Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews-Jakarta
Great Institute tekankan penguatan ekonomi kerakyatan dan pemerataan di tengah tensi geopolitik global.
Di tengah meningkatnya volatilitas pasar global dan ketegangan geopolitik yang belum mereda, perekonomian Indonesia diprediksi tetap mampu mempertahankan resiliensi dengan pertumbuhan yang stabil.
Dalam laporan Economic Outlook 2026 bertajuk “Melangkah Maju di Tengah Ketidakpastian” yang dirilis di Jakarta pada Sabtu 10 januari 2026, lembaga kajian Great Institute menyoroti posisi Indonesia sebagai "anomali positif".
Saat kekuatan ekonomi besar dunia berjuang menghadapi perlambatan, Indonesia diproyeksikan masih mampu tumbuh di kisaran 5 persen.
Navigasi di Tengah Turbulensi Geopolitik
Direktur Eksekutif Great Institute, Dr. Sudarto, menjelaskan bahwa ketahanan domestik Indonesia menjadi faktor pembeda di tengah krisis yang melanda berbagai belahan dunia.
Menurutnya, faktor eksternal seperti krisis China-Taiwan, konflik di Ukraina, hingga ketegangan di Laut China Selatan telah menciptakan fragmentasi perdagangan global yang signifikan.
"Di saat perekonomian dunia masih berada dalam turbulensi, Indonesia masih mampu tumbuh sehat di angka 5 persen," ujar Sudarto dalam konferensi pers tersebut.
Ia menambahkan bahwa tren proteksionisme dan dampak perubahan iklim turut memperkeruh lanskap ekonomi internasional tahun ini.
Pemerataan Lewat Program Strategis
Laporan tersebut menekankan bahwa stabilitas nasional saat ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan hasil dari kuatnya permintaan domestik dan implementasi kebijakan strategis.
Salah satu poin krusial yang diangkat adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini telah menjangkau lebih dari 53 juta penerima.
Selain fungsi sosialnya, program ini dinilai berperan sebagai stimulus ekonomi yang menggerakkan rantai pasok lokal. Great Institute juga mencatat langkah ambisius pemerintah dalam memperkuat basis ekonomi perdesaan.
"Koperasi Desa Merah Putih akan memberikan sumbangan signifikan bagi perekonomian rakyat. Target 82.000 unit di tahun 2026 adalah upaya nyata memperkuat ekonomi dari akar rumput," kata Sudarto.
Proyeksi dan Harapan ke Depan
Meski lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia tetap menempatkan Indonesia sebagai "titik terang" Asia, Great Institute mengingatkan pentingnya menjaga daya beli masyarakat.
Sepanjang tahun 2025, konsumsi rumah tangga terbukti menjadi kontributor utama PDB nasional dengan menyumbang lebih dari separuh total pertumbuhan.
Optimalisasi program perlindungan sosial dan penguatan koperasi desa diharapkan menjadi kunci dalam menutup celah ketimpangan ekonomi.
Dengan kombinasi stabilitas makro dan penguatan ekonomi kerakyatan, Indonesia optimistis dapat menavigasi tantangan global tahun 2026 dengan fondasi yang lebih inklusif.
Editor: Redaktur TVRINews




