Tentang Kehilangan yang Datang Tanpa Salam Perpisahan

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Pukul tujuh pagi, dering telepon dari Brama sudah memecah keheningan kamar. Suaranya di ujung sana terdengar begitu hidup, seolah energinya mampu menembus sinyal seluler. Ia akan menjemput.

Selalu begitu. Padahal, libur perkuliahan baru saja usai dan mereka sering bertemu, tetapi bagi Brama, sehari tanpa melihat wajah Kaluna rasanya seperti kemarau panjang selama satu dekade.

Motor Aerox merah itu berhenti tepat ketika lampu lalu lintas berubah merah. Di bawah matahari pagi yang mulai hangat, Brama sibuk mencuri pandang lewat kaca spion. Ia tersenyum melihat gadis di boncengannya yang justru sibuk memperhatikan kucing-kucing liar di trotoar.

Bagi Brama, rembulan malam memang indah, tetapi wajah Kaluna Mahika adalah semesta lain yang tak ingin ia lewatkan sedetik pun. Layaknya kisah cinta remaja pada umumnya, pagi itu dipenuhi tawa dan momen manis yang terasa abadi.

Kaluna sebenarnya sedikit menggerutu. Jam kuliahnya baru dimulai pukul sembilan lewat tiga puluh, tetapi Brama sudah menyeretnya keluar saat ia baru hendak menyendok nasi uduk di rumah. Namun, melihat Brama yang antusias, kekesalannya menguap.

Setibanya di kedai bubur ayam langganan, Brama dengan sigap mengambil alih totebag kanvas milik Kaluna. Itu adalah ritual tak tertulis mereka selama dua tahun terakhir. Awalnya, Kaluna merasa aneh, tetapi kini ia paham: itu adalah bahasa cinta Brama, sama seperti saat Brama membawakan belanjaan ibundanya. Punggung Brama adalah sandaran paling kokoh untuk segala beban, baik fisik maupun perasaan.

Sembari menunggu pesanan, Kaluna mengeluarkan iPad-nya. “Bram, coba lihat ini,” ucap Kaluna seraya menyodorkan layar gawai itu ke hadapan Brama.

Brama meraihnya, matanya menyipit fokus. “Wih, bagus. Cantik, lucu kayak Kaluna Gembul,” kekehnya. “Belum beres lagi cover-nya, Mbul?”

“Sudah beres, kok. Ini finalnya, tinggal dikirim ke penerbit.”

“Syukur deh. Nanti kalau bukumu terbit, aku orang pertama yang beli,” ujarnya diiringi tawa renyah yang khas. “Aku kan fans garis kerasmu.”

Kaluna hanya tersenyum simpul, membiarkan Brama mengelus punggung tangannya. Banyak orang bilang Brama itu dingin dan irit bicara, tetapi di hadapan Kaluna, laki-laki itu berubah menjadi badut paling hangat sedunia.

Lima belas menit kemudian, dua mangkuk bubur tersaji. Punya Brama sedikit kuah kari, sementara punya Kaluna banjir kuah—hampir tumpah. Di hadapan uap panas bubur itulah, mereka merajut masa depan.

“Mbul, nanti aku mau langsung mengajukan proposal. Doakan, ya,” pinta Brama di sela suapannya.

“Aku selalu doakan kamu, tanpa diminta pun.”

“Harus diminta, biar Tuhan tahu aku butuh banget doa kamu.”

Percakapan mengalir ke mana-mana, dari urusan skripsi hingga hal konyol seperti cincin nikah. “Kalau cincin yang gede mau nggak, Mbul? Kayak akik yang dipakai Pakde kantin itu loh,” canda Brama.

“Idih, ogah! Kamu saja yang pakai, biar kayak dukun,” Kaluna tertawa lepas.

Tawa itu. Itu adalah tawa terakhir yang terasa benar-benar hidup. Brama sempat bertanya tentang rumah impian di Lebak Bulus, tentang keinginan punya rumah kecil agar Kaluna tak capek menyapu, dan tentang ribuan rencana lain yang mereka susun rapi di atas kertas harapan.

Kaluna mengerjapkan mata.

Rasa bubur di mulutnya terasa hambar. Tidak ada tawa Brama. Tidak ada candaan soal cincin akik. Yang ada hanya hiruk-pikuk kantin kampus yang bising, tetapi terasa sunyi di telinganya.

Lamunannya tentang pagi itu, pagi terakhir sebelum kecelakaan itu merenggut segalanya, buyar seketika saat kakinya melangkah gontai menyusuri koridor kampus. Tanpa sadar, ia berjalan mencari Aleena, sahabatnya.

Di sudut koridor dekat kamar mandi, pertahanan Kaluna runtuh. Aleena yang melihat kondisi sahabatnya—mata sembab, rambut acak-acakan—langsung mendekap tubuh ringkih itu.

“Kaluna... nggak apa-apa kalau lo mau nangis. Tapi tolong janji sama gue, jangan hancur sendirian, ya?” bisik Aleena.

Kaluna tak bisa menjawab. Ia masih menyangkal. Rasanya sulit menerima kenyataan bahwa takdir yang memisahkan mereka datang begitu cepat. Kehilangan kekasih hati secara tiba-tiba membuat dadanya sesak oleh duka mendalam.

Rasanya baru kemarin Bunda meneleponnya di pagi buta, mengabarkan bahwa motor Aerox merah itu dihantam truk, dan Brama tak pernah bangun lagi. Rasanya baru kemarin ia berteriak histeris di ruang jenazah, memohon pada Tuhan untuk mengembalikan napas laki-laki itu.

Kini, sudah dua bulan berlalu. Ponsel Kaluna tak lagi berisik oleh notifikasi Brama. Tak ada lagi tangan hangat yang menggandengnya menyeberang jalan. Tak ada lagi yang memanggilnya "Mbul" dengan nada mengejek, tapi sayang.

Semua rencana di kedai bubur itu kini hanya menjadi hantu. Proposal Brama, draf novel Kaluna yang tak kunjung ia kirim karena kehilangan pembaca pertamanya, hingga rencana rumah kecil di Lebak Bulus.

Orang bilang, setiap kejadian adalah pelajaran hidup, sekalipun itu hanya jatuh cinta. Namun, bagi Kaluna, belajar ikhlas melepaskan Brama adalah ujian terberat.

Cerita sedih tentang rencana yang tak sampai ini mengajarkan Kaluna satu hal, terkadang, 'sampai jumpa' bisa berubah menjadi 'selamat jalan' tanpa aba-aba.

Di bawah langit kampus yang cerah, Kaluna menatap kosong. Tuhan, jika Engkau mengambil dia agar aku belajar tentang kehilangan, mengapa rasanya aku justru kehilangan diriku sendiri?


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dikira Boneka eehhh ternyata Mayat yang Sudah Kaku Duduk Depan Garasi
• 18 jam lalurealita.co
thumb
Prabowo Dinilai Mampu Jaga Arah Kebijakan di Tengah Ketidakpastian Global
• 18 jam laluokezone.com
thumb
KPK Sita Uang Rupiah hingga Logam Mulia Rp6 Miliar di OTT Kantor Pajak Jakut
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
Menko Zulkifli Hasan Tinjau Pasar Bandarjo Semarang, Pastikan Harga Pangan Mulai Turun
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Piala Afrika: Depak Aljazair, Nigeria Menuju Semifinal
• 15 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.