JAKARTA, KOMPAS - Salah satu tantangan konstruksi paling rumit dalam proyek LRT Jakarta Fase 1B Velodrome–Manggarai berhasil diatasi. Per 9 Januari 2026, jalur layang yang melintas di atas Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono berhasil dituntaskan dan telah tersambung 100 persen.
Tol Wiyoto Wiyono adalah jalan tol layang yang membentang dari Cawang (Jakarta Timur) hingga Tanjung Priok (Jakarta Utara). Bentang girder sepanjang 120 meter berhasil dibangun di atas tol padat tersebut tanpa menutup total arus lalu lintas.
Pembangunan menggunakan metode balanced cantilever, yakni pembangunan bertahap dan seimbang dari dua sisi, agar struktur bangunan presisi serta meminimalkan gangguan terhadap arus kendaraan.
Direktur Teknik dan Pengembangan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Dian Takdir menjelaskan, keberhasilan penyambungan jalur ini bukan sekadar pencapaian teknis, tetapi juga menandai tersambungnya jalur layang LRT Jakarta dari Kelapa Gading hingga Jalan Pramuka, sehingga Jakarta Utara, Timur, dan Pusat kini terhubung melalui jaringan rel layang yang terintegrasi.
”Perlintasan di atas Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono merupakan salah satu titik kritikal pada lintasan LRT Jakarta Fase 1B. Kami bersyukur proses penyambungan dapat diselesaikan sesuai rencana,” ujar Dian di Jakarta, Sabtu (10/1/2026).
Secara keseluruhan, progres LRT Fase 1B per 31 Desember 2025 telah menyentuh angka 89,22 persen. Struktur utama di sepanjang koridor Jalan Pemuda, Jalan Pramuka, Jalan Tambak, dan Jalan Sultan Agung telah terhubung.
Saat ini, fokus pekerjaan meliputi pemasangan rel (track work) yang baru mencapai 4,7 km dari total 12,8 km, serta penyelesaian arsitektural dan mekanikal, elektrikal, dan plumbing (MEP) di Stasiun Pramuka BPKP, Stasiun Pasar Pramuka, Stasiun Matraman, dan Stasiun Manggarai.
Dian mengatakan, dari sisi lingkungan, LRT Jakarta yang menggunakan tenaga listrik menghasilkan emisi karbon jauh lebih rendah per penumpang dibandingkan kendaraan pribadi. Artinya, semakin banyak orang naik LRT, semakin kecil polusi yang dihasilkan.
Secara kumulatif, pengoperasian LRT Jakarta Fase 1A dan 1B diproyeksikan mampu menurunkan emisi hingga 2.927.250 ton CO₂ ekuivalen, dengan target jumlah penumpang mencapai 18 juta orang pada 2028.
Langkah ini selaras dengan visi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta mewujudkan status Kota Global. Kehadiran LRT tidak hanya memperkuat konektivitas antarkawasan, tetapi juga menciptakan ruang kota yang lebih bersih, nyaman, dan berkelanjutan bagi warganya.
”Pencapaian tersambungnya perlintasan di atas Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono ini menjadi momentum penting menuju tahap penyelesaian berikutnya, sekaligus menegaskan komitmen Jakpro dalam menghadirkan sistem transportasi publik yang andal, aman, dan berkelanjutan bagi warga Jakarta,” ujar Dian.
Direktur Utama PT LRT Jakarta Roberto Akyuwen menyampaikan, jumlah penumpang LRT Jakarta sepanjang Januari hingga Oktober 2025 mencapai sekitar 1,1 juta orang, atau rata-rata lebih sekitar 3.579 penumpang per hari.
”Tingkat keterisiannya baru mendekati 10 persen. Dari kapasitas 270 orang per rangkaian kereta, rata-rata sekitar 27 orang sekali jalan, sehingga per harinya mencapai angka sekitar 3.579 per hari,” ujarnya.
Oleh karena itu, perluasan rute menjadi faktor penting untuk meningkatkan jumlah penumpang. Terhubungnya jalur ke kawasan strategis seperti Manggarai diharapkan bisa mendorong keterisian kereta sekaligus memperluas jangkauan layanan LRT Jakarta.
Meski tingkat keterisian penumpang masih relatif rendah, kualitas layanan LRT Jakarta menunjukkan tren yang positif. Sepanjang Januari hingga September 2025, tingkat kepuasan pelanggan tercatat rata-rata mencapai 93,85 persen.
Sementara itu, ketepatan waktu perjalanan (on time performance) mencapai 99,88 persen dan capaian standar pelayanan minimum menyentuh 98,54 persen per Oktober 2025.
Roberto mengatakan, untuk menunjang kenyamanan dan aksesibilitas, LRT Jakarta menyediakan fasilitas yang ramah bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas, lansia, pesepeda, perempuan, serta ibu dan anak.
Fasilitas tersebut antara lain ruang tenang, ruang laktasi, Pos Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA), Pos Kesehatan, toilet khusus disabilitas, layanan barang hilang (lost and found), serta papan penunjuk arah di setiap stasiun.
Sementara itu, Gubernur Jakarta, Pramono Anung, mengatakan penentuan rute lanjutan LRT Jakarta baru akan diputuskan setelah proyek Fase 1B rute Velodrome–Manggarai rampung. Saat ini, Pemprov Jakarta masih memusatkan perhatian pada penyelesaian proyek yang ditargetkan rampung pada pertengahan 2026 tersebut.
Ada dua opsi pengembangan yang sedang dikaji, yakni memperpanjang jalur dari Manggarai menuju Dukuh Atas, atau membuka koridor baru dari Velodrome–Kelapa Gading hingga Tanjung Priok yang kemudian diteruskan ke Jakarta International Stadium (JIS), Ancol, sampai PIK 2.
”Kalau itu bisa dibuka, maka semua koridor transportasi di Jakarta itu sudah terkoneksi dengan baik. Keputusannya tahun depan (2026),” kata Pramono di Jakarta Pusat, Selasa (30/12/2025).
Adapun LRT Jakarta saat ini baru beroperasi pada rute fase 1A yang membentang dari Pegangsaan Dua hingga Velodrome. Jalur sepanjang 5,8 kilometer ini melayani enam stasiun, yakni Stasiun Pegangsaan Dua, Boulevard Utara Station, Boulevard Selatan Station, Pulomas Station, Equestrian Station, dan Velodrome.


