Pantau - Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan 166 Sekolah Rakyat pada Senin, 12 Januari 2026, di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dalam sebuah acara yang turut dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni dari siswa-siswa peserta program.
Acara peresmian ini menjadi tonggak penting dalam upaya pemerintah memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem melalui pendekatan pendidikan yang inklusif dan berbasis pemberdayaan.
Pertunjukan seni yang ditampilkan mencakup teater, paduan suara, pidato, atraksi baris variasi, yel-yel, senam anak sehat, serta kesenian khas Banjar, khususnya yang ditampilkan oleh siswa-siswa dari Banjarbaru.
Peserta dari Berbagai Daerah, Pendidikan untuk SemuaRatusan siswa dari berbagai daerah turut hadir memeriahkan acara, termasuk dari Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang Selatan, Aceh Besar, Malang, Probolinggo, Jombang, Pasuruan, Kupang, Makassar, Jayapura, dan Banjarbaru.
Siswa dari Banjarbaru secara khusus akan menampilkan seni daerah dan kegiatan fisik yang mencerminkan semangat lokal dalam mendukung pendidikan nasional.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan harapan agar Presiden Prabowo dapat hadir langsung dalam acara peresmian tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan Presiden dan Kabinet Merah Putih dalam peluncuran inisiatif pendidikan besar ini.
Sekolah Rakyat: Strategi Pengentasan Kemiskinan Lewat PendidikanSekolah Rakyat merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto sebagai bagian dari strategi nasional pengentasan kemiskinan.
Program ini dirancang untuk memberikan akses pendidikan berkualitas kepada anak-anak dari kelompok rentan secara ekonomi.
Saat ini, lebih dari 15.000 siswa telah mengikuti pembelajaran di Sekolah Rakyat, yang didukung oleh teknologi digital untuk memperkuat metode pengajaran.
Pemerintah menargetkan pembangunan hingga 500 titik Sekolah Rakyat pada tahun 2029.
Sebaran 166 Sekolah Rakyat yang telah dirintis meliputi:
Sumatera: 35 lokasi
Jawa: 70 lokasi
Bali & Nusa Tenggara: 7 lokasi
Kalimantan: 13 lokasi
Sulawesi: 28 lokasi
Maluku: 7 lokasi
Papua: 6 lokasi
Program ini menyasar anak-anak dari keluarga dengan tingkat ekonomi terendah berdasarkan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), sekaligus mendorong pemerataan pendidikan yang inklusif dan merata di seluruh wilayah Indonesia.



