Pulau Sebesi berada di Selat Sunda, tepat di utara kompleks Krakatau dan menjadi pulau berpenghuni terdekat dengan gunung api aktif tersebut. Secara geologis, pulau ini berumur sama dengan sisa‐sisa letusan purba Krakatau. Pulau Sebesi memiliki puncak setinggi 844 meter mdpl dan terletak sekitar 12 km dari kepulauan Krakatau; pulau ini bersifat vulkanik seperti Krakatau, tetapi belum tercatat meletus.
Ketinggian tersebut membuatnya lebih menyerupai rakata lama daripada pulau vulkanik muda. Keunikan lain adalah adanya aliran air permanen yang menjadikan lahan di pulau ini subur, sehingga penduduk dapat bertani.
Perpaduan antara warisan vulkanik dan lingkungan tropis yang hijau menjadikan Sebesi laboratorium alam yang menawarkan panorama tebing batuan beku, hutan tropis, serta garis pantai yang eksotis.
Jejak Letusan 1883 dan Pemulihan EkosistemGeoproses yang terjadi di Pulau Sebesi tak bisa dipisahkan dari letusan dahsyat Krakatau tahun 1883. Laporan Smithsonian Institution menulis bahwa runtuhnya kaldera saat letusan tersebut menimbulkan tsunami yang menewaskan lebih dari 36 ribu orang di pesisir Sumatra dan Jawa.
Letusan ini juga menghasilkan gelombang piroklastik yang menjalar hingga 40 km melintasi Selat Sunda. Dampak langsung terhadap Sebesi sangat besar; catatan sejarah menyatakan bahwa pulau ini habis disapu material vulkanik dan korban jiwa mencapai ribuan.
Setelah letusan, pulau tersebut sempat ditinggalkan, tetapi mulai dibuka kembali pada awal abad ke‑20 untuk perkebunan kelapa; sejak 1920‑an, lahan Sebesi hampir seluruhnya menjadi lahan garapan, sementara hutan alami hanya tersisa di puncak dan di sekitar rawa mangrove.
Letusan Krakatau juga menghasilkan struktur geologi baru: sebuah kerucut muda bernama Anak Krakatau. Setelah masa tenang kurang dari lima puluh tahun, kerucut ini tumbuh di dalam kaldera dan telah erupsi berkali‑kali sejak 1927.
Kedekatan Sebesi dengan gunung muda ini (sekitar 20 km) membuat pulau tersebut ideal untuk mengamati aktivitas vulkanik secara langsung. Data dari kajian microhistory juga menunjukkan bahwa tsunami 2018 yang dipicu runtuhnya lereng Anak Krakatau menyebabkan kepanikan sekitar 2.700 penduduk Sebesi dan memicu evakuasi lebih dari 1.500 orang ke Kalianda.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa pulau ini rawan bencana dan memerlukan upaya mitigasi dan pendidikan bencana bagi masyarakat dan wisatawan.
Geodiversitas dan Potensi EdukasiPulau Sebesi dikarakterisasi sebagai pulau kecil—luasnya kurang dari 3.000 acre (sekitar 12 km²) dan secara administratif termasuk Desa Tejang, Kecamatan Rajabasa. Menurut penelitian microhistory, pulau ini dihuni oleh 787 keluarga dengan total 2.795 penduduk yang tersebar di 15 rukun tetangga dan empat dusun: Bangunan, Inpres, Regahan Lada, dan Segenom.
Latar belakang penghuni pun beragam; gelombang imigrasi sejak 1930‑an datang dari Kalianda, Banten, Bugis, Batak, hingga Nusa Tenggara. Kehidupan sosial yang heterogen ini membentuk campuran budaya Lampung dan Jawa Serang dan mencerminkan kemampuan masyarakat beradaptasi dengan lingkungan.
Mata pencaharian utama adalah pertanian (kelapa, lada, kopi) dan perikanan, dengan pemanfaatan lahan subur hasil aktivitas vulkanik masa lampau.
Kekayaan geologi di sekitar Sebesi menjadikan pulau ini tempat belajar yang menarik. Wisatawan dapat menyusuri pantai untuk melihat stratifikasi batuan beku dan sedimen, mengikuti jalur pendakian ke puncak pulau, atau mengamati tumbuhnya Anak Krakatau dari menara pandang.
Situs resmi pariwisata Indonesia menjelaskan bahwa Sebesi memiliki luas sekitar 1.600 hektare dan merupakan titik berlabuh bagi wisatawan yang ingin mengamati aktivitas Anak Krakatau secara langsung.
Selain itu, keberadaan aliran air permanen dan lahan subur menghasilkan hamparan kebun kelapa dan lada yang bisa menjadi sarana edukasi agrogeologi. Melalui kunjungan lapangan, wisatawan dapat memahami proses pemulihan ekosistem pascaletusan serta hubungan erat antara geologi, keanekaragaman hayati, dan aktivitas manusia.
Masyarakat dan Kearifan LokalPenduduk Sebesi memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi bencana. Sejarah menunjukkan bahwa setelah Pulau Krakatau runtuh, masyarakat sekitar sempat menuntut agar Sebesi dibuka untuk pertanian; akhirnya pulau ini dioperasikan sebagai perkebunan kelapa oleh pedagang lokal pada awal abad ke‑20.
Para pekerja yang didatangkan dari Banten dan daerah lain kemudian memilih menetap bersama keluarga, sehingga terbentuk komunitas permanen. Migrasi berikutnya terjadi pada masa pendudukan Jepang dan masa krisis ekonomi 1940‑an. Hal ini menyebabkan campuran etnik yang beragam.
Keterbukaan lahan pertanian yang subur menjadi daya tarik utama, sehingga suku Bugis, Batak, Banten dan Nusa Tenggara ikut menetap dan menambah keberagaman budaya.
Kini, meski berasal dari suku dan agama yang berbeda, sekitar 2.795 penduduk hidup harmonis; mereka membangun jejaring sosial melalui musyawarah desa, gotong royong, dan berbagi pengetahuan tentang cuaca, gelombang laut, dan tanda‑tanda alam.
Keseharian masyarakat diisi dengan bertani, menangkap ikan, dan menyambut wisatawan yang datang untuk menikmati keindahan alam.
Saat tsunami 2018 melanda, sebagian masyarakat memilih bertahan untuk menjaga harta benda dan karena keyakinan bahwa letusan Anak Krakatau adalah bagian dari siklus alam. Sikap ini menunjukkan betapa dalamnya hubungan spiritual mereka dengan tanah tempat tinggal, sekaligus pentingnya edukasi kebencanaan yang berkelanjutan.
Peluang Pengembangan GeowisataSebesi memiliki potensi besar sebagai destinasi geowisata edukatif. Pulau ini bukan hanya tempat singgah sebelum menuju Anak Krakatau, melainkan juga pusat pembelajaran geologi dan budaya.
Wisatawan dapat mengikuti kegiatan trekking, snorkeling, atau pengamatan satwa, sambil didampingi pemandu lokal yang berbagi cerita tentang sejarah letusan, migrasi penduduk, dan kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam. Mereka juga dapat mengunjungi kebun kelapa dan lada untuk mempelajari hubungan antara tanah vulkanik serta produktivitas pertanian.
Upaya pengembangan geowisata sebaiknya menempatkan masyarakat sebagai aktor utama. Dengan menyediakan pelatihan pemandu wisata, penguatan literasi digital, dan promosi online, warga dapat meningkatkan nilai ekonomi dari potensi alam tanpa merusak lingkungan.
Strategi pembangunan yang terintegrasi juga perlu memperhatikan aspek mitigasi bencana, misalnya penyediaan jalur evakuasi dan edukasi kebencanaan bagi pengunjung. Karena pulau ini kecil dan berada di dekat gunung api aktif, kapasitas penampungan wisata harus dikelola agar tidak melebihi daya dukung lingkungan.



