Ilmuwan Ungkap Peran Estrogen Picu Nyeri Usus Kronis Lebih Parah pada Perempuan

pantau.com
1 hari lalu
Cover Berita

Pantau - Para ilmuwan mengidentifikasi mekanisme seluler yang menjelaskan alasan perempuan mengalami nyeri usus kronis lebih parah dibandingkan pria melalui peran hormon estrogen.

Temuan tersebut merupakan hasil penelitian tim ilmuwan dari Australia dan Amerika Serikat yang dilaporkan dalam jurnal Science.

Informasi penelitian disampaikan melalui pernyataan South Australian Health and Medical Research Institute pada Jumat 9 Januari 2026.

Peran Estrogen dalam Nyeri Usus

Perbedaan tingkat nyeri usus antara perempuan dan pria dikaitkan langsung dengan hormon estrogen yang disebut sebagai penyebab utama meningkatnya nyeri usus pada perempuan.

Profesor SAHMRI Stuart Brierley yang menjadi salah satu peneliti utama menyampaikan bahwa penelitian dilakukan bersama ilmuwan dari Universitas California San Francisco.

Stuart Brierley menyatakan, “Kami menemukan bahwa estrogen secara langsung memperkuat komunikasi antara dua jenis sel usus khusus, sehingga memicu peningkatan sensitivitas terhadap sinyal nyeri pada perempuan,” ungkapnya.

Estrogen diketahui mengaktifkan jalur di kolon atau usus besar yang meningkatkan pelepasan hormon usus PYY.

Hormon PYY tersebut kemudian merangsang produksi serotonin yang membuat saraf penghantar nyeri menjadi lebih sensitif.

Peluang Terapi dan Strategi Diet

Stuart Brierley yang juga peneliti dari Universitas Adelaide Australia menyampaikan, “Jika kami dapat menginterupsi jalur ini pada titik yang tepat, kami mungkin dapat mengurangi nyeri usus kronis tanpa memengaruhi fungsi pencernaan normal dari hormon-hormon tersebut,” katanya.

Penemuan ini dinilai sebagai langkah besar menuju pengembangan terapi yang lebih personal untuk kondisi nyeri usus kronis seperti sindrom iritasi usus besar.

Temuan tersebut juga relevan untuk gangguan nyeri viseral parah lainnya seperti endometriosis.

Studi ini menunjukkan bahwa estrogen meningkatkan respons usus terhadap asam lemak rantai pendek yang dihasilkan saat bakteri usus mengurai makanan.

Temuan tersebut menjelaskan mengapa intervensi pola makan seperti diet rendah FODMAP dapat mengurangi gejala pada sebagian penderita.

Stuart Brierley menyatakan, “Kami kini memahami bahwa makanan tertentu dapat memengaruhi jalur yang sensitif terhadap estrogen ini melalui metabolit yang dihasilkannya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa temuan ini memberikan dasar biologis yang lebih jelas mengenai alasan perubahan pola makan dapat membantu mengurangi nyeri usus.

Penemuan ini juga membuka peluang penyempurnaan strategi diet bagi penderita nyeri usus kronis.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menko Zulkifli Hasan Tinjau Pasar Bandarjo Semarang, Pastikan Harga Pangan Mulai Turun
• 1 jam lalupantau.com
thumb
BPBD: Empat desa di Kabupaten Donggala terendam banjir
• 35 menit laluantaranews.com
thumb
OTT KPK 8 Pejabat Pajak di Jakut: 4 Pegawai & 4 Orang Swasta Ditangkap, Barbuk Capai Rp6
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Berharga Rp3,9 Triliun, Lamine Yamal, Haaland, dan Mbappe Pemain Paling Mahal di Awal 2026
• 1 jam laluharianfajar
thumb
Pita Suara Bermasalah, Nadin Amizah Jadi Gampang Fals saat Menyanyi
• 18 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.