Bisnis.com, JAKARTA - Istilah Mens Rea viral karena komika Pandji Pragiwaksono. Tapi, apa arti Mens Rea?
Sebagaimana diketahui, Pandji Pragiwaksono mencatatkan sejarah sebagai komika lokal pertama yang berhasil menayangkan pertunjukan stand-up comedy di Netflix.
Pertunjukan tersebut bahkan langsung menempati posisi nomor satu pada pekan pertama Januari 2026.
Hingga Jumat (9/12/2026), stand up bertajuk Mens Rea itu masih bertahan di puncak kategori TV Shows Netflix Indonesia.
Lewat Mens Rea, Pandji menyuguhkan materi-materi yang berani dan tajam, mengulas budaya hukum di Indonesia serta berbagai absurditas kehidupan sehari-hari dengan gaya stand-up satir khasnya.
Namun tahukah Anda apa arti Mens Rea yang menjadi tajuk pertunjukan Pandji Pragiwaksono?Dilansir dari laman resmi Fakultas Hukum Universitas Cornell, Mens Rea mengacu pada niat kriminal.
Baca Juga
- Pengusutan Pelaporan Pandji Pragiwaksono di Polda Metro Jaya Pakai KUHP Baru
- Siap-siap, Polda Metro Jaya Bakal Jadwalkan Pemeriksaan untuk Pandji
- PBNU juga Bantah Laporkan Pandji ke Polisi, Sebut Humor Adalah Koentji
Terjemahan harfiah dari bahasa Latin adalah "pikiran bersalah". Mens Rea adalah keadaan pikiran yang secara hukum dipersyaratkan untuk menghukum terdakwa tertentu atas kejahatan tertentu.
Menetapkan mens rea seorang pelaku, selain actus reus (unsur fisik kejahatan), biasanya diperlukan untuk membuktikan kesalahan dalam persidangan pidana.
Dengan Kata LainMens rea adalah istilah Latin untuk "niat jahat". Secara umum, ini adalah prinsip hukum yang mensyaratkan seseorang memiliki niat kriminal untuk dinyatakan bersalah atas suatu kejahatan.
Ketika Anda merencanakan pembelaan pidana, mens rea dapat muncul dalam beberapa cara yang berbeda.
Sementara menurut website resmi UNESA, dalam hukum pidana modern, termasuk setelah berlakunya KUHP baru, mens rea menjadi fondasi penting dalam menentukan pertanggungjawaban pidana.
Unsur ini membantu hakim menilai apakah suatu tindakan dilakukan dengan sengaja, karena kelalaian, atau justru tanpa kesadaran sama sekali.
Perbedaan unsur batin inilah yang sering kali menentukan berat ringan sanksi, bahkan menentukan apakah seseorang dapat dipidana atau tidak.




