Bandung, ERANASIONAL.COM – Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mengonfirmasi pernah menangani 10 pasien dengan kasus Super Flu atau Influenza A H3N2 subclade K dalam kurun waktu September hingga November 2025. Dari jumlah tersebut, satu pasien dilaporkan meninggal dunia saat menjalani perawatan di rumah sakit.
Namun demikian, pihak rumah sakit menegaskan bahwa penyebab kematian pasien tersebut belum dapat dipastikan secara langsung akibat Super Flu, mengingat pasien memiliki riwayat penyakit penyerta (komorbid) yang berat.
Ketua Tim Infeksi Penyakit Emerging dan Re-emerging (Pinere) RSHS Bandung, dr Yovita Hartantri, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil evaluasi medis, seluruh pasien yang terkonfirmasi Influenza A H3N2 subclade K datang dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.
“Dari total 10 kasus yang kami tangani, usia pasien cukup beragam. Ada dua bayi berusia 9 bulan dan 1 tahun, satu pasien usia 11 tahun, dan mayoritas berada pada rentang usia dewasa, yakni 20 hingga 60 tahun,” ujar dr Yovita saat memberikan keterangan di RSHS Bandung, Jumat (9/1).
Menurut dr Yovita, dari keseluruhan pasien tersebut, dua orang sempat menjalani perawatan di ruang intensif (ICU) karena mengalami gangguan pernapasan yang cukup berat.
“Dua pasien masuk kategori berat karena membutuhkan bantuan oksigen. Mereka datang dengan keluhan utama sesak napas dan batuk, serta saturasi oksigen yang rendah, sehingga harus dirawat di ruang perawatan khusus,” jelasnya.
Sementara itu, delapan pasien lainnya mengalami gejala ringan hingga sedang dan dapat ditangani di ruang perawatan biasa dengan pengawasan ketat tim medis.
Terkait satu pasien yang meninggal dunia, dr Yovita menekankan bahwa pihaknya belum dapat menyimpulkan Super Flu sebagai penyebab utama kematian. Pasien tersebut diketahui memiliki beberapa penyakit bawaan serius yang memperberat kondisinya.
“Pasien yang meninggal memiliki komorbid berat, di antaranya riwayat stroke, gagal jantung, serta infeksi lain. Karena itu, penyebab kematiannya tidak bisa langsung dikaitkan hanya dengan Influenza A H3N2,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa secara klinis, pasien dengan penyakit penyerta memang memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami perburukan kondisi ketika terinfeksi virus influenza, termasuk subclade terbaru seperti H3N2 subclade K.
Dr Yovita menjelaskan bahwa Influenza A H3N2 subclade K memiliki karakteristik yang perlu diwaspadai karena kemampuannya untuk berevolusi dengan cepat, sehingga pada sebagian pasien dapat menimbulkan gejala berat dalam waktu singkat.
“Influenza A H3N2 subclade K ini dikenal cepat bermutasi. Pada pasien tertentu, terutama yang memiliki daya tahan tubuh lemah atau komorbid, gejalanya bisa berkembang menjadi berat,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa tidak semua pasien yang terinfeksi akan mengalami kondisi serius. Sebagian besar pasien dengan kondisi kesehatan baik dapat pulih dengan penanganan medis yang tepat.
Menurut dr Yovita, kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi berat akibat Super Flu adalah pasien usia lanjut dan mereka yang memiliki penyakit kronis, seperti penyakit jantung, diabetes, gangguan paru, serta riwayat stroke.
“Kalau pasien memiliki komorbid, gejalanya cenderung lebih berat dibandingkan flu musiman biasa. Pada usia lanjut, kombinasi komorbid dan infeksi influenza dapat meningkatkan risiko perburukan hingga kematian,” ungkapnya.
Hal ini menjadi alasan mengapa pasien dengan faktor risiko tinggi perlu mendapatkan penanganan lebih cepat dan intensif apabila mengalami gejala flu yang memberat.
RSHS Bandung mengimbau masyarakat untuk tidak panik, namun tetap waspada terhadap gejala flu yang tidak biasa, terutama jika disertai sesak napas, demam tinggi berkepanjangan, atau penurunan saturasi oksigen.
Masyarakat dengan penyakit penyerta juga disarankan untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala infeksi saluran pernapasan, guna mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius.
Selain itu, penerapan pola hidup bersih dan sehat, penggunaan masker saat sakit, serta menjaga daya tahan tubuh dinilai tetap menjadi langkah penting dalam mencegah penularan influenza.
Meski kasus Super Flu di RSHS Bandung terpantau terbatas dan terkendali, tim medis tetap melakukan pemantauan ketat terhadap perkembangan virus influenza, khususnya subclade baru yang berpotensi menimbulkan gejala lebih berat pada kelompok rentan.
“Kami terus melakukan surveilans dan koordinasi dengan pihak terkait. Yang terpenting adalah deteksi dini dan penanganan cepat, terutama pada pasien dengan komorbid,” pungkas dr Yovita.



