikan,” tegas Mathilde Touvier.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Usai Kasusnya Viral, Inara Rusli Ngaku Profil Media Sosialnya Dikunjungi 420 Juta Orang
• 13 jam lalufajar.co.id
thumb
Pengusaha Daging Protes Kuota Impor Sapi 2026 Dipangkas Drastis, Hanya Dapat 16 Persen dari Total Kuota
• 11 jam lalupantau.com
thumb
Cuan Cuan Cuan! Harga Emas Antam Naik Lagi Jadi Segini
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
KPK Ingatkan Asosiasi atau Biro Haji Kooperatif Kembalikan Uang Terkait Kasus Yaqut
• 20 jam lalurepublika.co.id
thumb
Topang Energi Nasional, Begini Proses Pembangunan RDMP Balikpapan
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.