Hanya Butuh Sekitar 308 Juta Tahun untuk Menyamai Kekayaan Elon Musk

kumparan.com
20 jam lalu
Cover Berita

Ada satu jenis optimisme yang hanya bisa hidup subur di era internet: keyakinan bahwa dengan disiplin, kerja keras, dan target tabungan yang ambisius, semua orang pada akhirnya bisa menyamai siapa pun—termasuk Elon Musk. Optimisme ini biasanya hidup berdampingan dengan kutipan motivasi berlatar gedung pencakar langit dan kalimat sakti: asal konsisten, pasti sampai juga.

Masalahnya, ketika optimisme itu dipertemukan dengan matematika dasar, hasilnya bukan pencerahan, yang muncul justru senyuman kecut dan keinginan untuk duduk sebentar.

Artikel ini tidak bermaksud mengecilkan arti kerja keras atau menabung. Kita akan menabung dengan sangat serius. Terlalu serius, sampai angka-angka itu sendiri yang akhirnya tertawa, mulai merasa kelelahan, lalu meminta waktu istirahat.

Elon Musk dan Mitos Etos Kerja Superhuman

Elon Musk sering diposisikan sebagai simbol tertinggi etos kerja kapitalisme modern. Ia tidur di pabrik, bekerja lintas zona waktu, dan memimpin beberapa perusahaan sekaligus. Di titik tertentu, jam kerja manusia normal mulai terasa seperti cuti panjang yang kebablasan.

Psikologi organisasi memang mengakui peran grit dan ketahanan kerja dalam kesuksesan individu. Namun literatur ekonomi politik—mulai dari Thomas Piketty hingga Joseph Stiglitz—menggarisbawahi bahwa kerja keras saja tidak cukup menjelaskan akumulasi kekayaan pada skala ratusan miliar dolar.

Karena apa? Ya! Karena yang bekerja di sini bukan semata jam lembur, melainkan kepemilikan aset, saham, dan posisi strategis dalam struktur ekonomi global. Musk tidak hanya bekerja keras; ia bekerja di atas mesin pengganda kekayaan.

Dunia Bisnis yang Ganas dan Tidak Pernah Simetris

Dalam buku teks ekonomi mikro, individu diasumsikan rasional dan efisien. Dalam ekonomi makro, kita berbicara tentang pertumbuhan, distribusi, dan konsentrasi modal. Dalam praktiknya, dunia bisnis modern lebih menyerupai arena tempat pepatah "yang besar makin besar" bekerja dengan konsistensi yang bahkan mengalahkan resolusi hidup tiap awal tahun.

Valuasi perusahaan teknologi sering kali mencerminkan ekspektasi masa depan, bukan semata performa saat ini. Literatur keuangan menyebut fenomena ini sebagai perpaduan market sentiment, speculative valuation, dan efek jaringan.

Pada tahap yang demikian itu, uang tidak lagi sekadar alat tukar: ia bereproduksi dan berkembang biak. Kadang proses reproduksi dan berkembang biaknya lebih cepat daripada gosip keluarga menjelang Lebaran.

Sekarang Kita Turun ke Bumi: Menabung 100 Juta Rupiah per Hari

Mari kita tinggalkan bursa saham dan jargon teknis. Kita kembali ke praktik finansial paling puritan, yakni menabung. Asumsinya sengaja dibuat sangat optimistis: Anda menabung 100 juta rupiah per hari, setiap hari, tanpa libur, tanpa sakit, tidak ada inflasi, bunga, atau investasi, dan uang hanya ditumpuk seperti monumen kesabaran.

Menurut Forbes dan Bloomberg Billionaires Index, kekayaan bersih Elon Musk pada akhir 2025 berada di kisaran 740–750 miliar dolar Amerika Serikat. Kita ambil angka moderatnya saja, yakni 750 miliar dolar.

Dengan asumsi kurs Rp15.000 per dolar, totalnya menjadi sekitar Rp11,25 kuadriliun. Dengan Anda rutin menabung sebanyak 100 juta rupiah per hari, maka Anda akan memiliki saldo di rekening sebanyak Rp36,5 miliar selama setahun penuh.

Perhitungannya sederhana dan tenang, seperti guru matematika yang tidak peduli muridnya panik: > Rp11.250.000.000.000.000 ÷ Rp36.500.000.000 ≈ 308.000.000 tahun. Ya! Anda tidak salah lihat. Tiga ratus delapan juta tahun. Menurut beberapa sumber terpercaya—yakni kalkulator, logika dasar, dan sedikit keikhlasan—hitungan ini masih sangat masuk akal. Terlebih bagi manusia yang tidak memiliki rencana untuk meninggal dunia.

Persoalannya kemudian bergeser. Bukan lagi soal disiplin menabung, melainkan soal usia manusia itu sendiri. Dengan rata-rata umur global sekitar 72 tahun, waktu 308 juta tahun berarti harus dilewati oleh kurang lebih 4,3 juta kali estafet keturunan. Sebuah rencana keuangan yang mensyaratkan umat manusia untuk konsisten, jujur, dan tidak khilaf selama jutaan generasi berturut-turut.

Ketika Dinosaurus Masih Memiliki Waktu Luang

Agar angka ini terasa nyata, kita butuh bantuan sejarah alam. Homo sapiens baru muncul sekitar 300.000 tahun lalu, dan dinosaurus mengalami kepunahan massal sekitar 65 juta tahun lalu pada akhir Kretaseus (Zaman Kapur). Artinya, untuk menyamai kekayaan Elon Musk dengan menabung 100 juta rupiah per hari, Anda membutuhkan waktu hampir lima kali jarak antara kepunahan dinosaurus dan kemunculan manusia modern.

Jika Anda mulai menabung saat asteroid menghantam bumi, tabungan Anda hari ini masih belum cukup, dan itu dengan asumsi dinosaurus juga rajin setor setiap hari. Ini bukan metafora sastra. Ini aritmatika.

Kenapa Angkanya Bisa Sebesar Itu?

Dalam teori distribusi kekayaan, perbedaan kecil dalam rate of return menghasilkan kesenjangan besar dalam jangka panjang. Thomas Piketty merumuskannya dengan sederhana: r > g. Ketika imbal hasil modal (r) lebih besar daripada pertumbuhan ekonomi (g), maka kekayaan akan terkonsentrasi.

Penabung harian bermain di jalur pertumbuhan linear, sementara Elon Musk bermain di jalur eksponensial. Membandingkan keduanya tanpa menyebut struktur ekonomi adalah kesalahan kategori yang sering dibungkus motivasi.

Maka, mulai dari sinilah banyak orang keliru dan merasa hitungannya "tidak masuk akal". Biasanya karena salah satuan, salah kurs, atau terlalu optimistis pada kekuatan konsistensi personal.

Penutup: Tetaplah Hidup pada Skala Manusia

Pada titik ini, Anda boleh percaya—demi kesehatan mental—bahwa Elon Musk adalah alien. Alien dalam arti ekonomi. Spesies yang hidup di habitat valuasi, opsi saham, dan struktur modal global. Fotosintesisnya langsung pakai pasar keuangan. Kita, sebaliknya, hidup di skala manusia. Skala gaji, tabungan, cicilan, dan sesekali kopi enak, dan itu tidak salah.

Menabung 100 juta rupiah per hari tetaplah pencapaian luar biasa. Hanya saja, menjadikannya jembatan untuk menyamai kekayaan Elon Musk adalah ekspektasi yang menuntut waktu lebih panjang daripada umur spesies kita sendiri.

Tetaplah hidup pada skala manusia. Biarkan alien mengurus planet ekonominya sendiri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Juara bertahan Crystal Palace tersingkir dari tim non-liga di Piala FA
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
PSMS Medan Bertekad Bangkit dan Wajib Menang Saat Menjamu Adhyaksa FC di Pegadaian Championship 2025/2026
• 22 jam lalupantau.com
thumb
Harganya Naik Gila-gilaan, Kilau Emas Geser Dominasi Surat Utang AS
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Como vs Bologna: Gol Indah Martin Baturina Buyarkan Kemenangan 10 Pemain Bologna
• 9 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Satgas PKH Ungkap 12 Korporasi Diduga Kuat Jadi Penyebab Bencana di Sumatra
• 15 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.