jakarta.jpnn.com - Koordinator Lembaga Advokasi Kebijakan Publik (LAKP) M Adnan melontarkan kritik terhadap dominasi barisan mantan ajudan Presiden Prabowo Subianto yang kini menduduki posisi strategis dalam pemerintahan.
“Negara sebesar Indonesia tidak bisa dikelola dengan logika inner circle. Loyalitas memang penting, tetapi ia tidak pernah cukup untuk menggantikan kompetensi dan pengalaman. Ini akibat kesalahan para pembisik di sekitar presiden,” ujar Adnan, Sabtu (10/1)
BACA JUGA: Presiden Prabowo Terharu Rakyat Indonesia Bahagia, Negara Lain Bingung
Adnan menyoroti kinerja Menteri Luar Negeri Sugiono. Menurut Adnan, Sugiono belum mampu memainkan peran strategis diplomasi Indonesia di panggung global.
Adnan menyebut Kementerian Luar Negeri terlihat lebih berfungsi sebagai ajudan presiden untuk urusan luar negeri, bukan institusi diplomasi yang memiliki visi dan arah besar.
BACA JUGA: Kadang Dongkol sama Ajudan, Presiden Prabowo: Cerewet Banget
“Keluhan dari para duta besar Indonesia di berbagai negara mencerminkan problem serius lemahnya koordinasi, minimnya arahan strategis, serta absennya grand design diplomasi,” ucap Adnan.
Adnan juga menilai minimnya pengalaman politik dan birokrasi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi membuat Kementerian Sekretariat Negara gagal berperan sebagai pusat koordinasi lintas kementerian dan lembaga.
BACA JUGA: Presiden Prabowo Ngaku Mau Terima Kritik, Tetapi Jangan Fitnah
“Kemensesneg hari ini terlihat lebih mirip kepala urusan persuratan di kecamatan, bukan command center negara,” ucap Adnan.
Adnan juga menyebut beban jabatan Seskab terlalu besar untuk level pengalaman yang dimiliki Letkol Teddy Indra Wijaya.
“Dengan status eselon III, tetapi memikul tugas strategis setara menteri, mulai koordinasi kabinet, sinkronisasi kebijakan, hingga monitoring program, hasilnya dinilai jauh dari memuaskan,” kata Adnan.
Adnan juga menyoroti figur-figur lain dari lingkaran yang sama, seperti Wamen Pertanian Sudaryono. Dia menilai Sudaryono lebih sibuk tampil di podcast ketimbang mengurusi problem sektor pangan.
Adnan juga menyoroti Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo dan jajaran juru bicara presiden yang nyaris tak terdengar dalam menjelaskan arah dan capaian program pemerintahan kepada publik.
Adnan menegaskan Presiden Prabowo perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap posisi-posisi strategis, terutama yang berfungsi sebagai simpul koordinasi nasional.
"Dominasi mantan ajudan harus segera diakhiri untuk efektivitas jalannya pemerintahan. Para pembisik di lingkar peesiden jangan hanya asal bapak senang,” kata Adnan. (jos/jpnn)
Redaktur & Reporter : Ragil




