PBB Keluarkan Peringatan: Mesin Ekonomi Dunia Melambat-Dihantui Risiko

cnbcindonesia.com
18 jam lalu
Cover Berita
Foto: logo Perserikatan Bangsa-Bangsa selama sidang umum di markas besar PBB pada tanggal 25 September 2024, di kota New York. (AFP/LUDOVIC MARIN/File Foto)
Dafar Isi
  • Pertumbuhan Regional Tak Merata
  • Perdagangan Melambat, Inflasi Masih Menggerus
  • Seruan Aksi Global

Jakarta, CNBC Indonesia - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberi sinyal waspada terhadap prospek ekonomi global 2026. Dalam laporan terbarunya, PBB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia hanya 2,7%, jauh di bawah rata-rata pra-pandemi, menandakan ekonomi global berisiko "loyo" di tengah tekanan geopolitik, perdagangan, dan utang.

Laporan bertajuk World Economic Situation and Prospects 2026 tersebut menilai ketahanan ekonomi global sejauh ini ditopang oleh belanja konsumen yang relatif solid serta inflasi yang mulai mereda. Namun, fondasi pertumbuhan dinilai rapuh akibat investasi yang terhambat, ruang fiskal yang semakin sempit, dan ketidakpastian global yang meningkat.

"Peningkatan tajam tarif Amerika Serikat menciptakan gesekan perdagangan baru, meskipun tidak adanya eskalasi yang lebih luas membantu membatasi gangguan langsung terhadap perdagangan internasional," tulis laporan PBB, dikutip Sabtu (10/1/2026).


PBB juga menyoroti bahwa meski kondisi keuangan global membaik seiring pelonggaran moneter dan sentimen konsumen yang lebih positif, risiko tetap besar. Valuasi aset yang tinggi, terutama di sektor-sektor yang terkait dengan kemajuan pesat kecerdasan buatan (AI), dinilai berpotensi memicu kerentanan baru.

Baca: Ada Tanda China Bisa Keluar dari 'Hantu' Deflasi, Ini Buktinya

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menegaskan kombinasi tekanan global saat ini berbahaya bagi stabilitas jangka menengah. Ia menyebut, banyak negara berkembang masih terus berjuang, sehingga kemajuan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) terancam melambat.

"Kombinasi ketegangan ekonomi, geopolitik, dan teknologi sedang membentuk kembali lanskap global, menghasilkan ketidakpastian ekonomi baru dan kerentanan sosial," ujarnya.

Pertumbuhan Regional Tak Merata

Secara regional, prospek ekonomi dunia terlihat timpang. Amerika Serikat (AS) diproyeksikan tumbuh 2,0% pada 2026, sedikit lebih tinggi dari 1,9% pada 2025, didukung pelonggaran moneter dan fiskal. Namun, pelemahan pasar tenaga kerja berpotensi menahan momentum.

Uni Eropa justru diperkirakan melambat, dengan pertumbuhan hanya 1,3% pada 2026, turun dari 1,5% tahun sebelumnya, akibat dampak tarif AS yang lebih tinggi dan ketidakpastian geopolitik yang menekan ekspor.

Di Asia Timur, pertumbuhan diproyeksikan turun menjadi 4,4% dari 4,9% pada 2025, seiring memudarnya dorongan ekspor awal tahun. China diperkirakan tumbuh 4,6%, sedikit lebih rendah dibanding tahun sebelumnya, meski ditopang kebijakan yang lebih terarah. Jepang diproyeksikan tumbuh 0,9% pada 2026.

Asia Selatan masih menjadi salah satu motor pertumbuhan global, dengan proyeksi 5,6% pada 2026, meski melambat dari 5,9%. India memimpin kawasan dengan pertumbuhan 6,6%, ditopang konsumsi domestik yang tangguh dan investasi publik yang besar.

Sementara itu, Afrika diperkirakan tumbuh 4,0%, sedikit meningkat dari 3,9%, namun risiko utang tinggi dan guncangan iklim tetap membayangi. Amerika Latin dan Karibia diproyeksikan tumbuh 2,3%, turun tipis dari 2,4% pada 2025, di tengah permintaan konsumen yang moderat dan pemulihan investasi yang masih terbatas.

Baca: 2 Kuncian Manufaktur RI Tahun 2026 Bisa Perkasa Menurut Bos Pengusaha
Perdagangan Melambat, Inflasi Masih Menggerus

PBB mencatat perdagangan global relatif tangguh pada 2025 dengan pertumbuhan 3,8%, didorong lonjakan pengiriman awal tahun dan kuatnya perdagangan jasa. Namun, momentum tersebut diperkirakan melemah, dengan pertumbuhan perdagangan global melambat menjadi 2,2% pada 2026.

Di sisi lain, inflasi global memang menunjukkan tren menurun, dari 4,0% pada 2024 menjadi sekitar 3,4% pada 2025, dan diproyeksikan turun lagi ke 3,1% pada 2026. Meski demikian, dampaknya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.

"Meskipun inflasi menurun, harga yang tinggi dan terus meningkat tetap mengikis daya beli kelompok yang paling rentan," ujar Junhua Li, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Ekonomi dan Sosial.

Menurutnya, inflasi yang lebih rendah harus diiringi penguatan perlindungan belanja penting dan perbaikan struktur pasar agar manfaatnya benar-benar dirasakan rumah tangga.

Seruan Aksi Global

Menghadapi prospek ekonomi dunia yang melemah, PBB menyerukan koordinasi global yang lebih kuat. Negara-negara miskin, negara terkurung daratan, dan negara kepulauan kecil disebut masih terbebani utang tinggi, ruang kebijakan terbatas, serta rentan terhadap guncangan eksternal.

PBB menilai Komitmen Sevilla, hasil Konferensi Internasional Keempat tentang Pembiayaan Pembangunan di Spanyol, dapat menjadi cetak biru untuk memperkuat kerja sama multilateral, mereformasi arsitektur keuangan internasional, dan mendorong pembiayaan pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Dengan berbagai tekanan tersebut, PBB menegaskan 2026 berpotensi menjadi tahun krusial: ekonomi global tetap tumbuh, namun dalam kecepatan yang lebih lambat dan penuh risiko, sehingga kewaspadaan dan kerja sama internasional menjadi kunci.

Baca: Bos Toyota Bicara IHSG, Harga Komoditas, Likuiditas-Tabungan Warga RI

(dce)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Purbaya: Injeksi Uang ke Bank Tak Optimal, Ekonomi di Bawah 6%

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Andi Azwan Beber Pernyataan Sikap! Demokrat-Roy Suryo Lapor Polisi Terkait Kasus Ijazah Jokowi
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
”Mens Rea” Pandji Pragiwaksono, Pendidikan Politik di ”Pinggir Jurang”
• 4 jam lalukompas.id
thumb
Shio Paling Hoki di Imlek 2026, Siapa yang Bersinar di Tahun Kuda Api?
• 9 jam lalugrid.id
thumb
Komdigi Blokir Sementara Grok AI Tangkal Konten Pornografi
• 15 jam laluokezone.com
thumb
Gempa Dahsyat M7,1 Guncang Kepulauan Talaud Sulut, BNPB: Belum Ada Laporan Korban Jiwa
• 4 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.